Dara melihat ke cermin sekali lagi. "Gak mungkin aku keluar pakai make-up kayak gini kan?" Dara sedikit merapikan alisnya yang hitam legam dan bibirnya yang sangat merah.
"Untung make-upnya gak waterproof." Dara keluar dari pondok, ia mencuci kembali kain yang telah ia gunakan di empang.
"Oke ayo jalankan misi." Dara mengunci kembali pondoknya, kemudian pergi ke rumah Mita. Kata Mita seharusnya jam segini orangtua Mita sudah bangun.
Benar saja, di halaman rumah Mita terlihat ibunya sedang memandikan seorang bayi dan Pak Ipul sedang memandikan ayam-ayamnya. Dara langsung memasuki halaman rumah Mita. "Buk, anaknya sehat-sehat ya. Nama anaknya siapa buk?" Ibu Mita memandangi Dara dengan serius. "Danang ya namanya?" Ibu Mita sedikit terkejut.
"Kamu siapa, nduk? Kok tau nama anak Ibuk. Temannya Mita?" Ya memang Mita yang memberitahu Dara nama adiknya. Tapi Dara akan berpura-pura tidak mengenal Mita. Mereka bertiga telah menyusun rencana agar Dara terlihat seperti orang pintar.
"Oh sudah biasa itu, Buk. Saya jago soal tebak-tebakan. Nama Ibu, ibu Tatik kan?" Dara menebak sekali lagi. Jika semuanya berjalan sesuai rencana harusnya ini berhasil.
Bu Tatik segera menyudahi memandikan anaknya. Kemudian masuk ke dalam rumah. "Apa gagal ya?" Dara membatin. Ia tersenyum ramah ketika berkontak mata dengan Pak Ipul.
"Selamat pagi, Bapak. Ayamnya sehat-sehat ya Pak." Dara mendekati Pak Ipul yang masih sibuk memandikan ayamnya.
Dara melihat ayam Pak Ipul satu persatu. Ia mencari ayam putih dengan motif garis hitam yang melingkari leher ayam itu. Dara menunjuk ayam yang sedari tadi dicarinya. "Ini nih pasti jagoannya. Ayam bapak yang ini pasti habis menang sabungยน ayam." Kali ini Dara memanfaatkan ingatannya tentang ayam kesayangan kakeknya.
Dara menunjuk ayam lainnya. "Yang ini ayam orang ya Pak? Ini gak bakal diambil lagi sama orangnya, Pak. Nanti pemiliknya kasihkan ayam ini ke bapak." Pak Ipul masih memandikan ayamnya dengan sesekali melirik curiga pada Dara.
"Kamu siapa, nduk? Ngapain mainan ayam disini. Tidak ke sekolah?" Pak Ipul memang orang yang ramah. Namun Dara tidak boleh lupa bahwa ibunya baru saja dibuat menangis oleh lelaki yang akan menjadi kakeknya ini.
Dara tersenyum ramah kembali. "Ndak, Pak. Saya sudah tidak butuh sekolah. Saya sudah jadi utusan keluarga untuk nerusin ilmu leluhur saya." Dara kedengaran sangat meyakinkan disini.