Selang beberapa menit, Reina kembali ke kamar Jesika. “Gimana tadi, Jes kelanjutannya? Kamu teh dibisiki apa?”
“Udah lupain aja nggak penting.” Mood bercerita Jesika nampaknya sudah hilang. Keduanya sama-sama diam sebentar. “Tadi siapa yang nelpon, Rei?”
“Eh, hehe, ada, temanku.” Reina agak salah tingkah. Tampaknya dia bingung mau jawab apa.
“Pacar ya? Cowok kan???” Raut wajah Jesika lebih sumringah dari sebelumnya meskipun nada bicaranya masih lemas, tidak sekeras ketika dia sehat.
Reina menganggukkan kepala dengan malu-malu. Melihat tingkah temannya itu, Jesika semakin penasaran dengan pacar Reina. “Wih, pacar ke berapa nih? Orang mana? Ganteng nggak?”
“Nanyanya satu-satu atuh. Masak aku langsung dibrondong banyak banget pertanyaan.”
“Hehehe, habis aku penasaran sih. Buruan jawab...”
“Kayaknya, kamu teh langsung sehatan ya Jes denger aku punya pacar. Hemmm, dia mah pacar pertamaku. Teman sekolah di Bandung dulu, tapi dia teh kakak kelas. Kalau kamu???”
“Aku belum pernah punya pacar.” Jawab Jesika datar.
“Ah masak? Bohong ya? Cewek kayak kamu mah pasti gonta ganti pacar. Aku teh nggak yakin kalau kamu belum pernah pacaran. Kamu kan tipe idaman cowok-cowok di luar sana. Apa itu teh? Body goals... Nggak kayak aku yang suka dipanggil krucil.” Reina memajukan bibirnya. “Eh, astaughfirullah, nggak pa pa aku tetap bersyukur.”
“Dih dibilangin ngeyel. Emang belum pernah kok. Ga ada yang suka kali sama aku atau mungkin karena sering dijelek-jelekin mungkin, huh...”
“Ih nggaklah, belum nemu yang cocok aja kamu mah. Santai atuh, Jes, bentar lagi juga dapat. Yang bentukannya kayak aku aja dapat, kamu teh pasti bakal dapat juga. Malah bagusan nggak usah pacaran atuh, Jes, langsung nikah aja. Aku mah pengennya gitu sebenarnya.”
“Yakali langsung nikah. Nggak mau ah. Mentari tuh banyak banget gebetannya.” Jesika menampakkan raut muka tidak suka.
“Ya wajar atuh, Jes. Lihat dia teh rasanya adem, meuni geulis pisannn.” Reina tidak sadar telah memuji diri Mentari yang selalu memakai gamis atau rok sehingga membuatnya terlihat adem dan terpancar aura kecantikannya di mata yang mengamati.
Jesika makin cemberut setelah mendengar pengakuan dari Reina. Menyadari perubahan raut muka temannya, Reina segera meralat omongannya. “Eh, maaf, Jes, aku teh nggak bermaksud buat...”
“Lupakan.” Jesika memotong permintaan maaf Reina.
***
Jesika sudah kembali dari kampung halaman. Dia membawa beberapa botol bekas air mineral satu setengah liter yang berisi air doa. Itu adalah salah satu obat mujarab yang membuatnya kini sudah kembali seperti sedia kala meskipun mata belonya itu memang selalu sayu, berbeda sekali dengan tatapan mata Mentari yang tajam.
Sabtu kali ini, ormada mereka berdua menyelenggarakan malam keakraban. Tidak usah ditanya lagi, Mentari pasti ikut karena dia pengurus inti, sedangkan Jesika tumben sekali ikut acara-acara di luar kampus yang tidak wajib seperti ini. Dia ikut karena diajak sama Bima dan mahasiswa teknik itu menyanggupi untuk menjemput dan mengantarkan Jesika. Sekarang jam masih menunjukkan pukul satu siang. Rencananya kloter pertama akan berangkat jam dua siang. Namun, Jesika sudah selesai mandi dan mempersiapkan barang yang hendak ia bawa. Dia juga sudah mulai make up, mulai dari alas bedak hingga maskara dan eye shadow orange menyala agar wajahnya terlihat segar dan matanya tidak terlalu sayu.
“Ihhh, geulis pisan. Mau ka mana atuh, Jes?” Reina tetiba muncul di ambang pintu kamar Jesika yang tadinya sedikit terbuka.
“Mau makrab ormada di Kaliurang, ikut po?”
“Yakali, have fun ya, Jes. Udah sembuh total ini mah kayaknya hahaha... Aku teh ke kamar dulu ya. Bye...”