Mita pulang dari pondok Dara. Sesampainya ia dirumah ia mendapati Bapaknya sedang membagikan makanan ringan kepada adik-adiknya. "Habis menang judi lagi ya?" Mita bergumam dalam hati. Ia mendekati Bapak dan adik-adiknya lalu menyalami Bapaknya.
"Kamu gak mau jajan, Mit?" Pak Ipul menawarkan sebungkus makanan ringan kepada Mita.
Mita menggeleng, "masih gondok¹? Gitu aja kok marahnya lama-lama." Mita tidak membalas ucapan Bapaknya. Ia bukan merajuk, Mita hanya tidak mau makan hasil judi.
Mita meletakkan tas sekolahnya di dalam kamar, setelah itu ia mengganti pakaiannya dan pamit untuk pergi berjualan di kios neneknya. "Pulangnya jangan sampai surup²." Pak Ipul memeringati Mita.
Mita berjalan menuju rumah neneknya. Rumah neneknya hanya berjarak sekitar enam rumah dari rumahnya. Biasanya, Mita akan membantu neneknya menjaga kios setiap sore hari, tetapi sejak kedatangan Dara yang tiba-tiba Mita tidak sempat membantu neneknya selama dua hari lamanya.
"Datang juga putu³ cantiknya Mbah." Nenek Mita menyambut cucunya dengan senyuman. Berbeda dengan dirumahnya, ketika bersama neneknya Mita merasa lebih disayangi. Meskipun neneknya tidak pernah memanjakan Mita dengan makanan ataupun mainan, tetapi sikap dan perkataan yang diberikan neneknya sangat membuat Mita nyaman. Terkadang Mita lebih sering menginap di rumah Neneknya daripada tinggal dirumah.
Mita masuk ke dalam kios, ia merapikan barang jualan yang terlihat berbeda sejak terakhir kali ia menjaga kios ini. "Maaf Mbah, dua hari terakhir gabisa bantuin jaga warung. Mita ada halangan dikit."
Mbah Tun, Nenek Mita, mengambil sebuah bantal di sudut kios dan merebahkan tubuhnya. "Ndak apa-apa. Mbah masih bisa jaga warung sendiri. Kamu bisa bantu aja Mbah udah syukur." Mita tersenyum, perkataan Mbah Tun memang tidak pernah membuat dirinya kecewa.
"Ada kabar apa kemarin, Nduk?" Mbah Tun bertanya kepada Mita. Mita terdiam sejenak, haruskah ia menceritakan tentang sekolah impian yang tidak direstui Bapaknya itu?
Mita menarik napas dalam. "Kemarin aku habis berantem sama Bapak." Mita mulai menceritakan perkelahian itu.
"Kok bisa? Ada masalah apa, Mit?"
"Jadi kemarin aku dikasih tahu sama guru di sekolahan, Mbah. Aku dikasih sekolah gratis di sekolah penerbangan. Disitu ada jurusan yang aku suka." Mita menceritakan segalanya. Mulai dari beasiswa yang ia dapat hingga bagaimana ia bisa berakhir berkelahi dengan Bapaknya. Sebelumnya Mita telah memastikan agar Dara tidak ikut serta di dalam ceritanya.
"Begitu toh." Mbah Tun terlihat menggaruk pipinya sekilas.
"Jadi gini, Nduk. Mengejar ilmu itu memang bagus, apalagi dapat kesempatan sekolah gratis ya?" Mita mengangguk lagi.