Mau tidak mau Fira harus berterus terang kepada ibunya. Dia tidak mau susah payah mereka alasan untuk menutupi masalah yang sebenarnya terjadi.
“Fira dituduh jahatin Jesika, Buk. Fira nggak nyaman jika sekamar terus sama dia. Suasana hati mbak jadi nggak baik. Sebulan terakhir ini mbak lebih sering ngungsi di kamar Mentari dan gara-gara itu kami dikira membuat geng, Buk. Kalau masih sekamar sama Jesika, rasanya mbak nggak bisa belajar dengan maksimal. Mbak takut akademik mbak jadi menurun. Nanti malah berimbas ke beasiswa mbak lagi. Nggak pa pa ya, Buk, mbak pindah saja. Nanti mbak cari kos yang murah kok, yang kamar mandi luar nggak pa pa. Mbak juga masih punya simpanan uang beasiswa kalau ibuk belum ada uang.” Fira meluapkan semua yang dia rasakan ke ibunya. Dia berharap ibunya bisa mengerti.
“Yaudah, Mbak. Ibu ngikut pengennya mbak saja kayak gimana. Yang penting bagi ibu, Mbak sehat-sehat di sana, kalau bisa jangan sampai punya musuh ya, Mbak. Ibu tahu mbak anak yang baik. Pasti juga berat buat mbak melalui masalah ini, tapi ibu tahu mbak kuat. Sikap buruk orang lain jangan membuat kita jadi bertindak yang sama ya mbak. Kalau kita membalas buruk juga, lalu apa bedanya kita sama mereka?”
“Iya, Buk. Mbak paham kok. Makasih ya, Buk, udah ngertiin mbak.”
“Itu memang sudah tugas ibu, Nduk. Pokoknya mbak harus seneng ya, Nduk. Jangan terlalu dipikir. Jangan lupa makan. Ini adek mau ngomong sama mbak katanya.”
“Hallo, Mbak... Kapan Mbak pulang? Adek sudah kangen nih sama galaknya mbak pas ngajarin adek belajar hehe...”
“Iya, nanti kalau Mbak sudah ada waktu agak senggang Mbak pulang ya. Adek belajar yang rajin. Jangan bertengkar terus kalau di sekolah! Sekolah kok hobi berantem, Dek, Dek.”
“Cowok itu memang harus gitu, Mbak. Lagian mereka cari gara-gara kok, Mbak. Masak kalah main sepak bola nggak terima, kan aneh. Kalah ya kalah aja, ya kan, Buk?” Adek Fira satu-satunya, karena mereka memang hanya dua bersaudara, meminta pembelaan dari ibunya. Ekspresi mukanya sangat menggemaskan.
“Hahaha...” Tawa mereka pecah karena kepolosan adek Fira yang masih duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar itu.
“Udah dulu ya, mbak masih di kampus nih. Mau pulang ke kos dulu mau mandi.”
“Oke, Mbak. Buruan mandi biar baunya nggak sampek sini!”
“Dasar bocah tukang usil... Awas saja kalau mbak pulang ya! Da... Assalamualaikum...”
Kelakuan adiknya membuat suasana hati Fira sedikit membaik. Suara adzan isya’ membuatnya segera bergegas mengendarai motor metik hitam yang menjadi teman setia mengantarkannya ke mana saja sejak masa putih abu-abu.
***
“Semoga nggak papasan ibu kos lagi, aamiin....” Harap Fira seturunnya dari motor. Ketika masuk rumah, kosong tidak ada orang. “Huh, aman...”
Dia bergegas melewati ruang depan agar tidak berpapasan lagi seperti tadi pagi. Kamar kos memang di lantai atas, sedangkan lantai bawah di huni oleh ibu kos beserta suaminya dan warung makan yang tembus ke ruang tamu. Fyi, ibu kos ini belum memiliki keturunan di usia pernikahannya yang sudah delapan tahun. Makanya dia membuka kos biar suasana rumahnya tidak sepi kalau suaminya pergi tugas. Maklum saja, suaminya seorang angkatan laut.
Fira masuk kamarnya tanpa memedulikan keberadaan Jesika yang sedang bermain ponsel sambil tiduran di atas kasur. Dia juga tidak peduli dengan bentuk kamarnya kali ini. Dia hanya ingin mengambil baju gantinya saja. Lalu, segera berjalan ke kamar Mentari dengan tas yang masih digendongnya. Tanpa mengetok pintu, Fira langsung membuka pintu dan masuk ke kamar sahabatnya. Mentari juga tidak keberatan dengan kebiasaan Fira karena keduanya sudah sangat dekat. Tidak heran jika mereka dianggap membuat geng.
“Sudah pulang, Buk? Mandi sono! Bau nih. Euh...” Mentari menutup hidungnya seolah mencium bau busuk sungguhan.
“Rese ya Anda. Nggak lihat apa sudah bawa baju ganti gini! Kamu tuh kayak adekku tau nggak.”
“Aduh makasih lho ya, gue emang masih imut beuttt.” Mentari memasang wajah seimut yang dia bisa, lalu tertawa.
“Azahzahzah, ngacok. Nih nasi goreng sama es jeruk. Aku tahu pasti kamu belum makan. Betapa baiknya aku ni ya sebagai teman hmmm....” Fira memuji diri sendiri sambil memberikan kresek hitam yang berisi makanan ke Mentari. Lalu dia meletakkan tasnya di samping meja belajar kecil dekat kasur. Di dalam kamar mandinya Mentari sudah ada handuk beserta seperangkat alat mandinya Fira karena akhir-akhir ini dia selalu mandi di kamar Mentari.
***
Buku-buku sudah dimasukkan ke dalam kardus bekas kemasan air minum. Pakaian di dalam almari juga mulai dimasukkan ke dalam koper. Hari ini, Fira memutuskan untuk benar-benar pindah dari kos yang dihuninya. Dia memang memilih waktu siang ini ketika teman sekamarnya tidak ada di kos supaya dia lebih leluasa dan nyaman dalam mengemasi barangnya. Melihat kamar yang terbuka dengan kesibukan yang dilakukan Fira, Mentari yang baru pulang dari kampus menghampirinya.