DI MALAM TAHUN BARU

ken fauzy
Chapter #7

SATU KELUARGA GANTUNG DIRI

Amanda terbangun dari sofa. “Ada apa Mah?” tanyanya kaget. “Kenapa Mah?” tanya David yang baru datang dari halaman belakang. “Engga, engga apa-apa, mangkuk ini tadi kesengol trus jatuh, Mamah jadi kaget,” jelas Clara. David menghela nafas. “Syukurlah, Pah kira kamu jatuh atau kena pisau.”

Amanda berdiri menatap mamanya lalu menunjuk. “Pipi Mamah berdarah,” ucapnya. David terkejut. Clara menyentuh pipinya dan mengaduh sakit. “Sepertinya ada pecahan dari mangkuk itu yang terlontar saat jatuh dan menggores pipimu Mah,” kata David memeriksa pipi istrinya. Tampak goresan sekitar dua senti di pipinya. David mengambil obat merah dari lemari di dapur dan mengobati luka gores di pipi istrinya itu. Amanda memperhatikan mangkuk yang pecah lalu menatap luka mamanya.

“Pah, tadi Mama sudah ngingetin untuk pasang tenda belum?” tanya Clara. “Udah, ini aku mau ambil tendanya di gudang, kata Pak Sugih ada tenda yang bisa dipake di gudang,” jawab David. Clara memeriksa lukanya setelah diobati. “Untung kecil, kalau goresnya besar, kamu harus ngeluarin biaya operasi plastik nih Pah,” canda Clara. David tertawa. “Aku ambil tenda dulu Mah.” Clara mengangguk dan di belakangnya pada pojok dapur yang gelap, berdiri samar sosok perempuan berambut panjang berwajah pucat dengan bola mata hitam semua, bibirnya tersenyum menyeringai.

Amanda menyusul David yang berada di dalam kamar gudang. “Pah, luka di pipi mamah itu bukan dari pecahan mangkuk,” kata Amanda dari pintu. “Lalu kalau bukan dari pecahan mangkuk, dari mana luka itu?” bingung David seraya mencari-cari tenda. “Ada yang janggal di rumah ini Pah, dan sepertinya entitas di rumah ini ingin menunjukkan keberadaannya!” kata Amanda.

David menemukan tenda itu lalu menatap Amanda. “Maksudmu, ada setan yang cakar pipi mamahmu?” Amanda mengangguk. David menghela nafas, “Manda, sudah jelas luka itu dari pecahan mangkuk.”

“Pah, tahu ga? Ini tuh seperti di film-film atau di cerita-cerita horor, ada seorang anak yang lihat hantu tapi semua orang ga percaya, nanti akhirnya hantu itu meneror semua, baru deh mereka percaya … nah aku tuh ga mau terlambat seperti itu,” beber Amanda, “jadi aku mohon percaya sama aku Pah dan kita pergi dari rumah ini sekarang!”

David terdiam sesaat lalu tertawa. “Betul kata Arnold kamu terlalu banyak nonton horor di Youtube, sehingga pola pikirmu terpengaruh.” David mengacak-ngacak rambut Amanda lalu pergi membawa tenda tersebut.

Amanda menjadi kesal. Ia harus bercerita pada siapa lagi sekarang? Ia menatap mamah dan neneknya yang sibuk di dapur, kalau ia bercerita pada mereka, ia pasti tak akan didengar. Pada kakeknya? Kakeknya sama seperti papahnya. Pada Arnold? Ia akan menjadi bahan tertawaan kakaknya. “Hiiiih.” Amanda gemas sendiri.

 

***

 

Lihat selengkapnya