Mita mengutak-atik ponsel di tangannya, layar ponsel itu sudah menjadi hitam setelah mendengar suara Mita.
"Smart juga ya. Kamu seperti punya mata dan telinga." Ucapan Dara menarik perhatian Mita.
"Ini kan barangmu, kenapa herang seperti itu?" Mita mengembalikan ponsel itu kepada Dara, kemudian ia melanjutkan kegiatan mencuci pakaian kotornya yang sempat tertunda.
Dara mendekat ke sisi Mita. Memperlihatkan ponselnya lebih dekat. "Dulu aku merasa ponsel ini punya mata dan telinga, dan hari ini aku lihat secara langsung. Kamu juga lihat kan? Layarnya mati setelah kamu berbicara." Dara menjelaskan penemuan barunya tentang ponsel miliknya sendiri.
Mita masih sibuk bergerak mencuci pakaiannya, gerakannya sempat menjadi lebih cepat sebelum ia berhenti mencuci. "Aku masih belum paham kenapa kamu ketemu sama aku dan kenapa kamu ngaku sebagai anakku." Mita mengeluarkan segala perdebatan yang sempat terjadi di kepalanya.
"Karena aku memang anak kamu. Dulunya." Kata terakhir dari kalimat Dara terdengar sangat halus, nyaris tidak terdengar.
Mita mendesah kasar. "Apa maksud 'dulunya'?" Mita mendengar kalimat Dara dengan lengkap. Telinganya sangat tajam rupanya.
Dara mengatupkan bibirnya, bagaimana caranya menjelaskan kejadian tahun lalu kepada Mita. "Jelaskan saja, aku akan coba mengerti." Seperti membaca pikiran Dara, Mita mempersilahkan Dara menceritakan segalanya.
"Tapi ceritanya bakal panjang. Dan mungkin lebih baik kalau gak ada orang lain yang dengar." Mita melihat sekelilingnya. Lingkungan ini memang sepi karena masih pagi hari, tetapi juga sangat terbuka hingga sangat mudah sebuah cerita dapat terbawa angin ke telinga lain.
"Kalau gitu kamu bantu cuci ini, nanti kita ke tempat kemarin aja." Mita mencuci kembali, gerakannya sedikit lebih cepat. Mungkin ia sudah sangat penasaran dengan cerita Dara?
Dara mengangkat lengan bajunya, lalu mulai mengucek baju yang ada di dalam bak besar. "Yang kuat kuceknya, biar ceper bersih!" Mita sudah terdengar seperti ibu-ibu yang cerewet.
Dara mempercepat kucekannya. Ia tetap berusaha mencuci baju-baju yang ada meskipun berulang kali diomeli oleh Mita.
---
"Kamu yakin mau dengar semua cerita aku bisa sampai sini?" Mita mengangguk, pia disebelahnya juga sudah sangat siap mendengarkan cerita Dara.
Dara menggigit bagian dalam bibirnya. Apakah boleh memberikan spoiler kepada Mita? "Tapi ada bagian besar tentang kehidupan kamu. Kamu pernah bilang kalau kamu lebih suka kehidupan yang sifatnya rahasia." Dara akan mencoba jujur tentang apa yang ada dipikirannya. Mita bukan lagi seorang anak SMP.
Mita terlihat berpikir sejenak, "Untuk cerita kehidupanku ... rahasiakan saja, kamu boleh pakai sedikit jika memang dibutuhkan." Sesuai permintaan Mita, Dara mulai bercerita mulai dari awal ia tiba di tahun '92, kemudian dirinya yang kembali ke tahun 2026 dan sampai pada saat ia datang ke tahun '93.