Keesokan harinya, Mentari ada kelas dari pagi sampai sore. Sehabis itu dia masih harus latihan pencak silat sampai magrib. Karena kemarin tidak sempat pamitan ke Reina, dia memberi kabar lewat wa kalau hari ini tidak bisa menemani Reina di rumah sakit. Sebagai gantinya dia minta tolong ke Fira yang kebetulan hari ini sedikit longgar jadwalnya.
Fira datang berpapasan dengan dokter dan Raihan yang telah selesai memeriksa Reina pagi ini. “Hai, Rei. Maaf banget ya aku baru sempet jengukin kamu. Kemarin jadwalku padat banget. Untung hari ini anak lesku minta libur. Jadi, aku bisa ke sini deh.” Fira meletakkan seplastik bawaannya di lemari kecil yang terletak di samping kiri ranjang Reina.
“Iya, nggak pa pa atuh, Fir. Lagian teh kemarin udah dijagain sama Mentari.”
Fira menanyakan keadaan gadis berjilbab instan besar yang sedang tergolek di atas ranjang pasien. Gadis itu menjawab bahwa dia sudah mendingan. Kemarin, dia tidak kuat sama sekali untuk sekadar ke kamar mandi. Sekarang dia sudah kuat berjalan meski hanya sebatas masuk dan keluar kamar mandi. Wajahnya tampak masih pucat dan sedikit kucel karena sejak kemarin tidak cuci muka. Kemudian, Fira membantunya untuk ganti baju dan membersihkan diri di kamar mandi sehingga rasa lengket di tubuhnya sudah jauh berkurang dan wajahnya tampak lebih segar. Setelah itu, baru dia makan, sementara Fira membereskan baju ganti Reina.
Tidak berselang lama, datang lelaki koas yang tidak lain adalah Raihan untuk kembali memeriksa keadaan Reina.
“Hallo Mbak Reina. Sudah mendingan?” Lelaki itu melihat Fira sekilas dan memberikan senyuman, tapi senyum itu tampak tergantung. Fira membalas senyumannya dan menyingkir sejenak.
“Iya, lebih enakan. Masnya teh nyari Mentari ya?” Reina menggoda Raihan yang hari ini sudah dua kali mengecek kondisi Reina, tapi tidak menemukan Mentari sama sekali. Yang ditanya hanya tersenyum sambil melekatkan tensi pada lengan Reina. Gadis itu kembali menyahut. “Dia teh kayaknya nggak datang hari ini, Mas, soalnya ada kelas sampai sore. Terus, dia teh latihan pencak silat sampai malam. Pasti capek atuh makanya aku teh memintanya buat nggak ke rumah sakit dulu hari ini.”
Raihan seolah tidak peduli dengan omongan pasien yang ditanganinya, padahal telinganya mendengarkan dengan seksama dan muncul sedikit rasa kecewa di dalam benaknya. “Yasudah, obatnya jangan lupa diminum ya, Mbak. Semoga lekas sembuh.”
Meskipun Raihan sehari tiga kali mengecek kondisi Reina, tidak pernah sekali pun gadis itu meminta bantuan untuk ke kamar mandi atau perihal apa pun yang tidak seharusnya dilakukan oleh lelaki selain mahromnya. Jika tidak ada teman wanita yang menjaganya, dia palingan meminta bantuan perawat wanita yang sedang berjaga atau saat mereka memberikan obat dan makanan.
Fira kembali duduk di samping Reina. “Masnya boleh juga tuh, Rei, hahaha....” Raihan memang tergolong lelaki dambaan wanita. Selain postur tubuhnya yang bagus dan tinggi, tampangnya juga lumayan oke. Hidung mancung dengan tatapan mata yang tajam dan kulit bersih yang tidak terlalu putih membuatnya tampak begitu manis, khususnya di kalangan wanita.
“Kayaknya teh dia suka sama Mentari. Dari tatapan matanya kayak ada yang nggak biasa gitu kalau aku ngelihatnya. Mentari juga kayaknya suka.”
“Ah yang bener aja? Mana mungkin Mentari suka sama cowok?”
“He?? Memangnya Mentari teh nggak suka sama cowok?”
“Eh, bukan begitu. Dia masih normal kok. Maksudku dia itu biasanya susah banget jatuh cinta sama cowok. Udah puluhan cowok yang ditolak mentah-mentah sama dia. Nggak ada satu pun cowok yang nyangkut sama dia. Suka risih sama cowok dia anaknya.”
“Oalah, tapi kayaknya kali ini beda tahu, Fir. Oh iya, Mas Raihan teh yang nolongin aku waktu pingsan di depan rumah sakit kemarin. Dia juga yang bantuin aku di IGD. Sama laki-laki sebaik dan seganteng itu masak Mentari nggak suka. Kayaknya juga soleh dia mah.”
“Ya, semoga sajalah. Cantik sama ganteng, terus sama-sama baik hati lagi. Aduh cocok banget. Eh, tapi kalau yang cantik dapat yang ganteng, yang kayak aku nanti anaknya gimana dong? Aku kan mau memperbaiki keturunan....” Reina tertawa mendengar protes dari Fira. “Btw, jam empat aku ada jadwal kerja paruh waktu, Rei. Nggak pa pa kan aku tinggal?”
“Iya, santai aja atuh. Nanti teh ada teman-teman pkm yang mau jenguk kok. Tadi pagi juga waktu kamu belum ke sini, ada teman-teman prodi yang jengukin.”
Tidak lama setelah itu, ada empat orang ukhti yang menjenguk Reina. Mereka adalah teman-teman seorganisasi keislamannya Reina. Kebetulan sekali mereka datang sehingga Fira bisa pamitan untuk siap-siap berangkat kerja.
“Duluan ya, mbak, mbak, titip Reina, assalamualaikum.”
Seperginya Fira, mereka sibuk menanyakan kondisi Reina dan memberikan semangat kepada temannya yang sedang sakit. Reina bersyukur masih diberikan teman-teman yang menyayanginya dengan tulus. Dengan kejadian ini dia juga sadar bahwa dia tidak boleh menilai orang berdasarkan cerita dari orang lain saja sebelum dia benar-benar mengenalnya dengan baik. Dia merasa menyesal telah menduga Mentari dan Fira sebagai teman yang tidak begitu baik karena sikapnya ke Jesika. Ternyata, justru merekalah yang membantunya saat dia sedang jatuh, bukan Jesika yang telah diperlakukan begitu baik selama ini. Namun demikian, dia tidak merasa menyesal sedikit pun atas kebaikan yang diberikannya kepada Jesika. Sedari awal dia memang tidak mengharapkan balasan baik dari manusia atas kebaikan yang dilakukannya. Dia tahu betul, Allah akan menggantinya dengan yang jauh lebih indah di luar ekspektasinya.