Di tengah kebengongan Mentari, ada suara yang tertuju padanya. “Ri, ngapain atuh di teras sendirian?” Tetiba muncul Reina yang baru pulang dengan masih menggendong ranselnya. Dia diantarkan oleh ojek online. Gadis berpenampilan ukhti-ukhti itu berjalan mendekati Mentari.
“Eh, teteh Reina. Nggak sendiri kok. Itu si Fira baru masukin motor. Ntar juga nyusul bawa kopi. Biasa, sebelum begadang di malam minggu yang produktif harus ada doppingnya dulu. Sini duduk!”
“Oalah, kalian teh habis main bareng ya?”
“Iya, mumpung si bocah tersibuk itu ada waktu luang, Rei. Lo sendiri baru pulang dari kampus? Eh kok Lo nggak bawa motor sendiri?”
“Iya, dari gelanggang tadi, ngerjain proposal pkm. Motornya teh aku tinggal di sana, bocor soalnya. Malam-malam gini atuh susah nyari tambal ban yang buka.”
“Wih mantap, gila sih kalian pada produktif banget jadi orang.”
“Alah kamu teh bisa aja. Kamu juga produktif, tapi nggak diliatin aja ke orang-orang kan.”
“Da aku mah apa atuh, neng. Hahaha...” Mentari menirukan logat Reina. “Eh, ngomong-ngomong, gimana kabarnya si Jesika?”
“Dia udah nggak mau lagi temenan sama aku, ceunah. Pokoknya teh dia bilang nggak mau ada urusan lagi ka kita bertiga.”
“Eh kenapa? Kan kamu baik banget sama dia selama ini.” Fira menimbrung obrolan begitu saja berdasarkan yang didengar barusan. Lalu, dia duduk di samping Reina.
“Aku teh juga bingung. Mungkin karena udah ada pacar meuren. Jujur saja, rasa sakit hati teh ada. Setelah semua yang aku lakukan buat dia, hanya gara-gara aku akhir-akhir ini sibuk, dia bilang aku nggak peduli sama dia. Padahal kan aku nolak ajakannya juga ada alasan yang jelas. Aku juga sekarang teh lagi sibuk pkm jadi ya wajar atuh aku nggak bisa balas pesannya dalam waktu singkat. Astaughfirullah kok aku jadi mengghibah sih.” Reina menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
“Yaudah, Rei, nggak usah terlalu dipikirkan. Masih ada banyak hal yang harus kamu pikirkan. Jadi, yang kayak gitu mah dipikir santai aja.” Fira yang datang saat Reina masih bercerita sedang menyeruput kopinya. “Mau?” Dia menawarkan kopi ke Reina.
“Makasih. Aku teh nggak gitu suka sama kopi.” Reina menolak dengan halus. Yang nyerobot gelas di tangan Fira malah Mentari. “Emm, maaf ya, Fir, waktu itu aku malah ikut nyudutin kamu.” Reina mengungkit kejadian yang telah lalu itu.
“Iya, nggak pa pa kok. Santai aja. Udah lama juga kan.”
“Yaudah aku teh balik dulu ya.” Reina yang tampak begitu kelelahan meninggalkan Mentari dan Fira diteras. Mereka juga memutuskan untuk masuk ke kamar masing-masing. Fira ingin produktif seperti biasanya dan Mentari si anak fisipol yang santui memutuskan untuk tidur saja.
***
Jesika duduk di taman fakultas kedokteran. Angin sepoi-sepoi menggerakkan dedaunan di ranting pohon yang melindungi Jesika dari tempias cahaya sore. Wanita yang mengenakan cardigan bermotif daun dengan warna dasar hitam itu sibuk membenarkan jilbabnya karena dikoyak angin sedari tadi.
“Kebiasaan deh ni anak sukanya lama. Mana sih nggak dateng-dateng, udah hampir sejam aku menjamur di sini nih, hadeh...” Jesika mencoba menelepon orang yang ditunggunya. “Kalau nggak kamu angkat, dalam waktu 5 menit lagi aku tinggalin nih.” Dia berbicara sendiri sambil menatap layar ponselnya.
“Udah lama?” Lelaki yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba dari balik punggung pacarnya. Siapa lagi kalau bukan Bima. Dia duduk di bangku depan pacarnya dan meletakkan dua minuman ke atas meja.