Di Malam yang Sangat Dingin

Putri Zulikha
Chapter #17

SI KECIL YANG TERSAKITI

Setelah menghadap ke prodi atas alasan Jesika tidak masuk kuliah dan unggahan di media sosialnya, Fira menghubungi Reina. Karena tidak sempat bertemu, Fira memutuskan untuk meneleponnya saja. Tanpa banyak basa-basi, Fira pun langsung mengutarakan apa yang terjadi di kampusnya tadi siang waktu dia dipanggil ke prodi.

“Pihak prodi kayak kecewa gitu, Rei, sama unggahan Jesika yang bisa membuat citra kampus jadi jelek. Kaprodi bilang dapat teguran dari fakultas. Terus sekalian banget aku ingat yang masalah hutangnya itu. Aku ceritain deh semua ke kaprodi sama dosen pempimbingnya Jesika. Nah lusa aku disuruh ngajak Jesika ke kampus buat dipertemukan ke wakadek kemahasiswaan, tapi aku bingung bilang ke Jesikanya kayak gimana, Rei.”

“Habis ini aku bantu bilangin ke Jesika ya. Aku teh yakin dia pasti mau soalnya yang minta kan pihak fakultas. Lagi pula, dia juga ingin menyelesaikan masalah hutang secepatnya kan.” Setelah bahasan hutang tuntas, Reina menceritakan usahanya untuk membujuk Jesika agar mau ke psikolog. “Kemarin-kemarin mah dia masih nggak mau, tapi sekarang sudah mau. Habis buat unggahan itu, siangnya dia teh minta daftarin ke layanan psikolog gratis yang ada di fakultasku. Btw, dia teh sekarang ada di kosku. Ini aja aku ke luar kamar dulu.”

“Ngapain dia di kosanmu, Rei?”

“Katanya teh dia diganggu terus sama makhluk tak kasat mata sampai nggak bisa tidur dari kemarin. Nah, tadi dia dianterin sama Bima ke sini. Mau nginep di kosanku malam ini ceunah. Sekalian besok aku mau nganterin dia ke psikolog lagi.”

“Oalah, syukurlah kalau udah baikan sama Bima. Kayaknya kondisi dia memburuk kemarin gara-gara putus sama Bima deh soalnya kan dia nggak pernah tuh dicintai sama cowok gitu, nah sekalinya udah dapat terus hilang kan pasti nyesek banget.”

“Iya, mungkin karena itu salah satunya. Hmm, kalau baik yang sampai balikan mah kayaknya nggak, tapi Bima udah mau dimintai tolong buat nganterin dia. Ya paling nggak sosoknya kembali hadirlah. Makasih atuh udah dibilangin ke Bima kemarin. Sudah dulu ya, Fir, nanti kalau lama-lama Jesika teh bisa curiga.”

Telfon pun diakhiri setelah mereka membuat janji untuk ngobrol secara langsung setelah Fira dan Jesika ke wakadek. Fira kembali melanjutkan pekerjaannya, sementara Reina balik ke kamarnya.

“Habis telfonan sama siapa sih, Rei, sampai harus ke luar segala?” Reina yang baru saja sampai langsung ditembak pertanyaan itu bingung harus menjawab apa. “Sama pacar ya?”

“Ehehehe, iya.” Reina terpaksa berbohong agar tidak menjadi runyam. ‘Astaughfirullah maafkan hamba yang telah berbohong Ya Allah,’ dalam hatinya merasa bersalah.

“Nggak pa pa kali kalau kamu telfonan di kamar juga. Aku nggak bakal iri kok. Kamu nggak perlu ke luar segala.” Ungkap Jesika ketus.

Reina memilih untuk tidak menanggapi. Dalam hatinya dia istighfar agar tidak terpancing emosi. Dia berusaha untuk memaklumi atas emosi Jesika yang sedang naik turun atau memang sudah lelah saja dengan sikap Jesika yang seenaknya. Reina tahu semua kelakuan Jesika tidak serta-merta efek dari gangguan jiwanya. Dia mengerti bahwa trauma karena suatu hal yang sama sekali pun akan berpengaruh beda pada orang lain. Hal itu tergantung pada diri orang tersebut dalam menyikapi dan mengontrol dirinya. Menurutnya, Jesika adalah orang yang tidak bisa mengontrol dirinya dengan baik.

***

Psikolog yang menangani Jesika ternyata adalah dosen pembimbing akademiknya Reina. Hal itu tentu memudahkan Reina untuk mengusut permasalahan yang terjadi. Dia penasaran dengan penyakit yang diderita oleh Jesika. Dengan melihat semua yang dia alami dan dengarkan dari curhatan Jesika, dia tidak bisa asal mendiagnosis temannya begitu saja. Oleh karena itu, dia mengomunikasikan hal ini dengan DPA-nya.

Dosen pembimbingnya dengan senang hati menerima kedatangan Reina di ruangannya untuk membicarakan masalah ini. “Untuk sekarang saya belum bisa mendiagnosis apa yang dia derita. Namun, kemungkinan besar dia mempunyai trauma masa kecil yang membuatnya mengalami trust issue. Dia bercerita kalau saat ini yang dia percaya hanya mantan pacarnya, Bima. Bahkan, sama ibunya pun dia tidak percaya.”

“Apakah trauma masa kecilnya itu berhubungan dengan ibunya, Bu?”

Lihat selengkapnya