Di Kehidupan Kedua

Quaanra
Chapter #6

Bagian 6 : Impian Ibu

Dara sedang duduk di ayunan sederhana yang terbuat dari ban bekas. Ia sedang menunggu Mita dan Pia pulang dari sekolah. "Waktu itu, kata Ibuk di kali sekitar kali bisa dapat uang koin yang jatuh." Dara melihat ke arah kali yang airnya sedang dangkal.

Dirinya sedang berdebat apakah ia harus menggali tanah sekitar kali itu untuk menemukan uang. Menjadi gelandangan tanpa uang seperti ini tidak pernah dibayangkan akan terjadi di kehidupan Dara.

"Kali ini saja. Setelah itu aku bakal kerja untuk dapat uang." Dara turun dari ayunannya menuju kali yang dangkal itu.

Dara mengambil sebuah ranting pohon. Ia mengais tanah dengan ranting beberapa kali, ia menemukan sebuah uang 100 perak. Kemudian beberapa saat kemudian ia menemukan uang sebesar 500 perak. Dara tersenyum puas. Bermodalkan 1000 rupiah disini saja ia sudah bisa makan dengan kenyang.

"Dara! Kamu ngapain disana?" Itu suara Pia. Ia meneriaki Dara dari pohon.

Dara berdiri dengan cepat, ia menyembunyikan uang yang ia temukan tadi. Wajah Dara terlihat seperti tertangkap basah sedang mencuri. "Ini ... Tadi, tadi ada keong disini!" Dara mencari alasan yang semoga saja tepat.

Pia dan Mita mengangguk, dari kejauhan mereka memberi isyarat pada Dara untuk naik ke atas. "Kalian udah pulang?" Basa-basi Dara yang tidak jelas.

"Iya, yuk ke pondok! Kita habis panen rambutan banyak mangkanya lama pulangnya. Hahaha." Dara melihat 3 ikat rambutan yang dipanen Dara dan Pia.

"Sebanyak ini gapapa kalian ambil dari sekolah?" Dara tidak mengira rambutannya akan sebanyak ini.

Pia mengambil masing-masing ikatan rambutan tersebut lalu membagikannya kepada kedua temannya. "Gapapa, pohon rambutan di sekolah ini selalu berbuah lebat. Jadi gak masalah diambil banyak. Yang penting dimakan sendiri bukan dijual lagi hahahaha." Dara mengerti. Murah hati sekali sekolah ini, pohon mangga di sekolah Dara dulu tidak boleh disentuh sedikitpun saat musimnya.

"Dar, kamu dapat berapa tadi?" Mita bertanya diikuti dengan senyuman aneh di wajahnya.

"Dapat apa?"

Mita menunjuk kantong di celana Dara. "Tadi di kali dapat berapa?" Dara kita mereka percaya tentang keong tadi.

Dara mengeluarkan uang di kantong celananya. "800 perak." Mita dan Pia bertepuk tangan.

"Kenapa kalian tepuk tangan? Kalian gak benci aku karena mencuri?" Dara menunduk malu. Ia tidak pernah mencari uang sampai seperti ini.

Lihat selengkapnya