Di Dunia Batas

Remith G
Chapter #8

Epilog

Beberapa hari setelah kabut terakhir sirna dari Rumah Kita, langit pagi terlihat bersih untuk pertama kalinya.

Pagar utama yang terbakar sudah mulai diperbaiki — tangan-tangan dari Rumah Kita dan Zona Lautan bekerja bersama, membangun kembali apa yang sempat hancur. Tidak terburu-buru, tapi tidak berhenti.

Di sudut timur, sebuah ruangan kecil yang dulu dipakai menyimpan peralatan kini dikosongkan. Sura ditahan di sana — bukan dengan rantai, bukan dengan kekerasan. Hanya sebuah pintu yang terkunci, dan dua orang yang bergantian berjaga. Arka yang memutuskan itu. Tidak ada yang membantah.


Anak buahnya tidak ditahan — tapi tidak juga dibebaskan begitu saja. Mereka bekerja: membangun kembali pagar yang mereka bakar, mengolah ladang, merawat ternak. Harian, teratur, diawasi. Beberapa dari mereka melakukannya dengan kepala tertunduk. Beberapa lainnya, perlahan, mulai mendongak.


Mira dan orang-orang Zona Lautan tidak langsung pergi. Mereka tinggal — membantu, belajar, dan perlahan mengisi sudut-sudut Rumah Kita yang selama ini terasa terlalu sepi. Setiap pagi, ada wajah baru yang duduk di meja makan aula. Setiap malam, ada cerita baru yang mengisi udara.

Rumah Kita bukan lagi sekadar zona aman terakhir.

Ia sedang belajar menjadi sesuatu yang lebih besar.

Rumah-rumah kayu yang selamat berdiri di bawah sinar lembut, dan di antara ladang yang mulai hijau kembali, tampak Naya duduk sendirian di tepi pagar kayu bertuliskan BATAS ZONA AMAN.

Di hadapannya, sebuah gundukan tanah kecil dihiasi batu-batu pipih dan bunga liar berwarna putih kekuningan.

Di sampingnya, Arka berdiri diam, kedua tangannya memegang kotak surat yang sudah kusam — kotak yang dulu selalu kembali padanya.

Naya menatapnya. "Ayah… suratnya boleh kubuka sekarang?"

Arka mengangguk. Tangannya gemetar sedikit saat memberikan kotak itu, seolah melepaskan sisa masa lalu yang paling dalam.

Naya membuka tutupnya perlahan. Di dalamnya ada beberapa surat, sebagian lembap, sebagian sudah mulai pudar tintanya.

Ia mengambil satu dengan amplop berwarna krem — surat terakhir yang ditulis Arka untuk Dara, tapi tak pernah terkirim. Kertas itu masih menyimpan aroma debu dan sedikit asap.

Naya membacanya dengan suara lirih.

"Dara,

Lihat selengkapnya