Aku selalu berharap, di dalam tubuh tumbuh ibu. Ketika semunya jadi tanpa arti kita tegar menghadapi, ketika kematian semakin mendekat kita tak risau karena telah melahirkan semua yang baik untuk dunia—untuk semesta. Aku berharap di dalam tubuh tumbuh suasana romantis yang ketika orang bertanya mereka selalu nyaman dan tenang saat mendapat jawabannya, suasana yang tak pernah terpikiran saat emosi meluap hanya karena kita lepas dari pandangan orang-orang, kita tak tersentuh—tak terlihat siapa pun, meski jarak kita hanya sejengkal dari pandangan. Aku berdoa setiap malam, di dalam tubuh tumbuh suara-suara alam, yang menebarkan ketenangan dan aroma melegakan, supaya orang-orang merasa nyaman dan tenang setiap kali berada di sekitar. Lalu mereka mejelma menjadi makhluk paling menyenangkan, dan mampu membuatku senang.
Ketika manusia dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama sulit, kita membangun mekanisme yang sama-sama sulit dilemahkan, kita otomatis menjadi manusia paling protektif, mekanisme yang lahir dari pergulatan lingkungan yang membawa kita pada titik lemah—titik di mana semua orang tak mau menjangkau, kita tak mampu melihat diri sendiri ada di jurang tempat segala penyesalan membakar diri di dasar yang gelap dan pengap. Lalu saat kita berada di antara pilihan yang mudah dan sama-sama baik, kita tetap menjadi bingung untuk memilih. Kita tak ingin melepas salah satu, dan berpikir jika bisa mendapatkan dua-duanya mengapa salah satunya harus menerima nasib untuk ditinggalkan, menjadi tak populer karena tak dipilih.
Pikiran-pikiran menggema di dalam tubuh yang kosong, saat semunya datang dan kita belum siap memilih mana yang pasti dan mana yang perlu ditinggal jauh-jauh. Aku kadang berpikir tentang taman kanak-kanak tempat rasa bahagia berkumpul dan bersenggama di luar rumah. Tawa yang ada seketika tertular lalu mengular ke mana-mana. Tapi tetap ada yang kita pertanyakan dalam hati—dalam pikiran. Tentang bagaimana hidup membentuk manusia dari pergulatan yang sulit diselesaikan. Kita bingung untuk merenungkan segala yang menjadikan kita utuh di kedalaman dunia yang makin hari makin menelan kita mentah-mentah. Entah, aku masih saja bingung dari semua yang kupikirkan; aku tak mendapat apa-apa. Hanya kegelisahan yang hidup lama—tanpa diganggu, apalagi digugat.
Saat aku kira semuanya terkendali dengan baik, aku justru merasa ia tak cukup terkendali, hingga akhirnya aku tak menduga itu telah lama lepas kendali. Aku tak sadar ketika mulai muncul pertanyaan di dalam kepala, kenapa kendali tak sepenuhnya menjadi bagian dari hak kita. Terlalu banyak orang ikut campur pada sesuatu dalam hidup yang seharusnya bisa kita kendalikan sendiri, tanpa perlu meminta izin dari siapa pun, tanpa perlu meminta orang lain melihat dan memengaruhi segala pilihan yang coba kita ambil. Aku bingung, tetap menjadi bingung, tambah menjadi bingung karena tak semuanya benar-benar membantu, kadang mereka hanya singgah sebentar—saat semuanya dirasa cukup, kita ditinggalkan dengan segala pertanyaan yang menggema di dada, kita kembali sendiri, kembali bertanya “Kenapa ini belum juga usai?”