"Dah Dara! Besok main lagi yaa!" Pi melambaikan tangannya kepada Dara yang berada di dalam pondok. Ia menutup pintu pondok kemudian berjalan pulang bersama Mita.
"Mit ini bawa rambutanku juga. Adik kamu kan banyak." Pia menyodorkan rambutan miliknya yang tersisa. "Gausah, Pi. Cukup kok buat mereka."
"Yaudah, aku duluan ya. Hati-hati di jalan, Mit!" Pia melambaikan tangannya kepada Mita yang mulai menjauh.
Mita kembali berjalan pulang. Senyumannya tidak hilang sedari tadi membayangkan beasiswa yang ditawarkan oleh gurunya. Dari kejauhan Mita melihat Bapaknya yang sedang memasukkan ayamnya ke dalam kandang dan Ibunya yang sedang memandikan adiknya.
Mita segera berlari pulang ke rumahnya. Ia meletakkan rambutan dan tasnya di teras, kemudian segera menggantikan ibunya untuk memandikan adiknya. "Sini, buk. Aku aja yang mandiin."
Ibu Mita kembali ke dalam rumah setelah pekerjaannya digantikan oleh Mita. "Ya gitu, pulang bantu urus adekmu. Malah keluyuran aja." Sambil berjalan, Ibu Mita berucap dengan dialek khas Surabaya
Mita mengabaikan ibunya, ia memandikan adiknya yang masih bayi dengan lihai. Ia membasuh perlahan mulai dari lengan hingga ke kaki, kemudian ia membasuh kepala adiknya dengan cepat dan mengeringkan adiknya.
Mita membawa adiknya masuk dan mengganti pakaiannya. "Dek, jaga adikmu bentar. Mbak mau ke depan." Mita menitipkan adiknya kepada adiknya, Indah. Ia akan membicarakan tentang beasiswa yang ia dapat.
Bapaknya yang telah selesai memasukkan ayam ke dalam kandang. "Pak, Mita mau ngomong sesuatu." Mita menggenggam selebaran pendaftaran sekolah di tangannya.
"Ngomong apa, Nduk¹?" Mita memberikan selebaran pendaftaran yang ia pegang.
"Mita dapat beasiswa, Pak. Mita mau sekolah disini." Pak Saipul melihat selebaran itu sekilas lalu kembali fokus pada ayam-ayam ya.
"Gausah. Kamu di SMEA² dekat sini aja." Wajah Mita mulai layu.
Mita meraih tangan Bapaknya, "Tapi jurusannya beda, Pak. Mita mau masuk teknik penebangan.” Mita menunjuk selebaran itu, memfokuskan pandangan Bapaknya kepada jurusan yang Mita minati.
Pak Ipul melepas paksa genggaman tangan Mita. "Gausah. Bapak bilang gaboleh ya gaboleh!. Kalau kamu maksa sekolah disana mendingan gausah sekolah sekalian!"
Napas Mita menjadi cepat. Baru kali ini ia meminta sesuatu dari orang tuanya. Mengapa tidak boleh? "Pak! Itu sekolah gratis sudah dibayarin. Kenapa masih gaboleh sih? Aku gak pernah minta apapun Pak!" Mita mengeluarkan amarahnya, ia tidak tahan dengan tekanan ini.
"Berani kamu melawan orangtua ya!" Wajah Pak Ipul terlihat penuh dengan amarah. Mita sudah tidak peduli tentang menjadi anak baik.
Amarah di wajah Mita tidak sejalan dengan air mata yang menumpuk di ujung matanya. "Selama ini aku selalu berusaha jadi yang terbaik disekolah! Aku selalu berusaha dapat beasiswa supaya bisa bayar sekolahku sendiri, Pak!" Mita tidak bisa menahan air matanya. Ia menghapus airmata yang jatuh ke pipinya dengan kasar.