"Kalian gak ingat aku?" Dara menghapus bekas airmata di pipinya. Ia tiba kembali di Desa Terung, di tahun yang berbeda dan kembali di titik awal dimana tidak ada seorang pun yang mengenalinya.
Dara menarik napasnya dalam. Apa langsung saja ia katakan dirinya dari dunia yang berbeda? "Aku Dara. Dulunya aku anakmu dari masa depan." Mita tidak merespon, ia menatap Dara dari atas kebawah.
"Kamu orang gila?" Mita akhirnya menanggapi ucapan Dara yang mungkin terdengar seperti bualan.
Dara menggelengkan kepalanya kuat. "Salah satu dari kalian sekolah di SMEA 1 Terung? Atau kalian berdua sekolah disana." Pia mengangkat tangannya. "Aku sekolah disana."
Sial, Ibu Dara sudah sekolah di SMA penerbangan. "Kalau begitu kamu di Sekolah penerbangan, jurusan teknik penerbangan?" Mita mengangguk, kini ia menatap Dara dengan penuh curiga.
"Kamu dari masa depan?" Kali ini Pia yang bertanya. Ia belum berubah, masih sangat percaya dengan penjelajah waktu.
Dara terdiam sejenak. "Aku gak tau ini perjalanan waktu atau bukan. Yang pasti aku punya tujuan datang ke tahun '94." Dara mengambil ponsel yang ada di dipan.
"Kalian lihat ini." Dara menunjukkan ponselnya kepada Mita dan Pia. Pergerakan Dara di dunia kedua ini sedikit berbeda.
"Aku sudah pernah ketemu kalian. Dan semuanya aku catat dalam benda ini." Mita mengambil ponsel ditangan Dara ia mengutak-atik tombol di ponsel itu tetapi tidak ada yang berubah.
"Kamu penipu ya?" Mita mengembalikan ponsel Dara. Barusan ponselnya masih bisa menyala, kenapa sekarang tidak bisa?
"Aku gak bohong. Ini tadi bisa nyala!" Dara sedikit panik sambil trus menekan tombol daya pada ponselnya. "Ayo, Pi. Mungkin dia cuma kebetulan ketemu pondok ini." Mita menarik tangan Pia untuk pergi.
Dara kehabisan cara untuk meyakinkan Mita. Cara sebelumnya sudah pasti gagal jika ia gunakan sekarang. Mita sudah lebih dewasa, pemikirannya sudah lebih realistis daripada sebelumnya.
Setelah keluar dari pondok, Pia menahan Mita untuk tidak pergi lebih dulu. "Mit, aku rasa dia gak bohong. Kita gak seterkenal itu sampai orang asing tau dimana tempat kita sekolah."
Mita terlalu realistis untuk memahami konspirasi Pia. "Penjelajah waktu itu cuman ada di komik, Pi. Ayo pulang aja, daripada percaya sama dia mendingan kamu baca aja komik-komik kamu dirumah." Mita menarik kembali tangan Pia meninggalkan Dara di dalam pondok itu, sibuk memikirkan bagaimana cara meyakinkan Mita.
Mita adalah seseorang yang keras kepala. Di pertemuan pertama Dara mungkin sedikit beruntung karena Pia mendukungnya dan Mita sedikit mempercayai perkataannya tentang masa depan. Masa depan? Dara terlihat berpikir keras. Jika Dara menyampaikan sebuah fakta yang hanya diketahui Mita, mungkin dirinya akan mendapat kepercayaan Mita.