Di Kehidupan Kedua

Quaanra
Chapter #4

Bagian 4 hal-hal baru

"Kamu Ibuku?" Dara memegangi pipi Ibunya yang kini lebih muda lima atau enam tahun darinya.

Mita, ibu Dara, melepaskan tangan Dara dari wajahnya. Dara terlihat seperti orang gila baginya. "Ibu apanya, aku belum nikah. SMA aja belum!" Dara tersadar kembali.

Dara bodoh! Bagaimana caranya mencari alasan setelah berulang kali memanggil anak kecil ini sebagai Ibunya. "Ahahaha. Bagus gak aktingku?" Dara tertawa canggung. Semoga taktik ini berhasil.

Mita terlihat menarik napas panjang. "Daripada akting begitu buat orang takut mending kamu pulang sana." Mita mempercayai tipuan Dara. Mungkin lebih baik bagi dirinya untuk percaya bahwa Dara sedang bersandiwara, bukan gila.

Dara tidak bergerak di tempatnya iya sibuk melihat wajah muda ibunya. Ini seperti mimpi bahwa dirinya dapat bertemu dengan versi muda ibunya atau sekarang Dara bisa memanggilnya Pramita? "Woi! Jangan gitu mukanya. Aku takut. Kamu kayak orang gila." Ekspresi Dara saat ini memang terlihat seperti penjahat gila. Dara menggelengkan kepalanya cepat, ekspresi wajahnya juga ikut berubah menjadi orang yang normal.

"Pulang? Aku ... gak punya rumah. Aku boleh tinggal disini gak? aku bisa bantu cuci baju atau cuci piring kok!" Permintaan Dara membuat Mita menarik napas panjang untuk kesekian kalinya.

---

"Pia! Pia! Permisi!" Mita berteriak mengarah ke dalam rumah yang pintunya terbuka setengah. Dara di belakangnya berdiri tak bersuara sambil melihat sekeliling rumah tersebut. Rumah yang ini terlihat lebih bagus daripada rumah ibunya. Sepertinya rumah ini baru saja dicat ulang, Dara juga melihat bangku kayu yang tertata rapi di teras rumah.

Tak lama menunggu, seorang gadis yang terlihat seumuran dengan ibunya itu keluar dari rumahnya. "Kenapa Mit? Tumben kamu datang pagi-pagi gini. Udah selesai nyucinya?" Gadis itu berpenampilan sederhana dengan baju kaos dan celana pendek setinggi lutut.

"Udah selesai kok, tapi ini gak aman. Ikut aku sebentar, Pi." Mita menarik tangan teman yang dipanggil Pia itu sedikit menjauh dari rumahnya, Dara bergegas mengikuti mereka dari belakang. "Kamu diam disini."

Dara menghentikan langkahnya tepat setelah Mita memerintahnya. dari kejauhan, Dara melihat keduanya berbincang dengan serius. Beberapa kali keduanya melirik ke arah Dara, Ia menebak mereka sedang membicarakan tentang kemunculannya sebagai seorang gelandangan aneh yang meminta tempat tinggal.

Sambil menunggu keduanya berdiskusi, Dara berkeliling sebentar melihat-lihat rumah jadul yang hanya pernah ia lihat di internet. "Wah, rumah jadul emang nyaman ya. Entah karena rumahnya atau lingkungannya yang minim polusi." Dara duduk bangku yang ada disana. Suasana yang sangat damai ini membuat kerasnya bangku kayu terasa seperti lembutnya sofa di rumah Dara.

Lihat selengkapnya