Di Kehidupan Kedua

Quaanra
Chapter #3

Bagian 3 : Kehidupan Kedua

Dara terbangun, matanya mengedipkan beberapa kali untuk menerima interaksi suara maupun cahaya di sekitarnya. Langit-langit yang terbuat dari genteng merah, suara burung dan ayam yang saling bersahutan. Ini mirip seperti mimpi Dara sebelumnya. Dara berpindah posisi menjadi duduk. Sekelilingnya sama, dinding bambu dan lantai tanah merah yang memadat.

Dara berusaha bangun untuk melihat ke halaman depan, apakah gadis itu juga ada? Dara berjalan perlahan, entah mengapa tubuhnya terasa pegal-pegal seperti ia habis berolahraga seminggu berturut-turut.

Gadis itu ada di halaman depan. Dara mendekatinya sebelum memanggil, berharap ia bisa tahu identitas gadis ini setelah sebelumnya gagal. "Hai! Kamu siapa?" Serius Dara bertanya seperti itu? 'Kamu siapa?' Sepertinya kalimat itu lebih cocok ditujukan kepada Dara karena muncul dari dalam rumah yang sepertinya milik gadis ini.

"Kamu kok keluar dari rumah aku? Kamu siapa?" Benar, gadis ini sudah seharusnya terkejut. "Aku juga gak tau. Ini dimana ya?" Dara menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Suasana canggung ini bisa membunuh Dara.

"Ini di Terung. Kamu dari mana?" Dara mengabaikan jawaban gadis itu. Ia melihat sekeliling, matanya mencari tahu ada dimana mimpinya ini. Pengelihatan Dara berhenti pada sebuah selebaran yang berada pada tumpukan daun kering yang sudah rapi. Dara berlari ke tumpukan daun itu dan melihat selebaran tersebut.

"Pendaftaran sekolah dasar tahun ajaran 1992/1993?" Dara membaca judul utama pada selebaran tersebut. "Ini, ini pendaftarannya kapan?" Dara bertanya pada gadis itu sambil menunjukkan selebaran yang ia lihat.

Gadis itu sedikit memajukan tubuhnya untuk mendekat, tangannya masih sibuk menggosok pakaian yang masih menggunung. "Itu beberapa bulan yang lalu. Kalau gak salah pendaftarannya bulan Mei." Dara bermimpi di masa lalu? Imajinasi Dara sangat baik. Padahal dirinya tidak pernah melihat suasana tahun '92.

"Mbak Mit! Mbak baju aku yang bagus itu mbak cuci?" Seorang perempuan yang berbeda keluar dari rumah itu dan mengacak-acak tumpukan pakaian kotor.

"Nih lagi mbak cuci. Mau kamu pakai ta?" Sepertinya mereka bersaudara dan perempuan yang baru datang ini adalah adiknya.

Perempuan itu terlihat marah, ia mungkin ingin keluar dengan baju yang cantik, tetapi bajunya basah karena sedang dicuci. "Mbak nyuci kok gak bilangin sih. Mau tak pakai ini bajunya!"

Si pencuci pakaian ini menyodorkan baju basah kepada adiknya. "Mbak suruh aku pakai baju basah? Masih berbusa lagi ishh!" Sejujurnya adiknya terlihat berlebihan. Mengapa marah besar seperti itu padahal bajunya dicucikan oleh kakaknya?

"Mbak Mita ngerusak rencana aku aja! Malas ihh!" Adiknya bersiap melempar pakaian basah itu ke wajah gadis pencuci. Dengan sigap Dara menangkap pakaian basah itu.

Dara berencana untuk tidak ikut campur tetapi ini membuat Dara marah. "Hey kamu! Balik sini!" Dara menghampirinya, bersiap mengomeli anak itu.

"Gak tau terimakasih ya kamu. Baju kamu udah dicuciin sama mbakmu, tinggal pakai yang lain susah bener. Minta maaf sana!" Tegas Dara membuat gadis itu tidak merubah wajah marahnya sedikitpun.

Seingat Dara ibunya berkata anak dulu selalu menunduk takut jika dimarahi oleh yang lebih dewasa. "Kamu siapa? Ikut campur banget. Aku laporin ibuku ya nanti!" Gaya bicara adik ini murni dialek Sidoarjo. Terdengar keras seperti dirinya.

Lihat selengkapnya