Dara kembali pada titik awal. Tahun 1992, ia berada di dalam rumah Ibunya. Rumah berdinding bambu dan beralas tanah merah yang memadat. Dara bangkit untuk duduk, matanya menatap kosong kearah tanah, airmatanya terus mengalir. Namun, bagai tidak memiliki jiwa, Dara tidak berekspresi sedikitpun. Beberapa saat terdiam, setelah itu Dara menghapus airmata di wajahnya, ia menarik napas dalam, suara tarikan napas Dara terdengar seperti telah memikul beban yang sangat berat.
"Lupakan semua yang berlalu, kamu belum pulang. Masih ada yang harus kamu selesaikan disini." Dara berbicara pada dirinya sendiri, kedua tangannya masing-masing menepuk lembut puncak kepala dan dadanya. Perlahan, rasa sesak di dadanya berangsur menghilang.
Dengan wajah yang tidak penasaran lagi dengan tempat ini dan tidak memiliki semangat, Dara berjalan keluar rumah, seperti yang seharusnya, ibunya sedang mencuci pakaian di halaman rumah. Kali ini Dara tidak berbasa basi, ia mendekat kearah Ibunya meski ditatap dengan wajah yang penuh curiga.
Ketika Dara melihat ibunya ingin berbicara, ia segera mengarahkan telunjuk ke arah bibirnya, mengisyaratkan Ibunya untuk tidak bersuara. Dara mengeluarkan ponsel di saku bajunya, ia memutar sebuah video yang sebelumnya langsung dipercayai Mita.
"Benda aneh apa ini?" Mita bertanya, kemudian secara otomatis layar ponsel Dara mati. Dara menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celana. Kemudian ia menjelaskan tentang detail ponsel kepada Mita. Dara juga menjelaskan tentang video yang ia perlihatkan kepada Mita sebelumnya.
"Lalu kenapa kamu nunjukin semuanya ke aku?" Ibunya sepertinya masih punya banyak pertanyaan. Dara tidak mau ambil pusing menjelaskan seperti sebelumnya, tugasnya kali ini bukan hanya membantu Ibunya mewujudkan impiannya.
"Aku tau tentang masa depan. Besok kamu bakal ditawarkan beasiswa di SMK penerbangan, kemudian kamu akan menyampaikan itu ke Bapak tapi tidak diizinkan dan aku akan bantu kamu nanti. Aku juga bakal tinggal di pondok rahasia milikmu dan Pia untuk sementara waktu sampai aku kembali." Dara menjelaskan apa yang sebelumnya langsung dipercayai oleh Mita.
Mita mengangguk, wajahnya kebingungan, tetapi ia tidak lagi bertanya. Setelah Dara yakin Mita sudah tidak meragukannya, ia berencana pergi ke pondok. Sebelum Dara pergi menuju pondok, ia meminjam sebuah kertas dan pensil kepada Mita. Dara akan menggambar wajah lelaki kejam yang menikahi Ibunya di masa depan yang tidak bisa Ibunya hindari. Dara akan memburu lelaki itu.
Dalam perjalanan Dara menuju pondok, ia berjalan lurus tanpa mempedulikan orang-orang disekitarnya. Beberapa kali Dara menjawab sarapan para ibu-ibu lebih dahulu dibandingkan sapaan mereka. Selain itu, Dara juga menghindari beberapa rumah, Dara tidak menyapa kembali orang lain yang menyapanya
Sesampainya di pondok, Dara langsung menggambar wajah lelaki itu. Tangannya menggoreskan pensil dengan lincah bagai sedang menjiplak gambar. Dara mengingat setiap detail yang ia lihat dari lelaki itu mulai dari gaya rambut, kerutan, dan tahi lalatnya. Dara menyelesaikan gambarnya dengan cepat, lalu memotret gambar tersebut di ponselnya.