Di Kehidupan Kedua

Quaanra
Chapter #10

Bagian 10 : Akhir dari kehidupan kedua

"Kalian siap?" Pia bertanya kepada Dara dan Mita. Percobaan kedua ini akan mereka lakukan bersama. Dara sudah siap dengan tampilan bak seorang dukun.

"Aku sih siap aja." Dara membalas dengan semangat. "Kamu, Mit?" Mita terlihat memainkan jemarinya cemas. Ia mengangguk, siap tidak siap ia harus menjalankan rencana ini.

"Ayo, Dar!" Keduanya berjalan menuju rumah Mita. Mereka akan mulai dengan memperkenalkan Dara secara resmi kepada kedua orangtua Mita.

Pak Ipul menatap kedua gadis ini bergantian. Mereka duduk sopan di dalam rumah Mita dan telah memperkenalkan Dara, si dukun. "Kamu orang yang kemarin kan?" Dara mengangguk pelan bak orang bijak.

"Kenapa kamu bawa dia kesini?" Pak Ipul bertanya kepada Mita. "Dia bilang aku punya masa depan yang cerah." Mita menjawab tanpa ekspresi, ia terlihat sedikit menunduk di depan Bapaknya.

Pak Ipul menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan. "Memangnya dia tahu apa soal kehidupan kita? Kenapa kamu asal percaya dengan orang aneh ini?" Dara sedikit melotot dan terkejut disebut sebagai orang aneh. Jadi sesak kemarin Pak Ipul hanya menganggapnya orang aneh?

"Dia tau semuanya. Dia tau nama bapak, nama ibuk, dia tau aku sekolah dimana, bahkan dia tau cerita yang gak pernah aku ceritain ke siapapun. Dia tau banyak hal tentang aku." Mita menjawab Bapaknya dengan yakin. Cerita yang tidak pernah Mita ceritakan kepada siapapun? Itu tentang orang yang ia sukai, hanya Dara dan dirinya yang tau tentang itu.

"Apa yang kamu tau soal masa depan Mita?" Pak Ipul kembali bertanya kepada Dara. Entah apa yang dipikirkan Bapak Mita saat ini, tetapi ia terlalu banyak bertanya.

Dara berdehem, mempersiapkan dialognya yang mungkin akan panjang. "Sekolah yang Mita inginkan akan menjadi sekolah yang terkenal di masa depan. Pun dengan alasan Bapak yang tidak ingin Mita masuk ke jurusan teknik karena dirinya perempuan? Di kemudian hari perempuan bisa menjadi mekanik, perempuan bisa menjadi pemimpin negara, bahkan lebih banyak perempuan yang bekerja dibanding laki-laki." Alis Pak Ipul terlihat lebih tertekan dari sebelumnya.

"Kamu sehebat itu sebagai dukun atau kamu hebat dalam menipu?" Dara menahan dirinya. Amarahnya sedikit terpancing .

"Tidak mungkin saya berbohong, Pak." Gaya bicara Dara memang sangat meyakinkan. Wajah Pak Ipul terlihat lebih santai dari sebelumnya.

"Mita ini anak yang hebat, Pak. Dia tidak akan menyusahkan Bapak. Cobalah bapak percayai dia kali ini saja." Dara meyakinkan Pak Ipul sekali lagi.

"Kenapa kamu mau sekali masuk sekolah itu?" Pak Ipul bertanya kepada Mita sekali lagi. Sepertinya itu lebih kepada gerutuan daripada pertanyaan.

Mita hanya diam. Melihat Mita yang hanya terdiam membuat Dara menyenggolnya memberikan kode untuk menjawab pertanyaan Pak Ipul. Tidak ada respon dari Mita, Dara bersiap untuk menjawabnya.

Lihat selengkapnya