Di Mana Badai Sembunyi

Zahid Paningrome
Chapter #4

1:4

Kita bertemu di sisa gerimis sore itu, aku memegang sebuah kamera dan diam-diam mengambil gambarmu, potret yang Indah dengan terusan dongker dan senyum yang merekah juga tawa yang renyah menggemaskan. Saat itu aku memikirkan tentang taman bunga yang lucu, di sana tak hanya tumbuh warna-warni bunga yang merona, ada cinta yang tumbuh di antara dua manusia yang duduk menikmati semilir angin dan bicara tentang anjing-anjing mereka yang menggemaskan, atau tentang mantan kekasih yang bikin kita gila—melupakan ternyata tak semudah itu. Kita butuh orang lain untuk melupakan yang lainnya.

Lalu tiba-tiba kamu menangkap mataku, tubuhku kaku, lidahku kelu. Kupikir saat itu kamu menangkapku yang diam-diam memotretmu, jantungku berdebar lebih kencang seperti badai di laut selatan saat musim hujan tiba, atau seperti awan hitam pekat yang memuntahkan hujan deras malam hari, saat semuanya telah terlelap di kasur empuk penuh hangat. Kamu datang dengan senyum yang mematikan nalar, mematikan ingatan tentang orang-orang lama yang datang hanya untuk pergi. Aku sepakat untuk membuka hati di detik saat kamu memintaku mengambil gambarmu—memotret keindahan yang ada di depan mata.

Saat itu terjadi aku merasa seperti sebuah gasing yang berputar cepat dan pelan-pelan berhenti lalu jatuh, tatapanmu menenangkan debarku, sentuhanmu pada pundakku menggetarkan seluruh tubuhku. Kamu bilang dirimu tak cantik di foto itu—kupikir kamu melakukan kesalahan fatal, bahwa hari itu kamu yang tercantik, dan aku sepakat adalah semesta yang membuka jalannya waktu, dan detik itu semua tampak melambat, kamu pergi, mengucapkan terima kasih, tapi rasanya aku hilang diri. Di tempat yang sama tubuhku masih berdiri, tapi ingatanku mengikuti ke mana pun kamu pergi.

Kamu tak percaya cinta pada pandangan pertama, agaknya kita sama. Tapi aku tak sepenuhnya percaya, sore itu semua narasi yang dibangun sejak dulu runtuh seketika. Ada sekat yang runtuh setelah dibangun bertahun-tahun oleh peluh keringat—tentang ingatan yang lama dipendam bebas, sembunyi di antara badai malam di tengah lautan tenang. Sebentar, aku perlu meralat ucapanku; aku yang sengaja meruntuhkan sekat itu, tembok tinggi yang dulu dibangun karena tak lagi percaya pada manusia. Lalu memilih diam, memilih berlagak baik-baik saja padahal perasan hancur seketika. 

Sore itu aku puas, pulang dengan senyum penuh rona dan tawa bahagia, meski hanya bertemu dan tak berani mengenal lebih dulu, aku cupu soal itu. Aku tak punya keahlian untuk memulai percakapan lebih dulu, meski teman-temanku bilang, aku ahlinya. Nyatanya bertemu kamu narasi itu hancur lebur dalam hitungan detik, aku tak paham mengapa aku tak punya kuasa pada tubuh dan pikiranku. Seolah semua menjadi pertimbangan yang berat untuk dipilih, atau memang aku hanya pria lemah, tak paham bagaimana menerjemahkan apa yang ada di dalam hati. Karena itu aku menulis ini.

Namun, memang tak pernah ada kisah cinta yang mulus, kita sengaja dibuat memerah di awal, lalu menjadi perih di akhir. Saat kutahu kamu sedang berada di dalam kekacauan hubungan yang buatku menggelikan, aku menyebutnya kekacauan karena kamu tak mampu mengambil sikap. Lelaki yang lebih dulu masuk ke duniamu, merawat hatimu, menyembunyikan perasaannya hanya untuk tak membuatmu ilfil lalu menjauh karena kamu hanya menilai mereka semua sebatas teman bermain. Ketika aku tahu itu, aku berdoa dalam diri, semoga yang telah lama memelihara perasaanmu kalah oleh aku yang baru masuk duniamu.

Bahkan aku mendekatimu dari seorang teman yang diam-diam sering mengisi ruang di ponselmu, saling bertukar pesan yang bahkan tak boleh kulihat pesan apa itu—dan obrolan apa yang sedang kalian hangatkan. Kupikir kamu sedang jatuh cinta, pikiranku menguat—sikap apa yang perlu kupilih. Menjadi tenang dan membiarkanmu masuk sendiri dengan rasa penasaran yang mengganggu kepala, atau menjadi agresif dan membiarkanmu menghapus semua yang ada lebih dulu. Tapi aku tak memilih keduanya. Aku lebih suka melihat kamu apa adanya, dan karena itu aku juga perlu menjadi apa adanya. 

Aku benci menceritakan ini, tapi kisah cintaku tak pernah berhasil sejak yang terakhir membuatku lepas kendali, karena ditinggal mati oleh yang kamu kasihi ternyata membuatku ikut mati. Sayangnya kamu tak berniat memahamiku, tak punya niat mensyukuri siapa yang datang ke duniamu, atau memang aku yang terlalu percaya diri bahwa hubungan ini punya jalannya sendiri. Lalu kupikir mungkin kamu memilih pria lain, yang lebih membuatmu nyaman, lebih masuk dalam standard yang kau buat. Aku selalu benci standard, aku benci tipe, aku benci, karena semua itu membunuh imajimu, membunuh pikiranmu, membunuhmu dari dalam.

Lihat selengkapnya