SERBIA, BEOGRAD.
Hujan turun membasahi jalanan kota Beograd malam itu. Lampu-lampu gedung tinggi memantul di permukaan aspal yang basah, menciptakan suasana dingin yang terasa begitu hidup bagi sebagian orang... namun sepi dan sunyi bagi sebagian lainnya.
Di tengah ramainya kendaraan malam, seorang gadis berhoodie putih kebesaran berdiri di depan sebuah kompleks apartemen mewah, menunduk menatap layar ponselnya.
"Unit 16A..." gumamnya pelan.
Katerina Orlova menghela napas panjang. "Kenapa sih apartemen orang kaya selalu ribet jalannya?!"
Gadis berusia 24 tahun itu menggenggam erat kantong kertas pesanan di tangannya, sesekali meniup rambut panjangnya yang terus tertiup angin malam. Tingginya hanya 165 cm, membuatnya tampak semakin mungil di tengah dinginnya kota ini.
Siapa pun yang melihatnya pasti akan langsung terpaku pada wajahnya. Kulitnya putih bersih dengan semburat merah alami di pipi, sepasang mata bulat indah berwarna hijau zamrud, hidung mancung kecil, dan bibir merah muda yang tak henti bergerak—entah untuk mengeluh atau membalas perkataan orang lain.
Cantik. Terlalu cantik untuk pekerjaan yang sedang ia jalani. Namun Katerina bukan tipe gadis yang suka bergantung pada nama besar keluarganya. Meski mereka cukup berada, rumah itu tak pernah terasa hangat. Ayah dan ibunya terlalu sibuk bertengkar untuk sekadar memperhatikannya.
Katerina memilih hidup lebih bebas daripada terus berdiam di tempat yang terasa seperti medan perang. Itulah sebabnya ia bekerja sambilan sebagai pengantar khusus—bukan pengantar makanan biasa. Kliennya kebanyakan kalangan atas yang menjaga privasi ketat. Bayarannya besar, jam kerjanya fleksibel, dan itulah yang ia sukai.
"Kalau minggu ini aku kerja lebih rajin, mungkin aku bisa ganti laptop lama itu," gumamnya pelan sambil tersenyum tipis.
Pintu apartemen akhirnya terbuka. Seorang pria tua menerima pesanan itu dengan wajah datar. "Terima kasih."
"Sama-sama!" balas Katerina ramah. Pintu tertutup kembali.
Ia segera berbalik, memasukkan kedua tangan ke dalam saku hoodie. "Dingin sekali..." keluhnya pelan.
Langkahnya membawanya ke arah motor kecil putih-biru yang terparkir di pinggir jalan. Jauh dari kata mewah, namun Katerina sangat menyayanginya. "Kalau aku sudah kaya nanti, aku tetap mau pakai motor ini," batinnya sambil mengenakan helm. Saat itu juga, ponselnya kembali berbunyi.
Satu notifikasi masuk.
"Nova prioritetna isporuka."
Katerina mengernyitkan dahi. "Malam-malam begini?!"
Ia segera membuka rincian pesanan itu. Alamat pengambilannya tidak terlalu jauh dari lokasinya sekarang. Namun hal yang membuatnya tertegun adalah nominal bayarannya—sangat besar, bahkan jauh melampaui pesanan mana pun yang pernah ia tangani.
"Orang kaya memang punya kebiasaan aneh..." gumamnya sambil menggeleng pelan. Tanpa berpikir dua kali, Katerina menekan tombol terima.
Ulica Gornja Visedna br. 12 – pukul 22.00 časova.
Jalanan di kawasan elit itu dipenuhi deretan mobil mewah. Gedung-gedung tinggi berdiri tegak dan megah, lampu-lampu di dalamnya masih menyala terang meski waktu hampir menunjuk tengah malam.
Katerina turun dari motornya dan melepas helm. Pandangannya langsung tertuju pada sebuah gedung pencakar langit yang menjulang gagah, dengan logo besar berwarna hitam dan emas terpampang jelas di fasad depannya: NIKOLAJ ROMANOV.
