Di Mana Badai Sembunyi

Zahid Paningrome
Chapter #1

Bab 1: Badai di Beranda

Sebelum pagi tiba aku melihat ia membersihkan dua kipas angin merk cosmos di beranda rumah bersama ibunya yang masih terlihat cantik meski usianya telah menginjak kepala tujuh. Pria itu melepas baut-baut dari tempatnya, memisahkan bagian-bagian besi dari kipas angin, sedang si ibu bertugas membersihkan debu-debu lalu mencucinya dengan air mengalir dari kran yang terpasang di depan rumah. Keduanya hampir tak saling bicara, nyaris satu jam hingga pria itu merakit kembali dua kipas angin yang sehari-hari sering aku lihat di ruang tamu dan ruang keluarga. Saat pria itu hendak masuk membawa kipas angin terakhir si ibu dengan suara pelan tetap terdengar di antara malam yang sunyi mengatakan sesuatu, tapi pria itu tak menjawab, hanya menatap ibunya beberapa detik lalu masuk membawa kipas angin itu. Beberpa menit setelahnya si ibu menyusul.

Aku bertahan di teras rumahku hingga subuh dan para tetangga berbondong-bondong pergi ke masjid setelah azan terdengar meraung di langit-langit. Aku menghabiskan bungkus-bungkus rokok dan cangkir-cangkir kopi tapi aku tak melihat pria itu pergi dari rumah. Aku bisa menjaminmu bahwa meski gim di ponsel itu menguasai pikiranku, aku tak mungkin alpa jika ada orang yang keluar dari rumah itu. Aku punya mata ketiga yang bisa mendeteksi semua jenis pergerakan di sekitarku. Jadi, aku tak mungkin terlewat satu kejadian pun di rumahnya pada hari itu. Aku orang yang paling bisa kau percaya dalam kasus ini.

“Saya tidak sedang bertaruh siapa yang paling bisa dipercaya. Tapi mendengar kesaksianmu barangkali aku bisa sedikit mempercayaimu.”

“Sedikit?”

“Masih ada celah dari kesaksianmu, saya tidak tahu apakah kamu lupa untuk merangkai karanganmu dengan baik. Atau kamu benar-benar lupa bahwa ada bagian yang terlewat, karena rasanya itu sangat mengganggu pikiranku.”

“Bagian mana? Itu sudah dua tahun yang lalu, dan aku berusaha keras mengingatnya. Sudah tak mampu kuhitung kau orang ke berapa yang menanyaiku ini.”

“Saat tetangga pergi ke masjid, apakah kau melihat pintu itu dibuka?” ia menunjuk pintu di seberang rumah. Terasnya berdebu, tak berpenghuni selama berbulan-bulan. Dedaunan kering dari pohon yang tumbuh di depan rumah jatuh—menyatu dengan debu-debu yang hampir menyelimuti seluruh teras.

“Sekarang aku tahu kenapa kamu akhirnya mengambil kasus ini. Aku tahu kenapa semua orang memintamu menyelesaikannya. Tapi secerdik atau secerdas apa pun dirimu, pria itu selalu ada selangkah di depan, atau mungkin beratus-ratus langkah dari itu. Benar, dia keluar saat tetangga ramai menuju masjid, ia memakai sarung, baju koko dan pecis. Lengkap, tidak mencolok. Seharusnya semua orang tahu itu dia.” 

“Tapi dia tidak sampai masjid?”

“Dia ikut sholat, hanya satu rakaat, saat yang lainnya sujud dia pergi meninggalkan masjid—tidak buru-buru, sangat tenang.”

“Dan kamu melihatnya?”

“Dia berpamitan.”

Saat pagi tiba semua berlalu seperti biasanya. Orang-orang pergi bekerja, anak-anak pergi ke sekolah, terjebak pada segala rutinitas yang bikin sakit kepala. Ibu-ibu menggosip di lapak pedagang sayur keliling yang sebetulnya terganggu karena akhirnya banyak yang hanya menggosip—tidak jadi membeli. Sedang aku seperti kelelawar, baru mulai mencumbui kasurku—tidur sampai azan maghrib terdengar. Bangun dengan mata merah karena mimpi buruk yang tak terbendung. Kadang aku berpikir mungkin hanya aku yang bermimpi saat tidur di tengah hari, karena biasanya mimpi hanya hadir saat malam hari. 

Aku sudah duduk di teras rumah selepas maghrib dengan kopi dan sebungkus rokok sisa kemarin. Baru ingin menyalakan korek untuk rokok tiba-tiba si ibu mendatangiku, ia menanyakan anaknya yang tak kunjung pulang. Aku bilang aku tak tahu. Kupikir subuh itu ia hanya pergi seperti biasa entah ke mana, bukan kabur seperti yang orang-orang bilang. Aku tak melihat raut cemas di wajah si ibu, justru ada semburat cahaya yang aku meyakini hasil dari air wudhu, terlebih ia masih memakai mukena putih dan membawa sajadah di tangan kanannya.

Lihat selengkapnya