“Butuh keahlian khusus untuk mendengarkan cerita orang tanpa melibatkan diri dalam realitasnya. Kebanyakan dari kita sengaja melibatkan diri dan ikut mencampuri realitas mereka, daripada memahami makna cerita dan mengapa itu disampaikan, banyak orang lebih memilih untuk memberi penilaian moral daripada cukup dengan mendengar. Barangkali memang benar mendengar adalah hal paling sulit yang bisa dilakukan manusia. Sejak Adam dan Hawa dijatuhi hukuman karena tak mendengarkan larangan untuk memakan buah yang pada akhirnya membuatnya hidup di bumi dan melahirkan anak-anak yang sama bebalnya. Sama-sama tak mampu menjadi seorang yang taat—seorang pendengar yang baik.”
Ia menuliskan itu di buku kuliahku sehari sebelum kami memutuskan untuk berpisah. Aku tak pernah betul-betul paham dengan jalan pikirannya. Ia bisa menjadi menyebalkan sekaligus meyenangkan dalam sekali waktu. Bahkan malam itu kami masih berhubungan seks berulang kali sampai aku harus berganti baju tiga kali—ia sangat jago memuaskanku. Terlebih lagi ia menganggap seks adalah sesuatu yang sakral, jadi setiap kami bersetubuh, baginya adalah persetubuhan terakhir sebelum kematiannya. Dia memperlakukanku seperti ratu, pelan dan sopan. Aku hampir tak pernah membuka mata saat ia mencumbuiku.
Aku nyaris bahagia, ia tak pernah sekalipun marah atau jengkel karena kelakuanku seperti anak kecil, ia bahkan seperti ibu yang memperlakukan anaknya dengan hati-hati. Aku suka caranya menatapku, aku suka caranya tersenyum, aku suka caranya menggunakan kata-kata—seperti disusun dengan hati-hati. Terlebih aku suka saat ia mengelus lembut rambut dan tanganku. Ia pria sempurna yang pernah kutemui—ia sempurna melebihi ayahku.
Ia yang membeli rak-rak buku di kamarku, ia juga yang mengisinya dengan buku-buku. Dulu aku sama sekali tak suka membaca. Karena dia, aku jadi suka menghabiskan buku-buku—membacanya hingga larut malam, sampai lupa membalas pesannya; ia tak memasalahkan hal itu. Saat kutanya kenapa ia bisa begitu tenang karena pesannya tak cepat kubalas, ia hanya menjawab dengan kata-kata yang indah, “Sungguh aku ingin menikahimu, saat kau mengaku lebih suka mencumbui buku-buku daripada aku,” ia mengatakan itu di depan mataku, dengan senyum dan tatapan yang indah.
Hanya satu yang tak aku suka dari dirinya; ia lebih memilih menjadi pasif. Ia lebih banyak diam. Aku paham mengapa dia bisa menjadi begitu diam setelah lulus SMA. Ia banyak melewati hal-hal berat yang tak terduga, hal-hal yang seharusnya tak ia terima saat umurnya belum menginjak tujuh belas tahun. Ia lebih suka saat kami saling diam dan hanya saling tatap atau bertukar senyum. Atau mendengarkan musik dari earphone yang sama. Aku suka menggambar, ia suka menulis, ia sering menulis tentang gambar ilustrasi yang kubuat, kadang ia jadikan cerpen, lebih sering ia buat jadi puisi. Aku juga begitu, suka membuat ilustrasi dari cerpen atau puisi indah yang ia tulis.
Aku menikmati saat-saat di mana kami berdiam diri di dalam kamar tidurku seharian, ia menulis cerita dari kisah nyata teman-temannya yang sering ia dengar tiap kali mereka menelponnya. Pernah beberapa kali aku melihatnya mendengarkan curhatan temannya yang baru saja putus, ia mendengarnya lewat earphone, di saat yang sama ia memegang pena—menulis di sebuah jurnal saat itu juga. Jurnal yang berisi semua tulisan dan curhatannya, jurnal itu sangat ia jaga baik-baik. Bahkan aku tak bebas membuka dan membacanya. Ia hanya akan memberikan izin untuk aku membacanya pada saat ia baru selesai menulis dan ia memintaku menjadi pembaca pertama. Hanya di beberapa puisi dan cerpen.
Ia seperti bom waktu, tapi justru ledakannya selalu kutunggu. Wanita sepertiku tak butuh penampilan cool atau grande, meski ia adalah orang yang pasif ia justru tak pernah diam saat kami berdebat, ia selalu menjawab argumenku, aku tak marah, argumennya selalu mematahkan argumenku dan lebih sering rasional, bukan berdebat hanya untuk menang. Aku banyak belajar darinya, Ia yang selalu ada saat aku butuh seseorang untuk cerita, mencurahkan seluruh perasaan dari yang paling suram sampai yang paling bahagia. Dan ia tak pernah pura-pura, ia selalu jujur, tak pernah menutupi apa yang dirasa.