Di Malam yang Sangat Dingin

Putri Zulikha
Chapter #15

GARIS MERAH

Di saat temannya sibuk memikirkan cara untuk menyelesaikan permasalahan yang dia hadapi, Jesika justru terlihat santai meski kemarin memohon-mohon bantuan ke Reina. Karenanya, sore ini pun tidak luput dari jadwal kencan.

“Jalan ke mana nih kita?” Tanya Bima saat pacarnya hampir sampai di hadapannya. Dia memang tidak tahu-menahu soal hutang pacarnya.

“Aku pengen makan yang asem-asem, apa ya?”

“Ketekmu dong asem. Hahaha....”

“Dih apaan sih. Nggak lucu tau! Yaudah jalan aja, nanti kalau nemu lotis aku mau ya.”

Motor pun mulai melaju pelan. Mereka meneruskan obrolan. “Yang, kok aku sampai bulan ini belum halangan juga ya. Apa aku??”

“Telat aja kali menstruasinya.” Bima tidak ingin berpikiran negatif.

“Ih tapi ini telatnya udah dua bulan, Yang. Kita mampir ke apotek buat beli tespek yuk! Daripada aku sama kamu menduga-duga kan?”

Akhirnya, Bima pun setuju biar yang semu tidak hanya jadi abu-abu. Bima turun agak jauh dari apotek karena dirinya merasa malu mengantarkan pacarnya membeli tespek. Apa kata orang jika melihat sepasang kekasih membeli barang gituan. Namun, Jesika malah merasa senang jika nanti dia beneran hamil karena dia ingin sekali punya anak. Dia memasukkan tespek yang dibelinya ke dalam tas. Lalu, dia kembali menghampiri Bima.

***

Setelah selesai makan mereka pulang ke kontrakan Bima. Mereka ingin segera mengetahui hasilnya. Ketika Jesika berada di kamar mandi, Bima tidak henti-hentinya mengetukkan jarinya ke tembok. Dia sangat khawatir jika pacarnya mengandung. Dia mengingat-ingat apa saja yang sudah dia lakukan bersama Jesika. Bayangan di kala sepulang dari Bukit Bintang kembali terlintas di otaknya. Dia ingat saat itu untuk pertama kalinya dia tidur sekamar berdua dengan seorang wanita, apalagi pacarnya. Kala itu juga kali pertama dia mendapatkan pelukan, bahkan ciuman yang tak terduga dari pacarnya. “Ah, tidak terjadi apa-apa kok. Setelah itu kan kita tidur doang.”

Bima kembali mengingat-ingat apa saja yang sudah mereka lakukan selama bersama. Bayangan ketika mereka tidur bersama setelah mengerjakan tugas kembali berputar. Saat itu, Jesika menatapnya dengan tatapan penuh makna. Gadis itu sudah tidak mengenakan jilbab sedari sampai di kontrakan. Dia menghampiri Bima yang sedang tergolek di kasur. Lalu, Jesika memegang bibir Bima.

Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, Bima segera bangkit dari duduknya. Bayangan masa itu menguap begitu saja. Wajahnya terlihat sekali penuh ketakutan, sedangkan Jesika terlihat cemberut. Terlihat ada kekecewaan di sana. Agar tidak terdengar oleh orang lain, Bima menutup pintu kamar.

“Nggak kan, Yang?” Jesika tidak menjawab. Dengan memanyunkan bibir dia memberikan tespeknya ke Bima.

“Alhamdulillah Ya Allah....” Bima segera memeluk pacarnya. “Untung saja nggak ya, Jes. Yuk kuanterin pulang.” Bima menghiraukan ekspresi pacarnya. Yang penting sekarang dia bisa lega.

Lihat selengkapnya