Dara tiba di dimensi baru. Berbeda dari kehidupan lainnya, saat ini tubuhnya tidak bisa bergerak, tenggorokannya pun terasa penuh seperti terisi oleh sesuatu. Dara perlahan memberanikan diri membuka matanya.
Ia melihat beberapa orang diluar ruangan berbatas kaca itu sedang sibuk berbincang, beberapa orang juga terlihat berjalan kesana kemari dengan pakaian khas petugas rumah sakit.
Dara tidak bisa menggerakkan lehernya, ia mencoba melirik kesisi kiri, disana terlihat berbagai mesin dan peralatan ada disampingnya. Layar monitor mesin itu bergerak seperti irama jantung.
Dara berganti melirik ke sisi kanan. Sisi ini lebih lega, dengan seseorang perempuan yang sedang menggenggam tangannya dengan erat. Dara mencari cara memanggil perempuan itu, ia tidak bisa berbicara karena selang di dalam mulutnya. Dengan sekuat tenaga, Dara berusaha menggerakkan jemarinya. Hanya mengangkat satu jari, Dara merasa seperti dipaksa mengangkat satu ton balok.
Perempuan itu menoleh ke arah Dara, jari Dara sepertinya telah berhasil ia gerakkan. Dara melihat perempuan itu dengan matanya yang lemah dan sayu, ekspresi terkejut dari perempuan itu terlihat jelas meskipun terhalang oleh sebuah masker. Ia berdiri untuk menekan sebuah tombol diatas kepala Dara secara berulang. Kemudian tak lama, sekitar tiga orang memasuki ruangan Dara.
Tiga orang itu sibuk mengutak atik tubuh Dara, salah satu dari mereka mencubit kuku Dara dan satu lainnya menyenter mata Dara dengan sebuah benda mirip dengan pena. Dan ada juga yang sibuk membuat Dara mengangkat jarinya atau mengedipkan matanya.
Setelah puas memeriksa, ketiga orang itu keluar dari ruangan dan berbincang dengan perempuan yang sebelumnya memegangi tangan Dara. Sepertinya perempuan itu mendengar kabar buruk? Atau baik?
Perempuan itu terlihat menangis, tetapi wajahnya tidak terlihat sedih. Dara ... Sama sekali tidak mengenali perempuan itu. Dara juga tidak ingat apa yang terjadi sebelum ia tiba di tempat ini.
"Sepertinya sebelum ini aku habis bertemu dengan seseorang." Dara berbicara dalam hatinya, ingatan Dara tentang delapan puluh satu kehidupan itu ... menghilang.
---
Dara masih berada di dimensi yang sama. Setelah beberapa hari, Dara dibawa pergi ke ruangan lain, ia tidak membutuhkan alat bantu napas lagi, selang yang menembus tenggorokannya pun dilepaskan. Kemudian digantikan dengan sebuah masker oksigen yang menutupi hidung dan mulut Dara. Perempuan yang pertama kali Dara lihat pun telah memperkenalkan diri sebagai Ibunya.
Dara sering terdiam dan terlihat kebingungan, dirinya masih sedikit asing dengan suasana disekitarnya. Sejauh yang Dara lihat, selain orangtuanya, Dara memiliki dua saudari, satu sahabat dan seorang tante? Yang adalah ibu dari sahabatnya.
"Dara! Buah segar datang!" Reva, seseorang yang mengaku sebagai sahabatnya itu datang membawa sekotak buah potong. Kalimatnya seperti pernah Dara dengar sebelumnya.