Dara mengikuti Ibunya kesana kemari. Atau bisa dibilang mantan Ibunya? Dara saat ini hanya seperti bayang-bayang. Sebuah memori yang pernah ada dan telah menghilang.
Selama mengikuti Ibunya, Dara melihat banyak perubahan yang sudah ia perbuat pada kehidupan ibunya. Ibunya telah menjadi teknisi pesawat terbang yang profesional, ia bekerja disebuah bandara.
Dara melihat Ibunya yang sibuk mengkoordinasikan pemeriksaan pesawat yang baru saja mendarat. Ibunya memegang sebuah papan dan menandai kertas pemeriksaan pada papan itu dengan teliti. "Ibuk seribu kali lebih keren." Dara mengagumi perubahan ibunya menjadi seorang perempuan yang mewujudkan impiannya.
Jika konsekuensi dari terwujudnya impian Ibunya adalah ia harus pergi dari dunia ini maka Dara tidak masalah. Toh jika sejak awal dirinya tidak ada ia tidak akan punya gambaran tentang kehidupan ini.
Matahari semakin terik, Ibu Dara menepi untuk beristirahat. Sudah tiba pada waktu makan siang, ibunya berganti tugas dengan teknisi lainnya setiap kali ada pesawat yang baru mendarat atau akan terbang.
Ibu Dara mengeluarkan sebuah kotak makan. "Wah masakan Ibuk. Kangen banget ... Udah berapa lama aku gak makan masakan Ibuk ya?" Dara menunggu Ibunya membuka kotak itu, ia tidak sabar dengan menu makan siang yang dipilih Ibunya.
"Gorengan?" Dara terlihat keheranan. "Ibuk kan jago masak, kok milih makan pakai gorengan beli?" Dara melihat dengan teliti gorengan yang dibawa Ibunya. Bentuknya tidak terlihat seenak buatan Ibunya.
"Mbak, dari kemarin makan siang pakai gorengan terus. Gak masak?" Seorang rekan kerja Ibunya datang menghampiri. Ibu Dara menelan terlebih dahulu makanan yang ada di mulutnya.
"Malas masaknya. Dirumah sendirian gak ada yang nemenin aku makan, Mbak." Ibunya tertawa kecil sambil terus menikmati bekal yang dibawanya.
"Cari pasangan atuh, biar ada teman makannya." Rekan Ibu Dara bergurau. Dara ikut mengangguk setuju meskipun tidak ada yang dapat melihatnya. "Sudah tua, mbak. Hidup sendiri saja. Yang penting saya sehat orangtua juga sehat." Dara menyadari sesuatu yang ia rasa berbeda dari Ibunya sejak mereka bertemu. Wajah Ibunya terlihat lebih muram tidak seperti wajah lama Ibunya yang selalu terlihat seperti sedang tersenyum. "Apakah itu karena rasa kesepian?" Dara berucap pada dirinya sendiri.
Sore hari, Ibu Dara telah pulang. Dengan tubuh yang lelah sehabis bekerja, Ibunya pulang kerumah yang sepi dan dingin. "Aku pulang." Ibunya menyapa rumah yang kosong itu.
Dara mengikuti Ibunya kesana kemari merapikan barang-barang yang tadi dibawanya bekerja, mencuci kotak bekalnya dan kemudian duduk bersama di teras rumah.