Pagi yang tidak begitu cerah menyambut hari ini. Alam seolah tahu kegelisahan Jesika karena pacarnya tidak kunjung menjemputnya. Sepuluh menit yang lalu dia sudah menyelesaikan sarapannya di warung ibu kos. Dia juga sudah berusaha mengirim pesan ke Bima, tapi tidak mendapat balasan dan tidak dibaca sama sekali. Pacarnya itu sedang tidak aktif sehingga wa-nya ceklis satu. Dia mencoba meneleponnya dengan nomor biasa. “Hihhhh, angkat dong! Ke mana sih ini Bima?! Lima belas menit lagi masuk nih kelasnya Dokter Pambudi.”
“Kenapa ko, Jes? Gelisah kali tampaknya.” Seru Ucik yang menguncir rambutnya, hendak memakai sepatu di teras kosan.
“Ini, Mbak. Aku udah janjian sama pacarku buat nganterin aku ke kampus, tapi dia malah nggak ada kabar.” Jawab Jesika sambil terus mencoba menghubungi sang pacar.
“Yaudahlah sabar aja, mungkin dia lagi di jalan nya. Aku duluan ya.”
“Iya, Mbak.” Jesika mengiyakan pamitnya Ucik, tapi tidak mengiyakan pendapat Ucik tentang Bima. Waktu terus berjalan hingga lima menit telah berlalu. Akhirnya, Jesika memutuskan untuk berangkat kuliah dengan menaiki sepedanya yang sudah lama dianggurkan.
Berjarak tiga menit setelah kepergian Jesika, Bima sampai di depan kosan Putri Mandiri. Bima terlihat kebingungan. Dia celingak-celinguk mencari keberadaan Jesika di warung ibu kos karena di teras tidak ada. Bima juga berusaha menghubungi balik pacarnya dengan panggilan biasa dan sms karena kuotanya sedang habis.
“Lo ngapain, Bim?” Mentari yang baru turun heran melihat tingkah ketua ormadanya.
“Eh, Ri, aku nyari Jesika. Di mana ya dia? Kemarin aku udah ngiyain buat nganterin dia ke kampus soalnya.”
“Lhah Jesika barusan aja pergi naik sepeda. Barusan banget sumpah. Pas gue tadi turun dia masih ada di teras, terus gue naik lagi buat ngambil buku gue yang ketinggalan dia udah pergi.”
“Oalah gitu, yaudah deh.” Bima berjalan ke motornya. Dia menghidupkan starter motornya dan mengenakan helm. Sementara itu, Mentari tampak tidak bisa menghidupkan motornya. Bima mengurungkan niatnya menarik gas. “Kenapa, Ri?”
“Nggak tahu, tadi malam masih bisa kok. Padahal baru gue servis, wah nggak bener nih.”
“Mau bareng sama aku aja nggak daripada kamu telat kan? Lagian mau hujan nih kayaknya.”
“Iya juga sih, boleh deh, yuk. Eh, tapi Jesika nggak bakal marah ke gue kan karena ini?”
“Santai aja kali.”
“Oke kalau gitu.” Mentari menaiki motor Bima dengan duduk menyamping.
“Rok aman kan?”
“Aman, Pak.”
Mereka berboncengan menyusuri gang sempit ke arah kampus Mentari yang berseberangan dengan kampus Bima. Angin semilir menyibak dedaunan kering di sepanjang jalan, membuatnya seolah turut berjalan. Sementara itu, jilbab dan gamis berwarna hijau yang dikenakan Mentari bergerak-gerak ditimang oleh hembusan nafas alam.
“Buruan pergi, Bim, keburu ada yang ngeliat ntar gue dikira pelakor lagi. Kan semenjak Lo pacaran yang Lo boncengin cuma Jesika seorang. Nah ini tiba-tiba gue, kalau ada yang salah paham kan bisa berabe, hahaha.” Mentari bergegas meninggalkan Bima.
“Makasih, Bim!” Seru Bima kepada temannya yang lupa mengucapkan terima kasih.
“Oh iya, bodo ah. Sama-sama! Da...” Jawab Jesika tanpa membalikkan badan ataupun menoleh. Dia melambaikan tangan sembari terus berjalan memasuki kampusnya.