Di Malam yang Sangat Dingin

Putri Zulikha
Chapter #8

CIUMAN PERTAMA

Kini pandangan mata sudah tidak terhalang kabut. Meski belum tinggi sang surya sudah bangun untuk menyeduhkan kehangatan bagi manusia di bumi yang dikuliti hawa dingin semalaman. Anak-anak ormada mulai berkumpul untuk melaksanakan senam pagi. Satu dua dari mereka ada yang masih memakai jaket karena kedinginan, termasuk Jesika. Sejak kemarin dia membuntuti ke mana Bima pergi selain waktu tidur dan ke kamar mandi. Mau gimana lagi, tidak ada yang dikenal secara baik di sana selain Bima dan Suaka. Sementara Suaka bergabung dengan teman-teman seangkatannya. Otomatis Jesika sungkan untuk ikut bergabung dengan mereka.

“Satu, dua, tiga, empat, lima, enam , tujuh, delapan... Ha!” Suara audio memenuhi halaman villa dengan diikuti anak-anak ormada yang sedang senam skj. Senam tersebut dipilih untuk bernostalgia semasa mereka masih kecil. Lagi pula, senam tersebut sangat akrab dengan semua anak ormada sehingga mereka tidak kesusahan untuk melakukannya.

“Eh, Fir, kayaknya Jesika suka deh sama Bima.” Mentari mengajak Fira ngobrol sambil menirukan instruktur di depan.

“Masak sih, biasa aja ah.”

“Dih nggak peka banget jadi orang. Nih ya, dia tuh ke mana-mana maunya ngintilin Bima mulu. Bahkan, ikut makrab ini juga mau gegara dijemput sama Bima.”

“Mungkin iya sih, tapi ya bodo amatlah. Yang penting dia seneng. Lagian tumben amat kamu peka. Urusan kisah cinta orang lain aja peka, kisah cinta diri sendiri lupa. Dasar!”

“Iya sih, biar dia ada yang ngurusin. Kasian juga gue ngelihat dia kurang perhatian dari cowok. Eh tapi... gue nggak terima ya cowok sebaik Bima dapat pacar kayak dia.” Mentari tidak mengomentari cibiran Fira mengenai kepekaannya.

“Heh, kan Bima belum tentu suka juga sama dia.”

“Oh iya deng hehe....”

“Aku jadi ragu deh, kok kamu bisa pintar di akademik tapi kalau urusan beginian agak lemot ya.”

“Sesekali doang lagi gue nggak pinternya, lebih banyakan pinternya hehe...”

“Ya, suka-suka kamulah. Tuh diliatin Mas Suaka.” Fira menggoda Mentari tanpa menunjuk ke arah orang yang dibicarakan.

“Tujuh, delapan, Ha! Ha!” Mentari berteriak lebih keras dari sebelumnya. Dia pura-pura tidak mendengar ucapan Fira yang terakhir. Melihat tingkah sahabatnya yang satu itu membuat Fira menahan tawa.

***

Sejak makrab kemarin, hubungan antara Jesika dan Bima makin dekat. Mereka menjadi sering berkirim pesan, lebih tepatnya Jesika yang mengirim dan Bima yang membalas. Tidak luput juga malam ini. *Besok kamu kelas sampai jam berapa?*

Terdengar dering balasan. *Sampai jam tiga doang, kenapa emangnya?*

*Anterin aku belanja bulanan yuk, sabun udah pada habis nih.*

*Okedeh, aku jemput jam setengah empat ya.*

“Jes mau cari makan nggak?” Reina nyelonong masuk ke kamar Jesika tanpa permisi karena mereka kini sudah sangat dekat. Melihat temannya yang senyam-senyum sendiri, Reina jadi heran. “Ih ngapain atuh senyum-senyum nggak jelas sambil mantengin hp gitu, Jes? Nonton drakor ya?”

“Enggak kok, eh tadi kamu nanya apa?”

“Tuh kan nggak didengerin tadi aku ngomong apa. Kamu teh mau makan atau nggak?” Reina mengulang pertanyaannya.

“Ya maaf, udah makan tadi. Itu aku beli sate masih ada lontongnya juga. Ambil aja di meja.”

Lihat selengkapnya