Aku selalu melibatkan diri pada segala emosi yang ada di dalam hati. Itu mengapa kamu menyebutku orang yang paling keras kepala. Bukan hanya yang ada di dalam diri, aku juga ikut melibatkan emosi pada tubuh orang lain. Aku hanya ingin membentuk sifat yang tak ada pada orang lain, saat orang lain memaksa kamu menunggu, aku tidak akan membuatmu menunggu bahkan hanya untuk satu detik. Saat orang mampu seenaknya membuatmu sedih, aku tidak akan melakukannya. Saat orang-orang membuatmu marah, aku hanya akan bersiap saat kamu datang dan menceritakan semuanya. Aku keras kepala untuk membuatmu nyaman, untuk membuatmu tahu makna pulang, saat semuanya hanya bisa membuatmu kecewa, kamu melihatku sebagai rumah.
Sayangnya, kita semua terjebak dalam aturan-aturan tak menyenangkan yang membuat kita menampilkan sosok lain, bukan yang asli, bukan yang pasti. Kenyataanya kita bukan robot, kita tidak menurut pada sistem algoritma tertentu. Barangkali detik ini kita bilang satu hal, lalu berubah bilang lain hal kemudian. Benar katamu, manusia terjebak pada eksistensinya, kita terjebak pada obsesi-obsesi, dan juga waktu.
Kita harus bisa terima bahwa jawaban dari perasaan cinta bukan hanya penerimaan. Penolakan juga bentuk jawaban yang harus sepenuhnya kita terima, meskipun pahit. Kita sengaja dibuat mati, sebelum semuanya jadi punya arti, kita dibiarkan hidup kembali justru saat ketakutan-ketakutan mulai merasuki. Kita menghilang dari yang lain lalu berharap ditemukan, tapi menolak memberi kisi-kisi.
-----
“Sepertinya dia memang tak mau ditemukan, tapi kita semua mencarinya. Lebih dari dua tahun. Kupikir ini semua sudah selesai. Lalu kamu datang, membuka penyelidikan sekali lagi. Aku justru sudah melihat bagaimana akhirnya.”
“Kalau akhir yang kamu lihat adalah gagal sekali lagi, aku yakin kamu salah.”
“Justru sebaliknya.”