Satu minggu sudah cukup untuk memulihkan diri sepulangnya dari rumah sakit. Sejak hari Senin seminggu yang lalu, Reina sudah kembali masuk kuliah. Bahkan, segala aktivitasnya pun sudah kembali dia tekuni. Sementara itu, Jesika akhir-akhir ini justru jarang masuk kelas. Dia lebih sering belanja untuk menunjang gaya berpakaian dan penampilan wajahnya. Bima sudah mengingatkan beberapa kali, tapi itu tidak mempan sama sekali untuk meluluhkan kekerasan kepala Jesika. Alhasil, Bima hanya diam saja dan menuruti ajakan pacarnya setiap kali ingin pergi entah ke mana.
Hari demi hari uang beasiswa tidak mampu dan kiriman dari ibunya Jesika tidak lagi mampu mencukupi kebutuhannya. Kos menunggak sudah tiga bulan, sementara uang untuk makan esok hari saja sudah tidak ada. Mau tidak mau dia meminjam uang ke teman-temannya. Namun, uang yang dipinjamnya bukan untuk membayar kosan atau untuk makan, melainkan untuk memenuhi hasrat dirinya membeli alat make up dan pakaian. Hutang yang makin menumpuk itulah yang membuatnya malu untuk berangkat ke kampus. Bukan, bukan malu yang ditakutkannya, melainkan takut bila ditagih oleh teman-teman seprodinya, teman-teman yang dianggapnya tidak tulus tapi dimintai hutang saat dia butuh.
Dia sama sekali tidak membicarakan masalah ini ke Bima. Bahkan, dia tidak pernah bercerita tentang kehidupan ekonomi keluarganya. Setiap hari yang diceritakannya adalah perihal tidak ada yang peduli dengannya dan Bima adalah satu-satunya orang yang dia percaya, katanya.
“Matilah aku, gimana nih hutangku udah di mana-mana. Terus, aku dapat uang dari mana buat bayar semuanya?? Ah....” Jesika berteriak di dalam kamarnya. Untungnya, jika pintu kamarnya ditutup, dari luar tidak begitu terdengar suara dari dalam kamar.
Dia tidak mungkin meminta ibunya buat mengirimkan uang kepadanya karena dia tahu ibunya tidak memiliki uang. Jika ibunya memiliki uang pasti tanpa meminta dia akan dikirimi. Akan tetapi, ibunya lebih sering tidak punya uang. Hasil dari jualan di warung makan yang kecil dan buruh cuci baju tidaklah seberapa. Palingan hanya cukup untuk makan sehari-hari dan membiayai sekolah adiknya. Sementara itu, bapaknya punya hobi mabuk-mabukan dan judi hampir pada setiap harinya. Sebagai kepala keluarga, dia tidak menafkahi keluarga, tapi justru menghabiskan harta warisan ibunya hingga ekonomi mereka benar-benar terpuruk seperti sekarang ini.
Akhirnya, dia teringat satu nama. Jesika segera mengontaknya, bertanya apakah dia bisa ditemui di kosannya atau tidak. Dia bergegas menuruni tangga kos dan menaiki sepeda ketika seseorang itu mau untuk dimintai pertolongan. Sesampainya di kosan seorang gadis mungil yang dikenalnya, dia menelepon agar dibukakan pintu gerbang. Tidak berselang lama pintu kosan dibuka.
“Ayo masuk, Jes.” Jesika mengikuti langkah sang penghuni kos. “Gimana, gimana? Ada perlu apa?” Reina menyambut hangat Jesika sambil menutup pintu kamarnya setelah tamunya masuk. Dia duduk di ranjang kamarnya.
Tanpa banyak basa-basi, Jesika menjelaskan duduk perkaranya. “Em, jadi gini ceritanya, Rei. Kondisi ekonomi keluargaku kan ya terbilang kuranglah. Terus bodohnya aku kemarin-kemarin khilaf. Uang bidikmisiku malah kuhabisin buat hal hal yang mungkin nggak begitu perlu sih. Aku nggak dengerin apa kata Bima. Terus aku hutang ke beberapa temanku dan bingung dapat uang dari mana buat bayar. Makanya aku minta tolong ke kamu ya. Kosku udah nunggak tiga bulan nih.”
Meskipun kemarin Jesika tidak ada saat dia membutuhkan pertolongan, Reina tidak membenci dan tidak menyimpan dendam sama sekali terhadap temannya itu. Awalnya memang ada rasa sakit hati, tapi dia segera menepisnya. Sebisa mungkin dia berusaha membantu Jesika. “Emangnya teh hutangmu berapa, Jes?”
“Nggak gitu banyak kok, cuma Rp2.500.000,-00 doang.” Jesika memasang wajah memelas.
“Waduh kalau uang segitu teh aku juga nggak punya atuh, Jes. Maaf banget, bukannya nggak mau bantu, tapi uang kiriman orang tuaku udah aku pakai buat bayar rumah sakit kemarin. Sekarang teh hanya sisa dua ratus ribu buat aku makan sehari-hari.”
“Yah, Rei. Kamu kan dari keluarga berada. Pasti adalah uang segitu. Tinggal minta sama mamamu juga langsung ditransfer.” Jesika mulai tidak tahu diri. Bahkan, dia tidak minta maaf perihal dia tidak menjenguk Reina waktu di rumah sakit.
“Em gimana ya, Jes. Aku teh nggak enak sama orang tua kalau buat minta uang kayak gitu. Nanti, aku bantu mikirin gimana cara lainnya ya. Kalau udah dapat solusinya, aku kabarin kamu secepatnya.”
“Beneran ya, Rei. Aku udah berhari-hari nggak masuk kuliah. Sudah sering bolos karena malu ketemu teman di kampus.”