Arnold tertegun karena di kursi itu tampak kosong tidak ada siapa pun. Dalam gelap, pikiran memang bisa mempermainkan kita. Pasti tadi gue salah lihat! batin Arnold.
“Arnold! Nyalakan lampu-lampu kamar atas juga lampu kamar mandi!” teriak Clara dari bawah. “Ok Mah!” jawab Arnold menyalakan lampu kamar adiknya lalu menyalakan lampu kamarnya tanpa melihat ke dalam, untuk terus menuju kamar mandi menyalakan lampunya juga. Setelah itu ia turun untuk bergabung dengan keluarganya yang telah bersiap makan malam.
Mereka telah duduk bersama di meja makan. “Apakah semua lampu sudah dinyalakan?” tanya Clara pada semua orang. “Astaga! Gudang belum!” kata David. Clara geleng-geleng, “Ingat pesan Pak Sugih, nyalakan lampu ketika gelap datang.” David nyengir, “Sori Mah, aku lupa … kalian mulai makan saja, Papah mau nyalain lampu gudang dulu ….”
David pun berjalan seiring semua orang memulai makan malam mereka. Sebuah pintu yang berada dekat dapur dibukanya. Tampaklah sebuah ruangan seukuran kamar yang dipenuhi tumpukan barang beragam dan sebuah rak barang yang dipenuhi macam-macam benda serta sesuatu berwarna hitam berdiri di sudut dinding yang gelap. David mengira itu hanyalah sebuah tongkat pel yang disandarkan di dinding, ia lalu menyalakan lampunya.
Ruang gudang menyala. David melangkah masuk tak menyadari sesuatu yang berwarna hitam itu sudah tak tampak. Ia melihat-lihat isi gudang kecil tersebut dan mengambil secara acak sebuah kotak kecil berwarna kuning terbuat dari kayu yang dekat darinya. Membuka tutupnya dan melihat di dalam kotak tersebut tampak foto-foto lama.
David tak mengenali satu pun orang-orang di dalam foto tersebut. Hanya foto-foto sebuah keluarga; ayah, ibu, kakek, nenek dan dua anak yang sebaya dengan anak-anaknya. Mungkin ini foto keluarga Pak Sugih, duga David dalam hati. Ia meletakkan kembali kotak kayu tersebut di rak lalu berjalan keluar.
Dan ia baru menyadari, kalau tadi ada sesuatu berwarna hitam yang dikiranya tongkat pel tapi sudah tidak ada. David mengerutkan kening menatap dinding yang kosong itu lalu tak ambil pusing. Ia melangkah keluar gudang, menutup pintunya. David pun bergabung kembali dengan keluarganya yang masih menyantap makan malam.
***