Di Malam yang Sangat Dingin

Putri Zulikha
Chapter #11

NGGAK MARAH AJA SALAH

Hari demi hari bertambah usia. Manusia menua dan pohon di pinggir jalan kian melapuk. Kini, hubungan Jesika dan Bima sudah mau berjalan satu semester. Perjalanan hubungan yang tidak mengalami perubahan sama sekali selama mereka menjalaninya. Ketika hubungan orang lain di usia yang sama tidak lagi seromantis dulu, hubungan mereka memang tidak romantis sedari mulanya karena Bima bukanlah lelaki romantis. Namun, di usia hubungan orang lain yang mulai menampakkan percek-cokkannya, hubungan mereka memang penuh pertengkaran sedari awal. Lebih tepatnya, pertengkaran dari sebelah pihak. Ada saja keluhan yang diutarakan Jesika mengenai sikap Bima kepadanya, sementara Bima terus mengalah meski tidak bersalah.

“Aku tuh sebel banget tahu Rei sama Bima. Masak nih ya aku udah marahin dia panjang lebar ehhh dia diam aja dong. Nggak ada perlawanan sama sekali masak. Paling-paling cuma iya, heem, maaf, udah. Huh... nyebelin!” Jesika menyandarkan bahu kanannya ke pintu Reina yang terbuka.

“Ya bagus atuh. Berarti dia teh orangnya sabar dan nggak memperlebar masalah.” Reina sibuk menata bukunya ke dalam kardus.

“Nggak gitu dong, Rei. Aku tuh kayak ngomong sendiri tahu. Hubungan kami jadinya nggak hidup. Lempeng gitu aja terus. Sekali-kali marahin aku kek terus minta maaf dengan cara romantis. Lhah dia? Sesalah apa pun aku, dia nggak pernah tuh sekali pun marahin aku. Aku dah pernah ya nyoba berbagai cara ke dia biar dia marah, tapi hasilnya nihil alias nol besar. Aneh kan?”

“Em, gimana ya. Aku teh herannya, kok dia bisa meredam emosinya sampai begitu. Kayak gitu teh sebenarnya nggak baik. Lama-lama teh itu bisa jadi bom buat dirinya sendiri, tapi mungkin dia nggak pengen nyakitin kamu atuh, Jes. Berpikiran positif ajalah. Namanya juga cinta, ceunah.”

“Ah kamu belain dia mulu!” Jesika mulai terlihat sebal sama temannya.

“Ya bukannya belain dia, Jes. Aku teh cuma memosisikan diri di tengah-tengah kalian. Aku mah nggak memihak siapa pun.”

“Hem ya deh. Btw kamu ngapain sih beresin buku ke kardus?”

“Emm, iya ini, emm aku teh mau bilang ke kamu. Aku mau pindah kos hehe.” Reina menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia tahu temannya itu akan sangat kecewa mendengar kabar tersebut.

“Kok gitu?! Kenapa nggak lanjut ngekos di sini aja? Kenapa ninggalin aku sendirian?”

“Maaf atuh, Jes, bukannya mau ninggalin kamu, tapi aku teh mau cari kos yang lebih dekat sama yang lebih murah.” Reina menatap Jesika dengan memelas. Namun, tatapan itu tidak membuat Jesika luluh begitu saja. Jesika mengalihkan pandangannya dengan melirikkan mata ke kanan atas.

“Terserahlah, pindah aja sana.” Jesika berjalan meninggalkan kamar Reina.

“Jes, kita teh tetap bisa main bareng. Hubungi aja kalau butuh aku!” Reina mengeraskan suaranya agar terdengar oleh temannya yang berjalan ke kamarnya.

“Temannya lagi butuh dia malah pindah. Emang nggak ada yang peduli sama aku.” Gerutu Jesika. Dia meraih ponselnya dan segera menelepon ibunya untuk menceritakan kesedihannya.

“Hallo, Bu, Reina mau pindah kos.” Jesika merengek ke ibunya.

“Lhoh kenapa kok dia pindah kos? Kamu juga ikut pindah?”

“Ya kan masa bayarnya sudah habis bulan ini, terus dia nggak memperpanjang dan milih pindah. Aku sih nggak tahu mau pindah atau nggak. Sudah enak juga di sini. Males mindah-mindah barangnya, ribet.”

“Berati kamu di sana nggak ada temannya dong?”

“Ya nggak ada. Kan Reinanya ninggalin aku sendirian di sini. Huh...”

“Gimana sih itu Reina kok malah pindah segala?”

“Ya nggak tahu, orang ngasih tahunya barusan pas aku ke kamarnya. Eh dianya baru beresin buku.”

“Dia nggak minta pendapatmu dulu apa buat pindah atau nggak?”

“Nggak. Dia ngasih tahunya ya udah fix mau pindahan. Tahu ah. Si Bima juga baru nyebelin.”

Lihat selengkapnya