Sebuah rumah dua lantai yang dinding luarnya terbuat dari gelondongan kayu-kayu besar beserta pekarangan luasnya tampak terlihat muram meskipun matahari tengah bersinar hari itu. Rumah yang berada di ujung jalan itu begitu menyendiri, seakan memisahkan diri dari kesibukan warga sekitarnya. Anginnya berhembus sejuk tetapi menebarkan penderitaan. Harum kulit kayu dari sebuah pohon oak tua besar di halaman belakang tidak bisa menutupi bau sengat busuk kematian.
Lantai bawah terdiri dari dua buah kamar besar, satu kamar mandi, satu kamar yang dijadikan gudang dan satu dapur terbuka sekaligus ruang makan yang menjadi satu dengan ruang tengah tempat berkumpul keluarga dengan sebuah pintu sekat dari kaca yang menyambungkan halaman belakang. Semua jendela di lantai bawah diberi teralis dari besi ulir yang indah.
Untuk menuju ke lantai atas, terdapat sebuah tangga kayu panjang dan tinggi yang ujung atasnya muncul di selasar lantai dua menuju dua buah kamar tidur berukuran sedang dan satu kamar mandi. Lantainya terbuat dari kayu parquet yang hangat bila malam tiba, sama seperti di lantai bawah.
Sedang pada halaman belakang rumah tadi terdapat sebuah kolam renang dengan kursi-kursi santai di pinggir kolamnya. Halaman belakang itu juga dikelilingi pagar batu setinggi dada orang dewasa dengan sebuah pohon oak tua berada di luar pagarnya.
Malam itu, seorang pria dewasa tampak berdiri di depan salah satu pintu kamar di lantai atas dengan kepala menunduk. Satu tangannya memegang sebuah kursi kayu dan tangan lainnya tampak bergetar. Perlahan ia membalikkan badan lalu melangkah dengan kepala tertunduk meninggalkan kamar dengan kondisi gelap tanpa lampu. Di dalam kamar itu tampak sesosok tubuh anak kecil dengan leher tergantung dan berayun.
Pria itu melangkah di sepanjang selasar sambil menyeret kursi kayu lalu berhenti di kamar kedua dekat tangga turun. Ia mematikan lampu kamar tersebut untuk melanjutkan langkahnya lagi, di dalam kamar itu juga tampak tubuh dengan leher yang tergantung dalam gelap.
Ia menuruni tangga sambil terus menyeret kursi kayu tersebut. Terus berjalan dengan kepala tertunduk, melewati kamar dan kamar gudang di lantai bawah yang pintunya terbuka menampakkan tubuh-tubuh kaku dengan leher tergantung hingga ia sampai di ruang tengah. Ia meletakkan kursi kayu itu di bawah sebuah tali. Menaikki dan berdiri di atas kursi kayu tersebut. Mengikatkan tali pada lehernya lalu menendang kursi kayu itu hingga jatuh berguling.
Tubuh itu pun menggelepar-gelepar bersamaan di luar sana terdengar teriakan orang-orang bersorak, “Happy new year! Selamat tahun baru!” Disusul dengan suara kembang api yang pecah di langit malam. Di luar rumah itu tampak meriah dengan warna-warni cahaya kembang api yang berpendar terang sedang di dalamnya tampak kesuraman yang gelap.