Di Dunia Batas

Remith G
Chapter #6

Bab VI - Pulang

Langit sore berwarna kelabu keemasan. Jalan setapak menuju lembah itu sunyi, hanya bunyi ranting patah di bawah langkah mereka.

Naya menunduk, merogoh saku celananya. Ia teringat satu surat yang tadi sempat ia selipkan sebelum berangkat — surat yang seolah menunggu untuk dibuka di saat seperti ini.

Kertas itu sudah sedikit kusut, ujungnya lembap oleh embun. Ia membukanya perlahan, seolah takut merusak sesuatu yang rapuh.

Tulisan di dalamnya pudar, tapi masih bisa dibaca. Setiap huruf seperti membawa pulang suara yang lama hilang.

Suara Naya pelan, nyaris berbisik saat membaca:

"Dara, aku rindu.

Kali ini aku pergi terlalu lama… terlalu jauh dari rumah."

Arka berjalan setengah langkah di belakangnya. Ia menatap anak gadisnya dari belakang — terdiam, wajahnya redup. Ada perih di sana, yang tak pernah bisa ia ucapkan.

Naya terus membaca, sampai di bagian akhir. Suaranya pecah.

"Maaf, Dara.

Aku titipkan terlalu banyak beban padamu, bahkan setelah dunia berhenti berputar.

Tapi kalau waktu mengizinkan, dan dunia memberi jalan pulang, aku akan datang.

— Arka."

Tangannya gemetar. Naya menghentikan langkahnya, berbalik menatap Arka dengan mata basah.

"Kau… benar-benar menulis ini semua?" tanyanya tenang, meski jelas ia menahan tangisnya.

Arka terdiam sejenak sebelum menjawab.

"Setiap kali aku berhenti di tempat aman," bisiknya penuh penyesalan. "Tapi tak satu pun sampai padanya."

Hening.

Angin melewati mereka berdua, membawa bau tanah lembap dan dedaunan yang layu.

Naya menunduk, air matanya jatuh di ujung kertas.

Ia sedikit meninggikan suaranya, kali ini suaranya bergetar.

"Kenapa… kenapa tak pulang saja?"

Arka tidak langsung menjawab. Ia menatap jauh ke lembah di bawah sana — dan di balik matanya yang diam, sesuatu mulai bergerak.


Hari itu, hujan terbesar turun sejak dunia kami berubah.

Petir mengguncang langit, menyambar di antara reruntuhan gedung dan tiang logam yang bengkok. Suara angin bersahutan, menggema di antara lembah yang dulu pernah disebut rumah.

"Mira, kita harus pulang! Dara akan segera melahirkan!"

Teriak Arka, suaranya nyaris tenggelam dalam amukan badai.

Mira mengangguk cepat, tangannya sigap menurunkan layar perahu. "Saat kayak gini Mas Sura malah nggak ada…" gumamnya lirih — tapi cukup keras untuk terdengar oleh Arka.

"Aku rasa ini jebakan," katanya pelan. Matanya tidak lepas dari cakrawala yang gelap. "Tapi kita tidak punya pilihan lain."

Badai terus menggila. Petir menyambar di kejauhan. Setelah beberapa jam, angin perlahan mulai mereda. Arka segera menyalakan radio tua di dekat kemudi, mencoba menghubungi Dara.

Sudah lebih dari sebulan ia pergi. Dan beberapa hari terakhir, sinyal radio seperti diganggu seseorang — selalu terputus di tengah panggilan.

Tiba-tiba, perahu mereka terguncang keras. Air menyiprat ke mana-mana. Dari balik kabut tebal, muncul sosok berdiri di atas perahu yang jauh lebih besar.

"Tak perlu repot menghubungi istrimu yang hamil tua itu," suara berat itu terdengar. "Sudah kukabarkan pada mereka bahwa kau hilang terseret ombak."

Sura.

Ia berdiri dengan wajah puas. "Sudah kupastikan anakmu akan lahir tanpa ayahnya," katanya sambil tertawa — tawa yang penuh luka, tapi juga kebencian.

"Mira!" Arka berteriak. "Pergi cari tempat aman! Jangan terlalu jauh dari Rumah Kita — kau harus tetap dekat!"

Mira ragu sesaat, tapi akhirnya mengangguk dan melompat ke sekoci kecil, hanyut bersama ombak yang mulai tenang.

Arka kembali ke radionya. Jemarinya gemetar saat memutar frekuensi.

"Arka! Kau dengar aku? Ini Dara! Tolong jawab, Arka…!"

Suara Dara akhirnya menembus statis. Lirih, panik, penuh cemas.

Arka memejamkan mata. Hatinya mencelos.

Lalu dengan suara nyaris patah, ia berkata,

"Dara… jangan tunggu aku… selamatkan mereka… jaga anak kita…"

"Arka!? Arka, jawab aku!!"

Jerit Dara menggema sesaat sebelum petir menyambar — dan sinyal radio mati seketika.

Itulah terakhir kali Arka mendengar suara istrinya.

Sinyal mati. Dan dunia terasa ikut padam bersamanya.


Cahaya kilat sesaat menerangi wajah Arka yang diam. Ia tertegun, seolah baru kembali dari masa lalu yang tak mau benar-benar pergi. Tatapannya jatuh pada putrinya.


Naya masih memegang surat itu. Jemarinya gemetar halus, matanya menatap lurus pada Arka.

"Jadi selama ini…" suaranya lirih, nyaris patah. "Kau hidup di antara reruntuhan… sementara kami menunggumu di bawah hujan."

Arka menarik napas pelan, menunduk. Saat ia bicara, suaranya hampir seperti gumaman doa.

"Aku lebih memilih terluka… daripada membawa maut ke rumah kalian."

Sunyi.

Naya menutup surat itu dengan hati-hati, lalu menyimpannya di saku celananya. Ia tidak memeluk Arka, tidak juga menjauh.

Tapi ia mulai berjalan lagi.

Dan kali ini, langkahnya selangkah lebih dekat dari Arka dari sebelumnya.


Langit di atas lembah berubah warna — jingga yang pudar menjadi kelabu, lalu perlahan meleleh ke ungu tua. Angin membawa bau tanah basah dan daun terbakar, seolah dunia sedang menahan napas menunggu sesuatu.


Di kejauhan, di antara reruntuhan pohon dan tiang listrik yang miring, tampak papan kayu setengah lapuk dengan tulisan pudar:


“RUMAH KITA — 2 KM.”


Naya menghentikan langkahnya.

Ia menatap papan itu lama. Dua kilometer. Terasa seperti seumur hidup.

Arka berdiri di belakangnya. Napasnya berat, terseret seperti seseorang yang sedang menanggung lebih dari sekadar kelelahan.

Naya menoleh, suaranya lirih tapi mantap.

"…Kita hampir sampai."

Arka terdiam cukup lama, lalu menjawab pelan,

"Ya. Tapi aku tak tahu… apakah aku masih punya tempat di sana."

Angin lewat di antara mereka — dingin, membawa bunyi ranting yang patah

Lihat selengkapnya