Di Zona Lautan, pagi itu langit terlihat berbeda.
Mira berdiri di dek kapal, matanya menyipit ke arah horizon. Asap. Tebal, hitam, mengepul dari arah yang ia hafal betul — arah yang selama dua puluh tahun selalu ia tatap dari kejauhan.
Rumah Kita.
Ia tidak menunggu lebih lama.
“Semua orang!” suaranya memotong udara pagi. “Kita bergerak sekarang.”
Tidak ada yang bertanya. Tidak ada yang ragu. Orang-orang Zona Lautan sudah mengenal Mira cukup lama untuk tahu — kalau ia bicara dengan nada itu, tidak ada waktu untuk pertanyaan.
Mereka bergerak dalam hitungan menit. Membawa apa yang bisa dibawa — peralatan, persediaan, dan tekad yang sudah lama menunggu momen ini.
Mira berjalan di depan, langkahnya cepat, hampir berlari. Di kepalanya hanya satu pikiran — asap itu terlalu tebal untuk sekadar kebakaran biasa. Dan Damar ada di sana.
Bertahan, pikirnya. Tolong bertahan.
Mereka menerobos hutan, menyeberangi jembatan kayu yang sama yang dulu dilalui Naya dan Damar. Asap semakin tebal semakin dekat. Suara teriakan dan benturan mulai terdengar samar dari kejauhan.
Lalu pagar Rumah Kita muncul di hadapan mereka — separuhnya sudah terbakar, separuhnya masih berdiri.
Mira menerobos masuk — dan langsung membeku.
Di tengah halaman, tiga sosok berdiri. Arka. Naya. Dan Dara — rambutnya diterpa angin, tubuhnya menghalangi seseorang di belakangnya.
“Dara—” suaranya memecah udara.
Tapi tidak cukup cepat.
Suara ledakan kecil memecah udara — dan Mira menyaksikan tubuh sahabatnya jatuh ke pelukan Arka.
Di belakangnya, orang-orang Zona Lautan menyerbu masuk — menghalau sisa pasukan Ordo Cakrawala, memadamkan api yang masih berkobar.
Tapi Mira tidak melihat semua itu.
Matanya hanya pada Dara.
Aku terlambat.
Tubuh Dara terbaring tenang di pangkuan Arka.
Matanya tertutup, senyum terakhirnya masih tersisa di bibir — seolah ia pergi sambil membawa ketenangan yang tak dimiliki siapa pun di tempat itu.
Arka menatap wajah itu lama — setiap garis, setiap keriput, setiap sisa waktu yang tak bisa ia kembalikan. Tangannya bergetar saat menyentuh pipinya; dingin, tapi damai.
"Kau tetap menungguku..." bisiknya, "bahkan ketika aku tak pantas ditunggu."
Naya memeluk ibunya, tersedu tanpa suara.
Arka menunduk, menyentuh bahu anaknya dengan lembut. "Kamu harus pergi sekarang, Nay."
Naya menggeleng kuat, menggenggam tangan ibunya erat-erat. "Aku nggak bisa ninggalin Ibu."
Arka menarik napas, matanya berkaca. "Dia nggak akan pergi jauh. Karena setiap langkahmu... akan selalu mengingatkan aku pada dia."
Dengan tangan gemetar, Arka meletakkan tubuh Dara di tanah, menutupnya dengan jaketnya sendiri — satu-satunya perlindungan terakhir yang bisa ia beri.
Di dalam ruang pertemuan, suasana mencekam.
Orang-orang berjejal dalam diam — mendengarkan suara pertempuran di luar yang perlahan mereda. Anak-anak menangis tanpa suara, orang-orang tua berpegangan satu sama lain. Beberapa dari mereka pernah merasakan malam seperti ini dua puluh tahun lalu — tapi sebagian besar belum pernah.
Damar berdiri di tengah ruangan, bahunya masih dibalut, wajahnya pucat. Tapi suaranya tidak gemetar.
“Dengarkan aku.” Ia memotong kebisingan. “Selama kita di sini, kita aman. Mbak Dara sudah memastikan itu.”
Tidak ada yang menjawab. Tapi tidak ada yang panik lagi.
Lalu suara di luar perlahan mereda — teriakan yang semakin jauh, langkah yang mundur. Api yang mulai padam.
Seseorang membuka pintu ruang pertemuan sedikit, mengintip ke luar.