Di Malam yang Sangat Dingin

Putri Zulikha
Chapter #16

STATUS

Di kosan Reina, Jesika tertidur. Adzan magrib mulai terdengar, Reina pun minum kemudian beranjak wudu. Selepas salat dia keluar sebentar dan pulang membawa kresek hitam yang ditaruhnya di atas meja. Lalu, dia mengambilnya satu untuk berbuka. Sambil makan, Reina mencari referensi untuk memberi tahu kepada Jesika bahwa dirinya sudah patut untuk periksa ke psikolog. Tidak lama pun, Jesika terbangun. Dia merasa sangat lapar dan Reina memberikan sebungkus nasi yang sudah dibelinya selepas magrib tadi.

Dengan sangat hati-hati Reina mulai memperkenalkan isu kesehatan mental kepada Jesika. “Jes, coba deh baca-baca di unggahan akun instragam ini.” Reina menunjukkan layar ponselnya. “Aku suka baca kalau lagi nggak ada kerjaan. Ternyata penting banget buat kita tahu tentang kesehatan mental kita.”

Yang diajak bicara diam saja. Dia meneruskan makannya sambil membaca-baca unggahan yang ditunjukkan Reina.

“Oh iya, Jes. Aku juga udah daftarin diri ke pelayanan psikolog gratis di kampus. Ikut yuk! Kalau mau aku daftarin juga.”

“Nggak.” Jawab Jesika singkat.

“Ih, nggak pa pa atuh Jes. Ke psikolog teh bukan berati gila. Kamu nggak pengen kan melukai diri terus kayak gini. Ini teh udah nggak sehat, tapi kalau kamu belum mau ya sudah. Eh kamu nggak salat? Keburu adzan isya’.”

“Nggak, lagi halangan.”

***

Di dalam kamarnya Bima bingung mau menerima telfon itu atau tidak. Tangannya ingin meraih, tapi tiba-tiba keraguan itu datang. “Ehem.” Dia mendehem, lalu menarik nafas panjang dan membuangnya pelan. “Halo, Assalamualaikum, Bu.”

“Waalaikumsalam nak, Bima. Maaf ya kalau ganggu nak Bima. Ibu mau tanya. Akhir-akhir ini kok Jesika nggak bisa tak hubungi ya? Terakhir dia ngangkat bilangnya dia ngantuk, tapi kok perasaan ibu nggak tenang ya. Firasat ibu sih kayaknya dia sakit. Tolong ya nak Bima, titip Jesika soalnya saya ngehubungi nak Suaka katanya sudah nggak di Jogja. Hanya nak Bima yang bisa ibu mintai tolong.”

‘Waduh matilah aku. Aku harus gimana nih? Mau jawab apa aku? Sudah semingguan juga aku nggak berhubungan sama Jesika.’ Bima membatin.

“Nak Bima, hallo?”

“Eh iya, Bu. Nanti saya tengokin Jesikanya ya.” Jawab Bima asal agar ibunya Jesika tenang mendengarnya.

“Walah makasih banyak ya nak Bima.”

“Sama-sama, Bu. Maaf Bu sudah dulu ya soalnya Bima ada kelas.” Bima berbohong. Sebenarnya, dia sedang tidak ada kelas. Dia hanya menghindari pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul dari ibunya Jesika jika telepon tidak segera disudahinya.

Telepon pun berakhir, tapi masalah Bima dan Jesika tidak semudah itu berakhir. Bima masih belum bisa berdamai dengan keadaan. Namun, telepon dari ibunya Jesika tidak bisa dia abaikan begitu saja. Di tengah kebingungannya itu, ponselnya kembali berbunyi. “Ndret, ndret..” Ada pesan dari Fira. *Bim, aku dimintai tolong sama Reina buat nyampein ke kamu kalau Jesika sekarang kondisinya sangat buruk. Dia butuh kamu, katanya. Tolonglah, Bim. Aku memang nggak tahu masalahnya, tapi apa salahnya mengalah.*

“Setiap hari juga aku mengalah, Fir. Ini bukan soal mengalah, tapi aku saja yang belum bisa menerima kenyataan.” Bima berkomentar atas pesan yang dibacanya. Dia enggan membalasnya. Dia masih ingin mendinginkan pikirannya.

***

Lihat selengkapnya