Katerina mengangkat alis perlahan. "Wah..."
Bahkan hanya dari luar, gedung itu sudah memancarkan kemewahan yang tak terbantahkan. Kaca-kaca besar membentang dari lantai hingga langit-langit. Beberapa pria bersetelan jas rapi terlihat keluar-masuk lobi dengan wajah serius. Deretan mobil hitam mewah terparkir rapi di halaman depan.
Katerina menatap pantulan dirinya di permukaan kaca lobi: hoodie putih, celana jeans longgar, sepatu yang sedikit kotor terkena percikan hujan, dan tas pengantar di punggungnya.
"Aku terlihat persis seperti orang yang nyasar," bisiknya sambil tertawa kecil.
Ia melangkah masuk ke dalam lobi dengan santai. Beberapa pegawai yang lewat seketika menoleh ke arahnya—mungkin karena penampilannya terlalu sederhana dibanding suasana di sini.
Seorang resepsionis menyapanya dengan senyum profesional. "Ada yang bisa saya bantu, Nona?"
"Saya datang untuk mengambil pesanan prioritas," jawab Katerina.
Senyum wanita itu sedikit berubah saat melihat kode pesanan yang ditunjukkan Katerina. "Mohon tunggu sebentar ya."
Katerina mengangguk santai sambil memandangi sekeliling. Tempat ini terlalu mewah—lantai marmer hitam yang mengilap, lampu gantung kristal raksasa, dan keheningan yang terasa begitu menekan. Bahkan suara langkah kaki terdengar bergema jelas di ruangan yang luas itu. Ia memperhatikan pegawai yang berjalan terburu-buru sambil membawa tumpukan dokumen.
"Jam segini saja masih sibuk," gumamnya pelan. "Pasti gajinya selangit."
Tak lama kemudian, seorang pria menghampirinya. Tubuhnya tinggi besar, mengenakan setelan jas hitam sempurna dengan raut wajah serius.
"Katerina Orlova?"
Katerina mengangguk kecil. "Iya, benar."
"Saya Maksim Volkov." Pria itu menyodorkan sebuah kotak kecil berwarna hitam pekat. "Pastikan barang ini sampai ke tujuannya malam ini juga."
Katerina menerima kotak itu, lalu menimbang-nimbangnya sejenak. "Isinya bom?"
Maksim seketika terdiam kaku.
Katerina tertawa renyah. "Aku bercanda!"
Maksim terlihat bingung harus merespons bagaimana. Sudah lama ia bekerja di bawah naungan Nikolaj Romanov, namun baru kali ini ia bertemu gadis yang berani bercanda di tempat seperti ini.
"Kendaraan Anda ada di luar?" tanya Maksim kembali serius.
Katerina menunjuk ke arah motor kecilnya. "Itu dia."
Mata Maksim terbelalak sesaat menatap kendaraan itu. "... Anda serius?"
Katerina langsung mengangkat dagunya. "Kenapa?! Apakah motorku merusak harga gedung ini?"
Maksim hampir tertawa, namun segera menahan wajahnya tetap datar. "Bukan begitu maksud saya..."
Katerina mendengus pelan. "Orang-orang kaya memang aneh saja kelakuannya."
Belum sempat Maksim menjawab, suara langkah kaki berat terdengar mendekat dari arah belakang.
Suasana lobi seketika berubah hening total.
Para pegawai langsung menundukkan kepala. Maksim berdiri tegak sebatang kayu.
"Tuan Nikolaj."
Katerina yang mendengar nama itu ikut menoleh. Dan untuk pertama kalinya... matanya menangkap sosok Nikolaj Romanov.
Pria itu tinggi. Sangat tinggi, kira-kira 190 cm. Tubuhnya tegap, terbalut jas hitam mahal yang terlihat seolah dirancang khusus untuk menempel sempurna di badannya. Rambut cokelat gelap mendekati hitam terlihat sedikit berantakan, namun justru menambah karismanya. Tatapan matanya tajam dan dingin—terlalu dingin.