Sore ini rencananya Mentari nggak langsung balik ke kos sepulang kuliah. Dia ingin mampir ke kosan sahabatnya dulu.
*Lo di kos nggak sekarang? Gue balik kampus nih, mau ke kosan Lo.* Mentari kembali menatap jalan setelah mengirimkan pesan ke Fira.
*Iya, aku di kos, tapi mau nyuci.*
*Oke, otw. Ni jalan mau ngambil motor.*
Sesampainya di kosan, Mentari langsung menceritakan semua kekagetannya tadi pagi. “Lo tahu nggak, Fir? Bima pacaran sama Jesika. Ya Allah, kenapa Ya Allah? Why?”
“Lhah benar dong dugaanmu waktu itu.”
“Ya emang bener, Lonya aja yang nggak percaya sama gue. Sumpah ya Fir, gue nggak nyangka. Nggak terima gue, beneran deh. Gue kenal banget sama Bima. Bahkan, sebelum Jesika kenal sama dia, gue sudah kenal duluan. Asli sayang banget tahu, Fir, cowok sebaik dia.” Tanpa disadari mata Mentari berkaca-kaca.
“Dih, ngapain kamu nangis? Ya nggak usah lebay segitunya kali, Ri. Iya aku tahu, kamu nggak terima, tapi ya mau gimana lagi? Kita nggak bisa apa-apa kan. Yaudah dibiarin aja. Lagian, kalau bukan orang sesabar Bima yang jadi pacarnya ya siapa lagi? Yang lain juga nggak bakal pada betahlah. Karena Bima sebaik itu makanya dia mau sama Jesika.” Fira menggunting pewangi pakaian sachet.
“Iya juga sih, tapi tetep kasian Bima. Waktu kelas sebelas, awal-awal kita kenal dekat di PMR, gue sekelas sama Jesika.” Mentari mulai bercerita masa lalunya dengan Jesika yang kurang baik. “Karena gue nggak ada kenalan lain selain teman se-SD gue itu, ya gue duduk sebangku sama dia. Awalnya sih baik-baik aja dan gue belum tahu betul gimana wataknya soalnya SMP gue pindah ke Jakarta ikut orang tua lagi. Sampai akhirnya, teman-teman sekelas lebih dekat sama gue ketimbang sama dia. Lo kan tahu, gue banyak teman. Hampir satu sekolah juga kenal gue, sedangkan dia nggak punya teman. Gimana mau punya teman, orang kalau kita ke kantin aja dia memilih berdiam diri di kelas kok. Padahal kan waktu buat ngobrol dan ngakrabin diri tuh ya waktu istirahat. Terus tetiba dia nangis dong di kelas. Waktu ditanya kenapa sama temanku, bilangnya dia dicurangi sama aku dan lingkup pertemananku. Katanya kalau kelompokan dikasih pekerjaan yang paling susahlah, terus aku nyuruh teman-temanku buat jauhin dialah. Gue udah pernah ngalamin itu, Fir, sebelumnya. Makanya gue nggak tega sama Bima, Fir.”
“Emangnya waktu itu teman-teman yang lain percaya sama ceritanya?”
“Ya, pasti ada-lah yang percaya. Nggak sedikit juga yang ngira gue benar-benar jahat sama dia. Bahkan, teman dekat gue waktu itu ada yang nyalahin gue sebelum tahu sendiri gimana sifat dia yang sebenarnya. Siapa sih yang nggak kemakan cerita yang dibumbui air mata kayak gitu? Kalau orang yang nggak tahu pasti ngira gue beneran jahat kan, tapi yasudahlah. Orang bakal tahu apa yang sebenarnya terjadi dan siapa yang benar atas semua ini.”
“Sabar ya, beb.”
“Sabar gue, tapi gue kasian sama Bima. Ah, jangan-jangan nanti Bima bakal diceritain yang jelek-jelek lagi soal gue. Bodo amat ah... Kesel gue!”
“Lo tahu Bima kan? Bima pasti akan berada di tengah-tengah kalian. Sejauh yang aku tahu tentang Bima sih dia bakal tidak percaya begitu saja omongan jelek tentang orang lain kalau dia nggak memergokinya secara langsung.”
“Ya, semoga saja dia nggak kemakan omongannya ya.”
“Lagian nih ya, sebagai orang yang pernah suka sama kamu, pasti Bima tahu bangetlah gimana kamu. Yaudah aku tinggal nyuci dulu ya, mumpung sempat. Tiduran dulu di situ atau ngapain kek terserah kamu.” Fira meninggalkan Mentari di kamarnya.
Mentari merebahkan diri di atas kasurnya Fira. Dia menghapus air matanya. Lalu, untuk menenangkan diri agar lebih ikhlas menghadapi kenyataan ini, dia memejamkan mata sambil dzikir dalam hati. Saat diam seperti itu dia terlihat sangat cantik dan kalem persis seperti yang dibilang Reina bahwa memandangnya itu menyejukkan alias adem.