Di Kehidupan Kedua

Quaanra
Chapter #1

Bagian 1

"Sebelum jadi ibu, cita-cita Ibu apa?"

Dara, seorang perempuan muda usia 20 tahunan duduk bersama bersama dengan ibunya, tangan keduanya sedang sibuk membungkus nasi. Diberikan pertanyaan seperti itu ibunya terdiam dan terlihat seperti sedang mencari-cari jawabannya.

"Gak tau ya, tapi Ibuk gak pernah membayangkan bakal jualan nasi katering gini." Ibu dara tertawa hangat, balasan singkat yang terdengar seperti lelucon itu membuat Dara merasa kurang puas dengan jawaban yang diberikan ibunya.

"Kalau gitu Ibuk suka apa dulu? Waktu zaman SMA dulu, Ibuk tertarik sama topik apa?" Pembicaraan ini mulai menggali lebih dalam.

Dara sering bertanya seperti ini kepada ibunya, seluk beluk perjalanan ibunya hingga sampai menjadi pemilik usaha katering ini juga sudah ditanyai secara detail.

Kali ini, Dara menggali tentang impian masa muda Ibunya. "Dulu di SMP karena ibu pintar dan selalu rangking 1 umum, terus ada guru ibu yang menawarkan masuk ke sekolah penerbangan. Katanya diikutkan beasiswa."

Ibunya berhenti bicara, tapi Dara belum puas dengan cerita ini. Yang Dara tau, dulu ibunya sekolah di SMA swasta khusus perempuan. "Terus kenapa gak diambil tawarannya, Buk?" Ibunya hanya membalas pertanyaan Dara dengan tawa kecil. Tidak ada jawaban yang diberikan ibunya atas pertanyaan itu.

Keheningan menyelimuti suasana antara Dara dan Ibunya. Hingga nasi terakhir selesai dibungkus, Dara langsung memasukkan kardus nasi terakhir ke dalam kantong plastik dan mengikatnya dengan rapi. Selesai membungkus nasi, Dara pamit pada ibunya untuk bersiap ke kampus.

"Buk, ini udah selesai. Aku siap-siap pergi kuliah dulu ya." Ibu Dara yang sedang sibuk menulis nota hanya mengangguk setuju. Dara segera ke kamarnya untuk berganti pakaian. Pagi ini, dara bangun lebih awal dan segera pergi ke dapur setelah mandi untuk membantu ibunya.

Dara berganti pakaian dengan cepat, lalu pergi ke kamar sebelah dan membangunkan kakaknya untuk mengantarnya ke kampus. "Kak, antarin Dara ke kampus. Ayo libur kerja gaboleh males bangun-bangun." Dara menarik-narik lengan kakaknya.

"Minta ayah anterin sana, liburan tuh ya tidur sampe besok pagi." Dara menghembuskan napas kasar. Ayahnya sudah melanjutkan tidur kembali setelah tadi pagi mengantar adiknya ke sekolah, mustahil untuk dibangunkan.

"Ayo ihh, bangun. Jangan buat kita berantem pagi-pagi, nanti dimarahin ibuk, kak." Dara merengek sambil terus menggoyangkan tubuh kakaknya.

Kakaknya berjingkat duduk, kemudian tanpa mengucapkan apapun kakak Dara segera menggunakan jaket bertopi untuk menutupi rambutnya yang terlihat seperti sarang burung. "Ayo." Dara langsung keluar dan buru-buru menggunakan sepatunya.

"Ibuk Dara berangkat yaa."

"Iya, hati-hati." Dara tersenyum sambil melambaikan tangannya membalas ucapan ibunya, kemudian segera menyusul kakaknya yang sudah keluar rumah lebih dahulu.

Sepanjang perjalanan menuju kampus, Dara hanya diam sambil melihat pemandangan kota yang menjadi sibuk di jam 7 pagi. Ditengah kebisingan kendaraan, Dara kembali memutar rekaman percakapannya dengan ibunya dirumah tadi. Tentang impian ibunya, apakah ibunya masih terluka atas kesempatan yang hilang itu? Kemudian mengapa ibunya tidak mengambil beasiswanya?

Setelah lama memikirkan hal tersebut, tanpa sadar Dara sudah tiba di kampusnya. Dara turun dari motor dan menyalami kakaknya. Dikampus ini, rutinitas yang dilakukan Dara hanya masuk kelas, menerima pelajaran dari para dosen, kemudian mengerjakan tugas dan pulang.

Lihat selengkapnya