Di Kehidupan Kedua

Quaanra
Chapter #19

Bagian 19 : Titik akhir

Dara berlutut di depan sebuah gundukan tanah. Ini adalah hasil dari kehidupan ke tujuh puluh yang ia jalani, Dara mengusapi tanah yang mulai ditumbuhi dengan rumput-rumput kecil, melihat tangannya yang dihiasi percikan darah itu menembus apapun yang disentuhnya membuat Dara merasa tersiksa. Dimensi ini sangat kejam. Lebih kejam daripada kehidupan pertama Dara. Setidaknya di kehidupan pertama, meskipun dirinya sering terabaikan, ia masih bisa memeluk Ibunya.

Bagi Dara, ini adalah kegagalannya yang paling menyedihkan. Dara terlalu terburu-buru untuk membuka sifat asli Jason kepada Mita. Jason, tanpa disangka-sangka dapat melakukan hal yang lebih keji kepada kekasihnya, Mita.

Di kehidupan ke tujuh puluh, Dara tiba pada tahun 1995, tepat dihari kelulusan Mita. Setelah mengenalkan dirinya dan membaca keadaan, Dara menemukan fakta bahwa Ibunya sempat menjalin hubungan sebagai pacar Jason. Emosinya meledak saat itu, ia menyampaikan tentang sifat asli Jason kepada Mita, tepat dihadapan Jason.

Kepercayaan Mita terhadap Dara membuat Jason murka, kekerasan yang seharusnya dirasakan Mita dalam rumah tangganya tiba lebih cepat karena ucapan Dara. Hari itu, tepat sebelum Dara berpindah ke dimensi ini, Mita tewas akibat perdarahan di kepalanya.

Dara sudah melihat kematian Ibunya berkali-kali. Tetapi kala itu, dia benar-benar ada disana, secara nyata. Dara berulang kali berusaha menolong Mita dari amukan Jason, ia melindungi Mita dari pukulan, namun Jason selalu berhasil menyingkirkannya. Dara ... Benar-benar merasa tidak berguna.

Dara berdiri meninggalkan tempat peristirahatan Mita, matanya yang sedikit lebam mulai mengeluarkan airmata, wajah memarnya yang sebelumnya terlihat datar kini menunjukkan kesedihan yang mendalam. Kali ini, ia bukan hanya menyengsarakan hidup ibunya, tetapi ia mengambil seluruh kehidupan Ibunya.

"Dara, ayo pulang nak. Ibuk cuman butuh kamu kembali." Dara berbalik menatap kembali pemakaman yang kosong. Tidak ada orang disana selain Dara, tapi suara itu terdengar sangat nyata.

Dara meneruskan jalannya, mengabaikan suara yang memanggilnya. Mungkin ia terlalu lelah sampai berhalusinasi.

---

Dara kembali ke tahun 1992, untuk kesekian kalinya. Noda darah di tangannya dan memar yang ada di wajahnya menghilang secara misterius, namun rasa sakit yang Dara rasakan semakin menusuk ke dalam jiwa Dara.

Tubuhnya terasa seperti dicabik-cabik oleh waktu, seiring waktu, wajahnya semakin tak berekspresi. Puluhan peristiwa mengenaskan yang ia saksikan telah membuatnya merasa tidak layak untuk sekedar mengangkat sedikit sudut bibirnya.

Dara duduk cukup lama di dalam rumah ini, ia tidak lagi bergegas keluar dan mengenalkan dirinya kepada Mita. Ia terlalu malu untuk sekedar bertatapan dengan Ibunya.

Lihat selengkapnya