Sementara kedua temannya sedang membicarakan masalahnya, Jesika justru tidak mengambil pusing. Malam ini dia cukup senang karena bisa keluar berdua sama Bima lagi. Kondisi mentalnya sudah cukup baik dibandingkan hari-hari sebelumnya ketika Bima tidak menanggapi dirinya. Awalnya, pembicaraan hanya sebatas angin lalu. Namun, tidak bisa disangkal, Jesika ingin membahas perihal kandungannya.
“Aku udah bisa ngertiin posisi kamu, Bim. Aku juga sadar kalau aku belum siap untuk menjadi seorang ibu. Masih banyak yang ingin aku capai, begitu juga kamu, tapi nggak mungkin buat gugurin kandungan ini, Bim.”
“Kenapa nggak mungkin? Nggak ada cara lain, Jes. Misal pun kamu mau memberikannya ke orang lain atau ke panti asuhan setelah dia lahir, kamu tidak bisa menyembunyikan perutmu yang membesar.” Jesika meresapi kata-kata Bima. “Pun kamu berhasil menutupinya entah gimana caranya aku nggak ngerti, makin dia bertumbuh menjadi manusia, kamu akan makin tidak rela melepasnya.”
“Tapi aku nggak tega, Bim. Masak iya aku membunuh calon anakku sendiri.”
“Mumpung dia masih berupa embrio, Jes. Ibumu tahu masalah ini?”
“Nggak sama sekali dan jangan sampai tahu.”
Hening. Tak ada suara yang keluar dari mulut mereka. Desau angin mulai terdengar. Ricik air sungai di depan mereka mengalun samar. Hawa dingin menelusup ke jiwa mereka. Kereta api lewat dari rel yang terlihat dari angkringan kopi jos yang mereka tempati sekarang.
“Bima, Jesika!” Seruan gadis itu memecah kesunyian di antara keduanya. Mereka memang duduk menyendiri di pinggiran sungai, tidak seperti pengunjung lainnya yang duduk di atas parkiran dengan alas tikar.
“Eh, Ri. Kamu ngapain di sini?” Bima menyahut, sementara Jesika acuh tak acuh.
“Mainlah, yakali senam.”
“Dih bocah. Sama siapa?”
“Ama temen. Duluan ya. Da kalian.”
Bima mengawasi Mentari sampai parkiran yang tidak jauh dari tempat dia duduk. Terlihat seorang cowok tinggi dihampiri Mentari. Mereka terlihat mengobrol diselingi tawa, lalu pergi dengan berboncengan.
“Apaan sih liatnya kayak gitu amat?” Jesika tampak cemburu. Meski mereka kini sudah tidak berstatus sebagai pacar, cinta dan kepercayaan Jesika masih diserahkan kepada Bima seorang.
“Nggak, cuma penasaran aja dia sama siapa. Pulang yuk, besok kan kamu kuliah pagi.”
Setelah kondisi mentalnya membaik dengan permasalahan hutang yang sudah beres, Jesika kembali mau masuk kuliah. Dia memang sudah berjanji pada wakadek akademik untuk itu. Tidak mungkin baginya untuk mengingkarinya atas bantuan uang yang diberikan dari fakultas.
***