Mentari baru saja hendak naik tangga ketika ada tukang pengantar paket mengetok pintu depan. Mau tidak mau dia harus kembali ke luar karena tidak ada orang lain di bawah. Ibu kos sedang pergi entah ke mana.
“Dengan mbak siapa?” Tukang paket memberikan barang dan mengetikkan sesuatu di ponselnya.
“Mentari, Pak.”
“Oke, makasih ya, Mbak.”
“Yoi, Pak, sama-sama.”
Mentari kembali menutup pintu rumah dan naik ke lantai dua. Sebelum ke kamarnya, dia mengantarkan paket yang diterimanya terlebih dulu.
“Dok, dok, dok... Jes, ada paket nih buat Lo.”
Terdengar suara yang tidak begitu keras dari dalam mempersilakan dia masuk. Melihat bibir temannya yang pucat dan mata belo yang terlihat makin sayu, Mentari menaruh perhatiannya. “Lo sakit? Mau gue anterin berobat nggak?” Mentari meletakkan paketnya di atas lemari pakaian yang tingginya sedada.
“Nggak usah, nanti juga baikan sendiri.” Jawab Jesika acuh tak acuh menandakan dia tidak membutuhkan bantuan Mentari.
“Okedeh kalau gitu. Nggak mau gue beliin makanan atau apa gitu?”
“Nggak usah.” Jesika menjawab dengan lemah dan tak berdaya, tapi tetap menyebalkan untuk didengar orang yang berniat membantunya.
“Yaudah gue balik kamar. Kalau Lo butuh apa kek gitu tinggal chat gue aja ya.” Mentari menutup pintu kamar Jesika untuk beristirahat ke kamarnya.
Baru bersantai sebentar dia teringat rendaman pakaian yang belum sempat dicucinya tadi pagi. Dengan segera dia mencuci sekalian mandi. “Dasar pelupa! Hadeh...!” Mentari menyalahkan dirinya sendiri. Kebiasaan lupa yang dimilikinya seringkali membuatnya kesal sendiri. Entah mengapa, dia begitu pelupa untuk hal-hal sepel, tapi sangat detail ingatannya pada momen-momen yang dilaluinya. Sembari menunggu rendaman pakaiannya di air pewangi, dia salat magrib terlebih dulu karena adzan sudah berkumandang ketika dia masih mandi.
Dia berdoa dengan sangat khidmat sampai membuat matanya berkaca-kaca. Entah doa apa yang sedang dipanjatkannya. Semoga saja Tuhan mengabulkannya.
Baru keluar kamar hendak naik ke lantai tiga khusus untuk menjemur baju, Mentari berpapasan dengan Reina yang wajahnya menampakkan kelelahan. “Eh Rei, itu muka apa jemuran baju? Kusut amat kayaknya hahaha... Canda ya Rei, ntar dikira serius ngeledekin lagi.”
Mentari membercandai Reina supaya hubungan mereka menjadi lebih cair karena peristiwa tiga hari yang lalu. Mentari kalau marah pasti langsung ngegas, tapi habis itu ya berlalu begitu saja. Selanjutnya, dia akan kembali bersikap normal seperti biasanya. Begitu pula dengan adu argumennya sama Reina malam itu.
Reina tidak marah karena dia tahu Mentari tidak memiliki maksud buruk. “Iya, capek banget tahu dari pagi sampai gelap, huh...” Reina terus berjalan dengan gontai menuju kamarnya. Sementara itu, Mentari melanjutkan kegiatannya menjemur baju sambil bersenandung lagunya Tulus, “Manusia manusia kuat, itu kita... jiwa-jiwa yang kuat itu kita...”