"Ibuk!"
Ibu Dara telah tersungkur di lantai, wajahnya berkeringat sebesar biji jagung, tangannya terlihat sibuk menepuk-nepuk dadanya seperti berusaha mengeluarkan sesuatu dari sana. Dara sangat panik. Air matanya mulai berjatuhan. Ia tidak bisa melakukan apapun saat ini. Dara hanyalah sebuah bayang-bayang.
Dara sangat berharap salah seorang tantenya menelepon saat ini. Ibunya butuh mereka. Dara mencoba berlari keluar mencari seseorang yang mungkin bisa melihatnya. Sambil terus menangis, Dara berlari kesana kemari mencari bantuan. Semu orang yang Dara temui tidak dapat melihatnya.
"Tolong lihat aku! Bantu Ibuku sekali ini aja!" Dara berteriak putus asa. Ia tidak tau harus berbuat apa sekarang.
Dara berlari kembali kerumah Ibunya. Sesampainya di gerbang ia melihat seorang perempuan di depan pintu rumah. Dara segera mendekatinya. Dia adalah Pia.
Dara sedikit lega hingga saat ia teringat bahwa tidak akan ada yang membukakan pintu. Sebanyak apapun Pia menekan bel itu, pintunya tidak akan terbuka. Dara masuk melihat keadaan Ibunya. Ibu Dara masih meringis kesakitan dan mulai terlihat lemah dan pucat.
"Pia masuk! Sekarang! Mita butuh kamu ayo buka pintunya. Aku mohon Pia!" Dara berlutut. Ia sudah tidak sanggup menopang tubuhnya. Ia memanggil nama Pia berulang kali.
Denting bel terus berbunyi. Dara terus menangis memohon Pia untuk segera masuk dan menolong Ibunya. Ibu Dara semakin melemah. Lama kelamaan, Dara menyadari Ibunya tidak lagi meringis kesakitan.
"Ibuk? Buk!" Dara mencoba menyentuh Ibunya tetapi tidak bisa. Tangannya terus menembus tubuh Ibunya. Dara melihat perut dan dada Ibunya, Ibunya tidak bernapas. Dara melihat kematian Ibunya yang terjadi secara perlahan, tanpa bisa melakukan apapun. Dara merasa dirinya anak yang sangat tidak berguna.
"Buk bangun, aku belum minta maaf ke Ibuk. Jangan tinggalin aku, Buk!" Bahkan saat dirinya telah kehilangan Ibunya pun, ia tidak bisa memeluk ibunya untuk yang terakhir kali. Dara menangis kuat. Jika ada seorang saja yang bisa mendengarnya maka hatinya pun ikut teriris mendengar tangisan Dara.
Di tengah kuatnya suara tangisan Dara dan gemuruh bel rumah yang masih terus berbunyi, dimensi itu terbuka kembali, Dara terpelintir terbawa oleh waktu. Dara membuka matanya. Bangunan beratap seng berkarat dan berdinding kayu. Dara bangun dari tidurnya, ia melihat sekeliling. Ini di pondok. Tangisannya masih tersisa, Dara menghapus air matanya yang tidak berhenti mengalir. Perasaan duka ini terlalu kuat untuk Dara hindari.
Dara memeluk lututnya. Ia menghabiskan seluruh tangisannya saat itu juga. Dalam kesunyian, ia mengeluarkan seluruh rasa sakit melihat Ibunya menghembuskan napas terakhir dalam keadaan yang sepi dan dingin
Dara mengangkat kepalanya, ia seperti menyadari sesuatu. Dara mencari ponselnya, ia melihat tanggal pada layar ponselnya. Tanggalnya masih sama seperti saat Dara tiba pertama kali di tahun 1992. Ia menghapus air mata yang masih tersisa. Kemudian keluar dari pondok itu.
"Permisi ini tanggal berapa ya?" Dara bertanya pada seorang remaja yang lewat dihadapannya.