Di Malam yang Sangat Dingin

Putri Zulikha
Chapter #19

DI MALAM YANG SANGAT DINGIN

Keesokan hari pun datang. Mereka sudah tiba di pantai ketika matahari masih bersembunyi di balik bukit. Dia masih malu untuk menampakkan diri rupanya. Deru ombak menjadi musik pengiring pelarungan sang bakal janin. Mereka melarungnya dari bukit bebatuan yang bisa mereka akses. Di sana masih begitu sepi. Hanya ada mereka dan alam sebagai saksi.

Tanpa berbicara apa pun sesi pelarungan gumpalan darah dilakukan. Setelah itu, mereka memilih untuk menenangkan diri sejenak di sana. Masih tanpa kata juga tanpa tangis, tapi dari mata mereka menampakkan kehilangan dan penyesalan. Setelah beberapa menit, Bima memecahkan kesunyian. “Yok, pulang!”

“Aku masih ingin di sini sebentar.” Pinta Jesika memelas. Melihat hal itu tentu Bima tidak tega. Dia kembali duduk dan merangkul Jesika. Gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu Bima. “Kamu udah nggak suka lagi sama aku?”

Bima tahu arah pertanyaan itu akan ke mana. Jesika pasti berniat untuk meminta balikan. “Masih, tapi untuk sekarang ini biar gini aja dulu ya.”

“Aku boleh minta temenin kamu kapan aja kan? Ayolah Bim, aku mau kita kayak dulu. Kata psikologku, kita akan kuat jika bersama. Aku udah menceritakan semua tentang hubungan kita, terkecuali urusan bayi ini. Kamu harus tahu Bim. Satu-satunya orang yang kupercaya hanya kamu. Aku nggak bisa hidup waras tanpa kamu. Ya?”

Bima masih belum bisa menjawabnya. Dia hanya diam saja. Karena tidak mendapatkan respons, Jesika kembali meyakinkan Bima bahwa tidak ada orang lain lagi yang dia percaya selain lelaki yang duduk di sampingnya. “Waktu kecil, aku sangat dekat dengan ayahku, bukan bapak, melainkan ayah kandungku.” Mendengar pernyataan Jesika membuat Bima agak terkesiap. Selama ini yang diketahui Bima, ayahnya Jesika ya hanya lelaki yang dipanggilnya dengan sebutan bapak saja. Dia tidak pernah tahu bahwa ternyata lelaki itu adalah ayah tirinya.

“Meskipun waktu itu aku masih sangat kecil, mungkin aku baru berumur empat atau lima tahun, aku masih ingat betul bagaimana ayahku menyayangiku, membelikanku mainan, dan menggendongku dengan penuh kasih sayang. Namun, kejadian yang paling mengerikan terjadi pada ayahku. Dia kecelakaan sepulang dari kerja. Motornya hancur karena dihantam truk gandeng. Huh, itulah mengapa aku tidak mau naik motor. Selama ini aku berbohong atas alasan yang kubuat-buat. Aku hanya ingin mengubur ingatan tentang ayahku dalam-dalam.” Jesika menitikkan air mata. Melihat gadis yang masih disayanginya larut dalam kesedihan, dia merentangkan tangannya untuk memeluk gadis itu.

“Dua bulan setelah ayahku meninggal, ibuku menikah lagi dengan lelaki pemabuk dan hobi judi sialan itu. Saat itu aku sangat membenci bapak, terlebih ibuku yang begitu mudahnya melupakan ayah. Aku adalah satu-satunya orang yang menentang pernikahan mereka, tapi ibuku tidak memedulikan keberatanku. Dia tetap menikahi lelaki itu. Semua orang tidak ada yang mendukungku. Mereka pikir aku hanyalah anak kecil yang masih belum rela atas kematian ayahnya dan pendapat anak kecil sepertiku tidak ada harganya. Bahkan, kakek nenekku ikut membujukku. Katanya ibu butuh pendamping untuk bisa melanjutkan hidup. Alah ...(beep*)” Jesika mengusap air matanya yang terus keluar sambil mengumpat masa lalunya.

“Dan sejak saat itu kamu tidak pernah percaya pada orang lain, termasuk hilangnya kepercayaanmu pada ibumu sendiri?” Bima menebak akhir dari cerita gadis itu. Yang ditanya mengangguk. Dia bangkit dari sandarannya dan melepas rengkuhan Bima. “Jadi, kamu mau balikan sama aku?”

Bima sebenarnya ragu, tapi di satu sisi dia masih sayang sama gadis itu. Dulu memang dia tidak memiliki rasa apa pun, tapi setelah terbiasa bersama, rasa itu muncul juga. Apalagi setelah mendengar cerita yang baru disampaikannya membuat Bima makin tidak tega untuk meninggalkan Jesika. Dia tahu rasanya memiliki ayah tiri seperti apa sehingga muncullah satu kata dari mulutnya. “Iya.”

Mendengar jawaban Bima yang kembali menjadi pacarnya membuat Jesika langsung memeluk erat tubuh lelaki itu. Kesedihan dan kehilangan lenyap sudah. Yang tersisa hanya senyum Jesika.

***

Hari demi hari telah berlalu. Kini, kondisi kesehatan mental Jesika sudah jauh membaik. Dia tidak lagi melukai diri. Sosok-sosok makhluk halus yang dia temui pelan-pelan dia abaikan hingga intensitas mereka mengganggu sangatlah berkurang banyak. Sebenarnya, mereka masih ada alias tidak bisa hilang begitu saja ketika jiwanya membaik. Namun, karena Jesika memilih untuk mengacuhkannya, mereka menjadi semu dan seolah hilang.

Jesika kini menjadi rajin kuliah. Selain itu, dia juga sudah mau salat meskipun masih seinginnya. Kepercayaannya pada Allah kembali ke hatinya saja sudah sangat kemajuan. Namun, hubungannya dengan Mentari tidak juga membaik. Dia tetap tidak mau berteman baik dengan Mentari. Padahal, tanpa sepengetahuannya dan orang lain, Mentari yang meminta Bima untuk bersikap baik padanya. Hal itu diungkapkan Mentari sewaktu rapat pengurus inti ormada selesai di angkringan Kali Code. Kala itu yang tersisa hanya mereka berdua. “Bim, setahu gue Mentari baru kali ini punya pacar. Jadi, wajar aja kalau dia over protektif sama Lo. Yang sabar ya, baik-baik sama dia. Da, gue pulang dulu.” Mentari mengucapkannya dengan tulus meski sebenarnya dia kasihan sama Bima.

Lihat selengkapnya