Suaka sudah tahu hubungan antara Mentari dan Jesika kurang baik. Hal itu diketahuinya dari cerita Jesika. Hampir setiap hari Jesika berkirim pesan kepada Suaka untuk bercerita semua yang ingin diceritakannya, termasuk kejahatan Mentari kepadanya. Bahkan, Jesika tidak segan-segan menelepon lelaki berambut cepak dengan hidung mancung dan rahang yang tampak tegas itu. Dengan alasan tidak enak hati, Suaka juga membalas dan terkadang juga menerima telepon dari Jesika karena dia adalah orang yang dipercaya oleh orang tua Jesika untuk menjaga anaknya di tanah perantauan. Namun, karena Suaka mengenal keduanya dan justru lebih mengenal dekat Mentari, dia tahu bahwa apa yang dikatakan Jesika tentang kejelekan Mentari tidak benar. Bahkan, bisa dipastikan sembilan puluh persen cerita-cerita itu dibumbuhi sendiri sama Jesika.
“Andai Lo tahu ya Jes, kayak gini nih sebenarnya orang yang Lo anggap seperti kakak kandung Lo sendiri. Dia itu nggak nganggep Lo lebih dari adik tingkatnya doang. Kasian gue Jes sama Lo, tapi kalau gue kasih tahu yang sebenarnya pasti gue kena lagi. Seratus persen gue yakin, Lo justru bakal ngira kalau gue yang ngehasut Mas Suaka buat ngejauh dari Lo” Sambil terus nyerocos Mentari mengetikkan pesan balasan. *Kan situ yang masnya, tolong dong diurus adiknya, kasian lagi atit.*
*Hahaha, kamu kan satu kosan. Yang baik dong, Ri sama temannya.*
*Biarin, gue emang jahat. Persis yang diceritain dia ke Lo kan? Gue tahu lagi.* Meskipun Suaka tidak pernah bercerita tentang Jesika yang sering sekali menjelekkannya, Mentari tahu betul perihal itu karena dia pernah tidak sengaja membaca pesan Jesika yang masuk ke ponsel Suaka saat mereka makan berdua. Suaka memang suka meminjamkan ponselnya ke Mentari. Bahkan, terkadang Suaka memintanya untuk membalaskan pesan yang masuk saat dia sedang sibuk dengan hal lain.
*Hahaha ya gitulah.*
“Ya Tuhan, ini baru satu orang yang untungnya udah ngerti gimana yang sebenarnya. Lhah orang-orang yang nggak tahu kan pasti ngiranya gue jahat beneran, haduhhhh, bodo amatlah. Stress gue lama-lama kalau mikirin begituan mulu.”
Mentari meletakkan ponselnya. Dia sudah tidak berselera lagi bermain ponsel. Pagi hari yang semestinya menjadi waktu santai dan menyenangkan untuknya, kini justru menjadi menyebalkan dan mengganggu pikirannya.
*Ri, are u ok?* Mentari melirik sekilas pesan baru yang masuk dari Fira. Dia tahu sahabatnya itu ingin menghibur sekaligus memberikan ruang untuknya bercerita. Akan tetapi, dia enggan untuk membalasnya karena dia sudah terlampau muak dengan sikap Jesika selama ini kepadanya. “Ada ya orang kayak gitu, huh....” Lagi-lagi Mentari bergumam pada dirinya sendiri. “Astaughfirullah...” Mentari mencoba meredakan emosinya.
***
Jesika berdandan rapi sore ini. Dia menyisir rambutnya yang lurus sepunggung, lalu mencepolnya. Meski tidak mengenakan make up seperti biasanya, dia mengenakan pakaian yang trendi dengan hijab ala anak-anak hits zaman sekarang. Sebentar lagi Jesika akan dijemput oleh ketua organisasi daerah yang bisa dibilang tidak ganteng, tapi dia cukup berkarisma. Lelaki yang tingginya 165 sentimeter tersebut akan mengantarkan Jesika pergi berobat. Tentu saja, Jesika tidak ingin terlihat buruk di hadapan Bima, sekalipun dia dalam kondisi tidak sehat.
*Aku udah di depan, Jes* Bima mengirimkan pesan wa ke Jesika. Ruang obrolan itu terlihat kosong, menandakan mereka tidak pernah saling mengontak sebelumnya.
Terdengar suara derum motor mendekat ke arah Bima dan berhenti tepat di samping lelaki itu. “Oey, ngapain Lo di sini?” Sapa Mentari dari atas motor. Dia menepuk pundak Bima karena mereka sangat mengenal dekat satu sama lain. Mentari merupakan bendahara ormada yang membantu kinerja Bima di masa jabatan yang dipegangnya tahun ini. Waktu SMA mereka juga satu organisasi dan pernah sekelas.
“Lhah, kamu ngekos di sini juga?” Bima melebarkan matanya. Dia tidak menyangka ternyata Mentari dan Jesika satu kosan.
“Iya, emang nggak boleh apa?! Eh Lo belum jawab pertanyaan gue, Lo di sini ngapain?” Mentari mematikan mesin motornya.
“Oh, aku mau nganterin...” Lelaki itu ragu untuk menjawabnya. Belum selesai Bima bicara, Jesika sudah muncul dari balik pintu rumah. Melihat kehadiran Jesika, Mentari sudah tidak butuh jawaban lagi. Dia segera memarkir motornya dengan rapi dan segera masuk ke dalam kos. Parkiran di kos ini memang berada di halaman rumah tanpa ada tembok atau pintu penutup sehingga menyatu dengan halaman, persis bersebelahan dengan teras.
“Mau nganterin Jesika berobat ya, okedeh tiati ya. Gue ke atas dulu. Da....” Mentari berpapasan dengan Jesika tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya seolah tidak ada orang yang dia temui.