Di Kehidupan Kedua

Quaanra
Chapter #16

Bagian 16 : Rencana mendadak, kehidupan ketiga

Dara terus menatap sinis kearah Faris. Berbeda dari sebelumnya ketika Dara belum tahu bahwa Faris adalah ayahnya, kini ia tidak bisa tersenyum ramah kepada Faris.

"Tumben mas ngajakin kita jalan ke pasar malam." Pia memecah keheningan. Di dalam mobil ini, Faris membawa Mita, Pia dan Dara. Mereka berencana mengantar Mita bekerja sekaligus berkeliling pasar malam, itu sesuai dengan keinginan Dara.

"Gapapa, sekalian ngantar Mita kerja. Daripada kena ongkos bis?" Baik sekali mantan Ayahnya ini, saat menjadi ayah saja Dara tidak pernah diajak pergi ke pameran.

Dara masih menatap Faris dengan penuh rasa kesal. Beberapa kali Faris menangkapnya dengan tatapan itu tetapi kali ini Dara tidak mengalihkan pandangan, ia malah melotot kepada Faris. "Ada sesuatu di wajahku ya?" Faris bertanya pada Dara, mungkin ia merasa Dara tatapan Dara yang terasa seperti menguliti dirinya.

"Nggak ada kok mas." Mita menjawab, ia melihat wajah Faris dan tidak ada apapun disana.

"Teman kamu itu, daritadi ngeliatin Mas. Jadi Mas kira ada kotoran di muka Mas." Mita melihat kebelakang. Benar saja, bahkan Dara masih menatap tajam Faris, seperti memiliki dendam mendalam.

Mita menepuk paha Dara, "Hush Dar!" Tatapan mata Mita seolah menyuruh Dara untuk berhenti mengintimidasi Faris. Namun, Dara tidak ingin mengikuti kemauan Mita. Kapan lagi ia bisa mengeluarkan rasa emosi kepada ayahnya seperti ini?

Sepanjang perjalanan menuju pasar malam dipenuhi dengan ketegangan antara Dara dan Faris. Bahkan Pia yang biasanya cerewet kali ini ikut terdiam melihat pertarungan solo Dara untuk Faris.

Mobil mereka berhenti tepat di disamping pintu pasar malam."Oke kita sudah sampai." Mereka turun dari mobil, dari pintu masuk, Dara bisa melihat beberapa tempat yang masih bersiap untuk buka.

Dara mengikuti Mita yang berjalan masuk ke area pasar malam. Untuk sampai ke tempat Mita bekerja, mereka melewati beberapa penjual makanan yang semuanya ingin Dara cicipi. "Pi, makanan disini mahal gak ya?" Dara bertanya dengan suara yang pelan kepada Pia. Keterbatasan uang yang ia miliki membuat Dara mengeluarkan kemampuan berhematnya.

"Kalau menurut aku nggak begitu mahal, cuman karena rasanya pengen semua jadi uang kita tetap kurang." Jawaban Pia masuk akal. Dara berpikir sebentar, lalu ia melihat Faris dan Mita yang berjalan di depan mereka.

Dara menepuk tangannya sekali. "Kita minta maaf Faris jajanin kita aja!" Bagi Dara tidak ada salahnya meminta uang jajan pada ayahnya sendiri, toh dia akan menjadi ayahnya juga, mungkin .... "Ih ga sopan, Dar! Kalau ditawarin gapapa, tapi masa kita minta?" Pia langsung mematahkan rencana Dara.

Bisikan mereka yang terlalu kencang itu sampai di telinga Faris. "Iya mas jajanin, tapi kita antar Mita dulu." Kalimat Faris membuat respon yang berbeda antara Dara, Mita dan Pia.

Dara sangat bahagia mendengarnya, ia bahkan mulai tersenyum lebar kepada Faris. Namun, Mita dan Pia dipenuhi dengan rasa sungkan kepada Faris. Memang Dara tidak tahu malu.

"Gausah Mas. Dianterin aja udah syukur bisa hemat ongkos."

Lihat selengkapnya