Di Kehidupan Kedua

Quaanra
Chapter #15

Bagian 15 : Pertemuan singkat dengan Ayah

Dara sedang berjalan di sekitar sekolah Mita, sekolah baru Mita letaknya sedikit jauh dari rumah. Dara harus berjalan hampir setengah jam lamanya bersama Mita tadi pagi. Dara melihat sebuah pohon besar di tepi sawah, ia berjalan menuju pohon itu untuk duduk dan menunggu Mita pulang.

Malam sebelumnya, Dara mengatakan pada Mita ia ingin ikut ke sekolahnya. Beruntungnya, ini adalah minggu ujian akhir semester sehingga Mita akan pulang lebih cepat dari biasanya.

Di tengah lamunan Dara di bawah pohon trembesi yang rindang, Dara teringat akan akhir dari kehidupan kedua Ibunya. Apa yang salah dari usahanya sebelumnya sehingga Ibunya masih hidup dalam tekanan? Tapi ... Warna langit dan awan yang terlihat dari celah daun diatasnya terlihat sangat indah.

Dara menutupi wajahnya dengan lengannya. Demi menghindari ingatan yang membuatnya menangis si siang hari, Dara akan mengistirahatkan pikirannya sejenak. Ia menikmati angin yang terasa seperti mengelus rambutnya. Belum sempat tertidur, suara lonceng sekolah yang dipukul membuat Dara berjingkat kaget.

"Sudah pulang ya? Loncengnya disini banget, bikin kaget." Dara mengangkat lengan yang menutupi wajahnya. Ia kembali melihat gambaran alam yang menakjubkan diatasnya.

Dara bangun dari tidurnya, dari posisinya ia bisa melihat banyak anak-anak yang keluar dari gerbang sekolah. Dan kebanyakan dari mereka laki-laki.

"Benar kata kakek, sekolah ini isinya laki-laki semua." Dara melihat kemunculan Mita yang terlihat mencolok diantara para anak lelaki.

Begitu Mita melihatnya, Dara melambaikan tangannya sebagai penanda dimana dirinya berada. Mita berlari kearahnya. "Wah sekolahmu isinya cowok semua, pasti kamu punya pacar ya!" Dara menggoda Mita setibanya ia di hadapan Dara.

Wajah Mita terlihat kesal. "Gak ya! Kenapa semua orang mikir aku punya pacar sih." Dara berdiri, lalu mengibaskan kulit kayu atau rumput yang menempel di bokongnya.

"Sekolahmu isinya laki-laki semua." Mita menghembuskan napas kasar. "Kan bisa berteman, memangnya perempuan dan laki-laki tidak bisa berteman?" Dara menggeleng cepat.

Berdasarkan pengalamannya tidak ada yang lolos dari pertemanan antara laki-laki dan perempuan. Mungkin beberapa bisa menjalani pertemanan itu, tetapi mereka selalu pernah memiliki perasaan yang berbeda yang hanya diketahui oleh Tuhan dan diri mereka sendiri.

Dara dan Mita berjalan beriringan, mereka berjalan pulang dengan berjalan kaki. "Mit, kamu selalu pulang pergi jalan kaki sejauh ini? Kamu gak capek?" Dara bertanya karena mulai merasa lelah meskipun baru seperempat perjalanan pulang.

Mita menggeleng, "Dapatin sekolah ini perlu usaha, masa aku nyerah cuman karena jaraknya jauh?" Dara paham, Mita sempat tidak diizinkan bersekolah disini kan?

Tapi tunggu dulu, jika Mita tidak mengenal Dara, bagaimana ia bisa sekolah disini? Siapa yang membantunya membujuk Pak Ipul yang keras kepala itu? Dara menghentikan langkahnya. "Terus gimana ceritanya kamu bisa diizinin sekolah disini Mit?"

Mita mengedipkan matanya beberapa kali, "Sejujurnya aku sempat lupa kenapa Bapak bisa ngebolehin aku sekolah disini, tapi setelah aku dengar cerita kamu kemarin, aku merasa kejadiannya mirip seperti itu."

Dara terlihat berpikir keras, sistem macam apa yang sedang ia jalani sekarang? Mengapa berantakan seperti ini? Jika benar ini perjalanan waktu, berdasarkan film atau cerita serupa maka seharusnya tidak ada kejanggalan seperti ini.

"Lupakan saja Dar. Itu cuman masalah kecil." Mita menenangkan kerutan di dahi Dara. Mereka melanjutkan perjalanan pulang bersama sambil bercerita.

"Mit, kapan-kapan kita main disana yuk!" Dara menunjuk ke kali samping SMP Mita dulu, mereka kebetulan melewati tempat itu.

Lihat selengkapnya