Di Kehidupan Kedua

Quaanra
Chapter #21

Bagian 21 : kehidupan kedelapan puluh satu

Tahun 1992

Setelah Dara dipaksa melihat rekaman kehidupan Ibunya, ia kembali ke titik awal. Dara menjalani kehidupan ke delapan puluh satu ini dengan meminimalkan resiko perubahan dalam hidup ibunya. Dara berpikir bahwa, jika ia ingin kembali, ia harus memperbaiki semua kerusakan yang ia buat. Karena jika ini benar sebuah perjalanan waktu, setidaknya Dara tidak akan melihat Ibunya menderita sekali lagi.

Dara keluar dari rumah ini beberapa saat setelah perkelahian ibunya dan Tante Sari telah usai. Sesampainya di pintu depan, Dara menarik napasnya dalam sebelum melangkah ke halaman rumah. Ia berjalan menuju ibunya yang sedang mencuci pakaian.

"Hai Mita!" Dara menyapa, memperkenalkan dirinya, kemudian memberikan informasi yang dapat meyakinkan Mita bahwa Dara mengetahui masa depan. Dara juga meminta izin kepada Mita untuk tinggal di pondok rahasianya dan Pia.

Mit menyelesaikan cuciannya sebelum membawa Dara menuju pondok. Setelah cucian Mita beres, sambil berjalan, Dara berterimakasih kepada Mita karena telah mempercayainya hampir seratus kali.

Mereka berdua berjalan menuju pondok, Dara melihat kesekitar, suasana di Desa ini tidak berubah. Selebaran pendaftaran sekolah yang Dara lihat di kehidupan kedua, ibu-ibu yang sedang menyapu yang Dara tanyai di kehidupan kedua, dan juga Mita yang berjalan dihadapannya menuju rumah Pia.

Mereka berhenti di depan rumah Pia. Mita seharusnya langsung berteriak memanggil Pia, tetapi kali ini sedikit berbeda. "Tentang ucapan terimakasih kamu tadi. Aku percaya sama kamu karena aku rasa ... ini bukan pertemuan pertama kita." Mit mengakui apa yang ia rasakan.

Perjalanan berulang Dara mungkin telah meninggalkan jejak di waktu ini. "Apa yang kamu lihat saat melihat aku?" Dara bertanya, batinnya dengan penuh harapan memohon agar Mita tidak merasakan kebencian pada dirinya.

Mita terlihat berpikir sejenak. "Aku merasa kamu diselimuti kesedihan dan keputusasaan." Mita terdiam sejenak, terlihat seperti ragu menyampaikan apa yang ada di kepalanya.

"Aku ... kasihan kepadamu." Mita berkata lirih, nyaris tidak terdengar oleh Dara.

"Kamu kasihan sama aku? Kamu gak merasa benci?" Mita menggeleng. Setelah la yang Dara lakukan, bagaimana bisa Ibunya tidak membenci Dara. Sepertinya benar-benar tidak ada sedikitpun kebencian di dalam hati Mita.

Seusai percakapan mereka diakhiri, Mita memanggil nama Pia dan menunggu Pia keluar. "Ada apa, Mit. Pagi-pagi gini." Pia keluar dari rumahnya, dengan pakaian yang sama seperti kehidupan kedua, sebuah kaus dan celana pendek diatas lutut.

Mereka melanjutkan pertemuan mereka dengan perundingan tanpa Dara. Mereka berdua menepi dan membicarakan tentang Dara yang mungkin masih mereka anggap orang aneh.

Dara menunggu, semenit, dua menit, dan hingga kurang lebih empat menit lamanya, mereka kembali dan menyetujui Dara untuk tinggal disana.

Mendengar keputusan itu, Dara mencoba terlihat terkejut dan bersyukur, meskipun Dara telah mengetahui hasil perundingan mereka.

Lihat selengkapnya