Di Kehidupan Kedua

Quaanra
Chapter #20

Bagian 20 : Kehidupan pertama

Suara monitor memenuhi ruangan, seorang perempuan berusia 40-an terlihat sibuk mengelapi wajah putrinya. Perempuan itu menggunakan pelindung diri, bak seorang petugas medis rumah sakit. Wajahnya terlihat lelah, tetapi penuh harap atas kesembuhan putrinya.

"Dara, ayo pulang nak. Ibuk cuman butuh kamu kembali." Ibu Dara berbicara pada putrinya yang masih setia memejamkan matanya. Berbagai peralatan bantu napas yang terpasang di mulutnya tidak membuat Ibunya menyerah atas kesembuhan putrinya.

Mita menggenggam tangan putrinya dengan erat, ia terus meminta putrinya untuk pulang, seperti sedang merapalkan sebuah mantra. Tak lama, suara monitor bertambah kencang dan keras, Mita dengan cepat bangkit dan memanggil perawat.

Mita mengunggu diluar ruangan ICU, sudah beberapa kali Dara mengalami penurunan kondisi. Ketika Dara berkelahi dengannya dan pergi dari rumah, ia mengalami kecelakaan beruntun. Bus yang membawa Dara pulang ditabrak oleh truk dengan rem blong.

Banyak korban meninggal dari tragedi itu dan Dara menjadi salah satu dari korban kritis. Dara mengalami perdarahan kepala yang cukup parah, operasinya berhasil, tetapi Dara terjebak dalam kondisi koma yang saat ini telah berlangsung tiga bulan, bagi Mita rasanya sudah seperti menunggu ratusan tahun, ditambah lagi dengan kondisinya semakin memburuk.

"Ibu, saya ingin bicara tentang kondisi putri Ibu. Mohon maaf ibu, perkembangannya tidak seperti yang kita harapkan. Beberapa hari lalu, putri Ibu masih memiliki usaha bernapasnya sendiri. Tapi sekarang, paru-parunya semakin melemah. Kami khawatir, dalam waktu dekat, ia mungkin akan bergantung pada alat bantu napas."

Dokter berhenti sejenak, memberi waktu bagi ibu untuk mencerna. "Saya tahu ini bukan kabar yang mudah. Tapi kami akan terus memantau dan melakukan yang terbaik. Apakah Ibu ingin bertanya?" Mita menggeleng, wajahnya terlihat gelisah, ini bukan kabar yang baik. Sebelumnya saat pertama kali alat bantu napas itu digunakan, seorang ibu lain di ICU telah menginformasikan resiko apabila Dara bergantung pada alat itu.

Seperginya dokter dan para perawat, Mita masuk kembali. Ia mengelusi kepala Dara. Tubuh putrinya ini semakin kurus dan terlihat pucat. Jika saja ia mengizinkan Dara pergi bermain hari itu, jika saja dirinya lebih memperhatikan perasaan putrinya, jika saja ... dirinya adalah ibu yang baik. Maka, Dara masih tersenyum ceria dihadapannya, memberikannya berbagai pertanyaan dan duduk disampingnya dengan tatapan penasarannya.

"Maafin Ibuk, Dar. Ibuk gapernah memperhatikan kamu, maaf karena Ibuk gabisa jadi Ibu yang baik untuk kamu." Mita menangis sambil menggenggam erat tangan Dara yang semakin kurus.

"Ayo pulang Dara ... Ibuk belum minta maaf ke kamu, Ibuk masih mau masakin makanan kesukaan kamu, Ibuk masih mau jawab semua pertanyaan kamu, Ibu juga mau ngucapin semua kasih sayang Ibuk, Dar." Airmata Mita terus mengalir tanpa henti, tangannya menggenggam penuh harap agar putrinya terbangun dan memeluknya.

---

"Ibuk? Ibu sayang sama aku? Ibuk serius bahagia dalam hidup Ibuk?" Dara melerai pelukannya dengan ibunya. Tangisan Ibunya berhenti, wajah ibunya terlihat terkejut dan matanya mulai berkaca-kaca.

Lihat selengkapnya