Tiga bulan.
Sudah tiga bulan Hanin Claudya bekerja di Mahardana Group.
Selama itu pula, ia hampir tidak pernah memiliki alasan untuk bertemu dengan pria yang namanya terpampang di hampir setiap sudut gedung perusahaan.
Darren Mahardana.
CEO Mahardana Group.
Nama yang cukup untuk membuat para karyawan berbicara dengan nada lebih pelan ketika pria itu berjalan melewati mereka.
Namun bagi Hanin, Darren hanyalah nama seorang atasan tertinggi yang terlalu sibuk untuk memperhatikan pekerjaan seorang Senior Textile Designer.
Dan Hanin menyukai keadaan itu.
Ia datang untuk bekerja.
Bukan untuk mencari perhatian.
Bukan pula untuk mengenal kehidupan pribadi siapa pun.
Terlebih lagi, hidupnya sudah cukup penuh dengan hal-hal yang tidak ingin ia pikirkan.
Pagi itu, ruang Product Development lebih sibuk dari biasanya.
Beberapa lembar kain terbentang di atas meja panjang.
Di sampingnya terdapat berbagai sampel benang, palet warna, kartu tekstur, dan beberapa lembar desain motif.
Hanin berdiri di tengah ruangan sambil memeriksa hasil produksi terbaru.
"Yang ini jangan dikirim."
Seorang staf produksi menoleh.
"Kenapa, Kak?"
"Perubahan warnanya terlalu jauh dari prototype."
Hanin mengambil sampel kain tersebut dan menunjuk bagian tertentu.
"Lihat bagian birunya. Di prototype seharusnya midnight blue, tapi hasil produksinya terlalu terang."
"Kalau diperbaiki, pengirimannya mungkin mundur dua hari."
Hanin menghela napas.
"Lebih baik terlambat dua hari daripada mengirim produk yang tidak sesuai standar."
Ia menyerahkan kembali kain tersebut.
"Hubungi bagian dyeing. Minta mereka ulang."
"Baik."
Hanin kembali ke mejanya.
Di layar komputernya terpampang desain yang telah ia kerjakan selama hampir dua bulan.
Sebuah motif yang terinspirasi dari pola tradisional Asia, tetapi dikembangkan dengan pendekatan modern.
Tidak terlalu ramai.
Tidak terlalu sederhana.
Ia memberi nama koleksi itu:
ECLIPSE HERITAGE.
Koleksi tersebut awalnya hanya sebuah konsep.
Namun kemudian salah satu klien internasional Mahardana Group melihat desain Hanin dan tertarik.
Mereka meminta satu produk khusus.
Kain premium dengan motif eksklusif yang hanya diproduksi dalam jumlah terbatas untuk pasar luar negeri.
Hanin diberi waktu enam minggu.
Ia menyelesaikannya dalam empat minggu.
Dan sejak saat itu, semuanya bergerak lebih cepat dari yang ia bayangkan.
Dua bulan kemudian.
Ruang rapat lantai tiga puluh dua dipenuhi tepuk tangan.
"Kontraknya resmi diperpanjang."
Kepala divisi tersenyum lebar.
"Produk Eclipse Heritage berhasil terjual di atas target."
Beberapa anggota tim bersorak kecil.
Hanin hanya tersenyum.
Ia menatap layar yang menampilkan grafik penjualan.
Angkanya jauh lebih tinggi daripada proyeksi awal.
"Ini kerja tim," katanya.
Maya, rekan kerjanya, langsung menyenggol lengannya.
"Jangan rendah hati terus."
Hanin tertawa.
"Kamu yang dari awal membantu mengurus sampelnya."
"Tapi desainnya punya kamu."
Hanin kembali melihat layar.
Ia tidak pernah mengejar popularitas.
Ia hanya ingin membuat sesuatu yang bisa ia banggakan.
Dan kali ini, hasil kerjanya membawa keuntungan besar bagi perusahaan.
Tanpa Hanin ketahui, laporan penjualan itu pagi tadi telah sampai ke meja CEO.
Lantai empat puluh delapan.
Darren Mahardana duduk di kursi kerjanya.
Di hadapannya terdapat laporan keuangan dan beberapa dokumen kontrak internasional.
Satu nama tertulis di halaman terakhir.
ECLIPSE HERITAGE — HANIN CLAUDYA
Darren membaca laporan tersebut.
Perusahaan mendapatkan keuntungan jauh di atas perkiraan.
Produk itu bahkan membuka peluang kerja sama baru dengan beberapa perusahaan fashion internasional.
"Siapa desainer utamanya?"
Darren mengangkat wajah.
Asistennya yang berdiri di depan meja menjawab,