Dara membuka matanya, suara yang ia dengar pertama kali adalah suara burung yang berkicau dan suara berisik ayam dipagi hari. Tunggu dulu, rumah Dara ada di tengah kota. Tetangganya pun tidak ada yang memelihara ayam atau burung.
Dara bahkan baru sadar bahwa ini bukan kamarnya. Dara langsung terduduk, matanya melihat kanan dan kiri. Rumah ini terlihat tua, dengan tembok bambu dan lantai tanah merah yang memadat .
Dara keluar dari kamar asing ini, melihat sekelilingnya. Tidak ada satupun manusia selain dirinya disini. "Halo?" Tidak ada balasan atas sahutan Dara. Suasana di rumah ini terasa agak menyesakkan. Dara memutuskan pergi ke luar rumah, berharap mendapatkan udara segar untuk menghilangkan rasa sesak ini. Namun, bukannya mendapat rasa lega, pemandangan di halaman depan membuatnya sedikit terkejut.
Di halaman rumah ia melihat seorang perempuan sedang sibuk mencuci baju. Tumpukan pakaian yang dia cuci sangat tinggi bahkan lebih tinggi dari ember yang menampungnya.
"Permisi?" Dara berusaha memanggil perempuan itu, berharap ia mendapat sedikit bantuan.
Perempuan itu berbalik. Namun belum sempat menanyakan sesuatu, Dara merasa sesak. Rumah-rumah, pepohonan dan bahkan perempuan yang ia lihat tadi berputar seperti lukisan The Starry Night. Dalam sekejap, Dara merasa terhisap dalam kondisi yang tidak biasa.
Dara membuka matanya lagi. Kali ini pemandangan pertama yang dilihatnya adalah langit-langit kamar yang dihiasi dengan bintang. Ini adalah kamarnya sendiri, lalu apa yang terjadi sebelumnya?
"Dara! Bangun. Hari libur bukan berarti ngorok seharian ya. Keluar kasih makan kucing, bantu masak, atau sapu rumah juga bisa."
Ini ... suara ibunya. Dan benar-benar ibunya ada didepan pintu kamarnya, mengintip kedalam untuk memastikan Dara sudah bangun.
Dara menyingkirkan kertas dan tablet dari dadanya. Ia tertidur setelah mengerjakan tugas semalaman. Dara duduk di atas kasurnya, tubuh dan pikirannya merasa aneh. Namun, hanya beberapa detik setelah terbangun, Dara melupakan sebagian besar mimpi aneh itu. Yang ia ingat terakhir adalah dirinya memanggil seorang perempuan yang sedang mencuci baju. Dara merasa wajah perempuan itu tidak asing, tetapi sangat sulit untuk mengingat wajahnya secara detail.
Dara berusaha mengabaikan keresahannya, ia ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci wajahnya lalu keluar dari kamar.
Dara duduk di meja makan, sambil melihat ibunya yang sedang bekerja. "Iler kamu tuh, berpulau-pulau." Dara buru-buru berkaca, alisnya berkerut mencari 'pulau' yang dimaksud ibunya.
Tidak ada apapun diwajahnya, tapi ia memang mencium bau liur yang mengering. Dara pergi mencuci wajahnya di wastafel.
"Semalam ketiduran buk, habis kerja tugas." Dara kembali ke tempat duduknya, ia melamun sambil mengumpulkan semangat sebelum membantu ibunya.
"Halah, sama aja mau tidur duluan atu tidur larut. Kamu emang susah bangun pagi. Dulu Ibuk tuh paling takut kalau bangun setelah Mbah-mu sudah bangun. Jadi Ibuk bakal bangun pagi siapin sarapan, buatin kopi atau teh, sudah sapu rumah semuanya selesai baru ibuk berangkat sekolah."
Ini adalah wejangan yang paling tidak disukai Dara. Entah mengapa ketika mendengar cerita inspiratif ini Dara merasa segala bantuan yang Dara berikan kepada ibunya menjadi sia-sia. Toh tujuan besar Dara membantu ibunya selama ini adalah agar dia menjadi anak yang disukai dan agar tidak dibandingkan lagi dengan kakaknya.