Dara membuka matanya, napasnya tersengal seperti baru saja terbebas dari tali kekangan leher. Lingkungan disekitarnya terlihat sangat asing. Ia membuka matanya di depan sebuah rumah yang bernuansa lawas. Pintu rumah ini terbuka setengah, Cat temboknya terlihat sudah mengelupas, cat pintu dan kusen jendela pun sudah tampak kehilangan pigmennya.
Dara melihat ke sekelilingnya, rumah lain terlihat lebih modern daripada rumah ini. Diantara semua rumah, rumah ini adalah rumah Ibunya? Dara terdiam sejenak, memikirkan apakah dirinya hanyalah sebuah bayang-bayang di dimensi ini, seperti sebelumnya?
Prang
Dari tempat Dara berdiri, ia mendengar suara benda pecah dari dalam rumah ini, kemudian diikuti oleh suara amarah seorang lelaki. "Kenapa gak ada makanan dirumah!" Teriakan itu samar-samar Dara dengarkan dari pintu depan rumah ini.
Dara mencoba mendekat untuk mendengar lebih jelas. "Kamu memang gak berguna! Sudah tidak bisa jaga anak masih tidak bisa juga mengurus suami!" Sepertinya ada banyak masalah dirumah ini.
Dara mendengar suara barang-barang lain yang sepertinya dibanting. Ia masih memikirkan apakah ia harus masuk ke dalam rumah ini atau mengunggu. Kemudian, suara jeritan seorang perempuan terdengar. Dara mengambil keputusan cepat, ia berlari masuk ke dalam rumah ini dan mencari sumber suara perkelahian itu.
Di dapur, Dara melihat ibunya berdiri menatap suaminya dengan amarah. Lantai dapur sudah berhamburan dengan peralatan dapur dan piring yang pecah. Tak lama Suami Ibu Dara mulai mengangkat sebuah gelas bersiap menambahkan kerusakan di dapur ini.
Dara melihat arah lemparannya, arahnya lurus dengan wajah ibunya. Dengan cepat setelah ia menyadarinya, Dara segera berlari kearah Ibunya. Dara tidak tau apakah dirinya akan jadi tembus pandang lagi atau tidak, refleks tubuh Dara segera membawanya untuk melindungi Ibunya.
Di detik yang sama ketika Dara sampai dihadapan Ibunya, gelas itu berhasil dilemparkan dan pecah. Dara melihat kearah Ibunya dan lelaki kejam itu. Tidak ada yang berubah dari ekspresi mereka. Mereka terlihat tidak menyadari keberadaan Dara.
Sebuah luka goresan muncul di pipi Ibu Dara. Sepertinya itu goresan keramik dari gelas yang pecah tepat di samping wajah Ibunya. Dara mengulurkan tangannya, mencoba menyentuh luka itu. Sama seperti sebelumnya, Dara hanyalah sebuah bayangan.